Kegundahan para Ibu Tentang Berakhirnya Masa WFH. Nggak Mudah Ninggalin Anak di Masa Pandemi!

Kegelisahan ibu kala pandemi

Entah harus memulai dari mana, kala semuanya serba mendadak alias tanpa permisi. Masa pandemi seolah menguras segala pikiran dan energi. Lelah, itulah salah satu hal yang dirasakan para ibu yang masa WFH (work form home)-nya mulai berakhir. Di satu sisi ada rasa gembira, di mana akhirnya bisa kembali produktif bekerja senormal-normalnya, namun di lain sisi ada kekhawatiran nggak terbendung tentang bagaimana nasib anak balitanya yang harus ‘dititpkan’ di daycare atau pre school.

Advertisement

Menurut beberapa pemberitaan yang beredar, sudah banyak daycare atau pre school yang tutup dan belum mulai beroperasi sementara masa WFH mulai berakhir. Belum lagi, kalau sama sekali nggak ada yang dimintai bantuan untuk menjaga anak, baik mertua atau saudara.

Rasanya ingin resign saja dari kerjaan, tapi apa bisa membiasakan diri dengan kondisi finansial dan omongan dari orang sekitar?

resign?? – credit: freepik.com

Sejuta pertanyaan mengelilingi kepala, sembari menghitung hari di mana masa WFH akan segera berakhir. Alih-alih merancang plan A dan plan B, kepala semakin berat dan nggak fokus melakukan apa-apa. Resign jelas memberatkan, terutama jika kondisi finansial masih jauh dari kata mapan. Beruntung jika perusahaan tempatmu bekerja masih fleksibel memberikan jatah ‘remote’ bagi yang sudah berkeluarga, tapi bagaimana dengan yang nggak memungkinkan untuk mendapatkannya?

Tiap hari rasanya ingin marah, uring-uringan dan berujung debat dengan suami. Siapa yang bisa disalahkan kalau sudah begini?

rencana A, B, C – credit: freepik.com

Kondisi sekarang ini jelas nggak mudah bagi siapa saja, khususnya bagi para suami-istri. Bukan hanya persoalan finansial yang sedikit banyak telah mengalami perubahan, tapi juga masalah hati yang makin hari susah ditebak maunya apa. Sebagai ibu, mungkin kamu juga paham bahwa nggak mudah menerima kenyataan nggak bisa ke mana-mana, anak rewel dan susah makan, ditambah komunikasi dengan suami yang kian rumit saja.

Advertisement

Solusi terbaiknya memang belum tercetus, selain harus bersabar dan membesarkan hati bahwa tempat berpulang yang paling bisa diandalkan adalah keluarga kecilmu sendiri.

Meminta tolong mertua atau saudara mungkin bisa jadi opsi, tapi apa iya hatimu bisa menerima kalau ada masalah yang nggak terprediksi?

mertua atau ipar – credit: freepik.com

“Kok ribet, titipin aja anakmu ke mertua atau iparmu. Selesai!”

Advertisement

Kelihatannya memang seperti hembusan angin segar saat ada yang menawarkan saran demikian. Tapi, pernahkah kamu tahu bahwa nggak semua mertua apalagi ipar itu berhati malaikat? Maaf jika salah, tapi yakinlah bahwa kamu tetap orang lain di mata mereka meski sudah kenal cukup lama. Sebulan, dua bulan pertama mungkin nggak jadi masalah, tapi tentu akan timbul komentar demi komentar yang kamu terima seperti,

“Ternyata anakmu makannya nggak doyanan, ya. Susah banget disuapinnya. Ibu kan udah tua, capek lo kalau harus nyuapin sambil lari-lari!”

“Anakmu menolak pakai pampers nih, tapi ibu nggak mau kalau dia ngompol terus di kasur!”

Rasanya ingin mengelus dada, walau dalam hati kecilmu jelas memendam rasa kesal, bukan? Oh ya, pernyataan tadi bukan terinspirasi dari dialog dalam sinetron, ya. Percayalah, ada kok hal-hal menyebalkan seperti ini di dunia nyata 🙂

Tapi sekali lagi, nggak semua mertua atau ipar yang seperti itu. Ya, namanya juga kegelisahan, sudah pasti hal-hal negatif saja kan yang terlintas di pikiran?

Ambil hikmahnya saja ya dari tulisan ini. Nggak ada niatan menyindir atau bahkan memanas-manasi, justru tujuannya ingin sama-sama mencari solusi. Yuk, share komentarmu di bawah!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang makmum yang taat :)

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE