Sulitnya Jadi Orang Tua Aktivis Remaja Seperti Greta Thunberg. Bangga sih, Tapi Banyak Takutnya!

orang tua greta thunberg

Saat mendengar nama Greta Thunberg, kamu mungkin nggak merasa asing. Ia adalah seorang aktivis muda yang naik pamornya sejak aksinya berunjuk rasa di depan gedung parlemen Swedia pada Agustus 2018 untuk isu perubahan iklim di usia 15 tahun. Karena aksinya itulah, jutaan orang akhirnya tergerak untuk melakukan hal serupa. Sejak saat itu ia menjadi sosok yang sering terlihat karena keberaniannya, mulai dari menjadi pembicara di konferensi tingkat tinggi PBB, menjadi Person of The Year majalah Times, hingga mendapatkan nobel alternatif tahun 2019 lalu.

Advertisement

Mungkin sekilas bagi kebanyakan orang, hal tersebut merupakan sesuatu yang membanggakan karena usianya yang masih muda namun sudah memiliki pengaruh yang besar. Namun hal ini sepertinya nggak mampu dirasakan oleh orang tua Greta. Bahkan ayahnya mengakui bahwa ia tak begitu mendukung anaknya. Jadi sebenarnya apa yang terjadi pada Greta dan orang tuanya? Simak selengkapnya berikut ini!

Sebelumnya Greta ternyata sempat mengalami depresi hingga bertahun-tahun, bahkan ia mengalami mogok makan dan mogok sekolah

Bertahun-tahun depresi/ Credit: Portugal News via portugalinews.eu

Dilansir dari CNN, Greta ternyata pernah berhenti berbicara dengan orang lain, berhenti makan, dan berhenti berangkat ke sekolah. Hal ini terjadi cukup lama lo, ia berhenti sekolah selama satu tahun dan nggak mau makan selama 3 bulan. Ayahnya yang merupakan seorang aktor dan penulis bernama Svante Thunberg menganggap hal ini adalah mimpi buruk bagi setiap orang tua. Ternyata Greta juga mengalami Asperger Syndrom sebuah gangguan pertumbuhan namun justru dideskripsikan sebagai sebuah hadiah dan superpower.

Ayah dan Ibu Greta melakukan perubahan dengan menjadi orang yang lebih peka terhadap perubahan iklim, namun ini semua demi sang anak

Berubah karena anak/ Credit: Telegraph via www.telegraph.co.uk

Keluarga ini akhirnya mendiskusikan mengenai perubahan iklim dan Greta ternyata sangat bersemangat. Akhirnya untuk membantu kesembuhan anaknya, pasangan Svante Thunberg dan Malena Ernman yang merupakan orang tua Greta melakukan perubahan. Ayahnya menjadi vegan dan sang ibu berhenti bepergian dengan pesawat walaupun sebelumnya hal tersebut sering dilakukan karena profesinya sebagai penyanyi opera Swedia. Tapi pasangan ini mengaku bahwa mereka bukan melakukan ini demi lingkungan, melainkan demi anak perempuannya.

Advertisement

Sebenarnya walaupun hal ini terlihat membanggakan, ayah Greta sempat tak mendukung anaknya menjadi seorang aktivis

Membuat cemas/ Credit: MalayMail via www.malaymail.com

Setelah menjadi seorang aktivis, Greta mungkin tampak lebih bahagia, namun ayahnya tetap memiliki kecemasan akan hal ini. Jika kebanyakan orang akan berpikir bahwa anaknya adalah seseorang yang spesial, terkenal, dan lain sebagainya, baginya Greta tetaplah anak remaja biasa. Tapi sejak aksinya yang viral, Greta mendapatkan persekusi daring. Ia mendapat komentar kasar terkait penampilannya, baju, hingga sikapnya yang berbeda. Wajar saja kalau sang ayah khawatir dengan berita-berita bohong, sesuatu yang mengada-ada, dan kebencian yang timbul. Untuk itu sebenarnya ayahnya juga tidak begitu mendukung anaknya menjadi seorang aktivis garis depan seperti sekarang.

Meskipun tak begitu mendukung, namun sang ayah tetap menemani sebuah ekspedisi dan berjanji akan selalu ada jika sang anak butuh

Ekspedisi/ Credit: Telegraph via www.telegraph.co.uk

Svante menemani Greta dalam sebuah ekspedisi menaiki kapal ke New York dan Madrid. Ia menolak naik pesawat karena dampaknya terhadap lingkungan. Namun ia berkata bahwa saat Greta berusia 17 tahun, ia nggak akan menemani anak perempuannya itu lagi untuk bepergian. Meskipun demikian, ia tetap akan selalu ada jika Greta membutuhkan bantuan.

Saat memiliki anak dengan asperger dan memiliki tingkat kekritisan yang cukup tinggi, orang tua perlu tahu cara benar untuk membimbingnya

Advertisement

Besrsama ibu/ Credit: Telegraph via www.telegraph.co.uk

Greta menderita asperger yang merupakan salah satu gangguan spektrum autisme. Dilansir dari Alo Dokter, hal ini pula yang mungkin menyebabkan ia memiliki kecerdasan dalam berbahasa namun canggung dalam berkomunikasi. Agar berhasil, orang tua Greta membiarkan anaknya menjadi seorang aktivis hingga ia mau kembali makan dan mengobrol dengan wartawan. Sedangkan menurut pakar, orang tua bisa membawa anak untuk terapi bahasa, fisik, okupasi, dan perilaku kognitif. Selain hal-hal tersebut, orang tua juga bisa membawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat.

Walaupun orang tua Greta terlihat mendukung penuh anaknya serta memiliki kebanggaan karena perubahan yang dibuat, namun ada kecemasan-kecemasan yang timbul dari dalam diri apalagi yang dihadapi adalah tokoh penting dunia.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE