Sejak beberapa waktu lalu, linimasa saya penuh dengan tagar #SaveSriwedari. Tagar ini adalah bentuk perhatian dan dukungan netizen asal kota Solo pada kasus sengketa lahan Sriwedari. Lahan seluas 9,9 hektare yang merupakan kawasan cagar budaya di Solo ini kini menjadi “rebutan” kelompok perseorangan yang mengaku sebagai ahli waris dan pemerintah.

Sebagai warga Solo, saya pribadi mungkin tak seberapa paham soal hukum sengketa lahan ini. Tapi sebagai anak muda yang lahir, tinggal, dan tumbuh di Solo – tentu saya punya memori tersendiri. Banyak kenangan yang tertinggal di sana. Setiap jengkal tanahnya menyimpan nostalgia. Pasti bukan cuma saya, kamu yang pernah menjejak kota Solo mungkin merasakan hal yang sama.

Yang paling diingat dari kawasan ini adalah Stadion Sriwedari. Selain nonton bola, kamu mungkin pernah menyaksikan konser band favoritmu di sana.

Stadion Sriwedari via www.asliindonesia.net

Sempat berganti nama menjadi Stadion R. Maladi, nama Stadion Sriwedari akhirnya dikembalikan lagi. Tak bisa dipungkiri, nama stadion ini memang memiliki nilai sejarah tinggi. Berdiri sejak tahun 1932 silam, Stadion Sriwedari dipilih menjadi tempat dilangsungkannya Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada 9 September 1946. Stadion ini pula yang pernah menjadi markas bagi klub-klub sepak bola seperti Arseto Solo dan Persis Solo.

Kamu yang orang Solo asli atau pernah tinggal di Solo pastilah pernah setidaknya mampir ke stadion ini. Entah nonton pertandingan bola, nonton konser band favoritmu, atau sekadar duduk-duduk di pelatarannya yang memang teduh dan nyaman.

Kamu juga akan menemukan bangunan bersejarah lainnya. Museum Radya Pustaka kabarnya adalah museum yang tertua di Indonesia.

Advertisement

Museum Radya Pustaka via www.skyscrapercity.com

“Hayo… Siapa yang waktu sekolah dulu paling malas kalau dapat tugas karyawisata ke Museum Radya Pustaka?”

Sebagai warga Solo, kamu sebenarnya justru boleh berbangga karena di kotamu terdapat museum yang tertua di Indonesia. Radya Pustaka sudah dibangun sejak 28 Oktober 1890 silam. Museum ini menyimpan buku-buku budaya dan pengetahuan sejarah, seni dan tradisi serta kesusastraan baik dalam bahasa Jawa Kuno maupun Bahasa Belanda. Di tempat ini pula kamu akan menemukan berbagai koleksi keris kuno, senjata tradisional, gamelan, wayang kulit, wayang beber, koleksi keramik dan berbagai barang seni lainnya.

Kamu adalah saksi perubahan Sriwedari. Bangunan gerbang yang lama kini sudah berganti wajah, bahkan ditambah dengan adanya Plaza Sriwedari.

Plaza Sriwedari via surakarta.go.id

Dulu, “wajah” Sriwedari memang belum seperti yang sekarang. Sedikit demi sedikit, “wajah” Sriwedari sebenarnya sedang mulai diperbaiki. Mulai dari tampilan gerbang depan yang diperbaharui hingga dibangunnya Plaza Sriwedari.

Dijadikan sebagai area publik, warga Solo biasanya menggunakan panggung di tempat ini untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang kaitannya dengan kesenian. Dilengkapi juga dengan fasilitas internet, Plaza Sriwedari kini jadi pilihan warga Solo khususnya anak muda untuk “nongkrong-nongkrong cantik” sambil menikmati suasana.

Begitu memasuki gerbang Sriwedari, kamu akan disambut sebuah bangunan pendopo yang tak pernah sepi.

Pendopo Sriwedari via jkt48cafe.com

Ya, pendopo yang satu ini memang tak pernah sepi. Sebagai publik area, banyak orang memanfaatkan pendopo ini seharinya-harinya. Ada yang berkesenian dan ada pula yang iseng sekadar duduk-duduk menikmati sekitarnya atau bahkan sejenak numpang tidur saat matahari sedang kejam-kejamnya. Kamu mungkin pernah bergabung di sanggar tari yang rutin berlatih di pendopo ini, pernah ikut lomba baca puisi, atau terlibat dalam event-event budaya lainnya yang sering digelar di sini.

Punya hobi nonton film? Di Sriwedari pernah ada bioskop yang bernama Solo Theatre.

Gedung Kesenian Solo via juanakusenja.blogspot.co.id

“Ibu, aku pokoknya pengen nonton Petualangan Sherina.”

“Iya. Nanti kita ke Solo Theater aja.”

Anak Solo generasi 90-an dan sebelumnya pasti awam dengan bioskop yang berlokasi di kawasan Sriwedari ini. Yup! Solo Theater adalah salah satu bioskop yang jadi sasaran anak-anak muda yang gemar menonton film ketika itu. Sayangnya, Solo Theater akhirnya tutup setelah munculnya bioskop-bioskop baru. Daripada mangkrak tak terawat, gedung bekas bioskop ini kini difungsikan menjadi Gedung Kesenian Solo (GKS) sehingga bisa bermanfaat bagi orang banyak

Lebih dari 100 tahun manggung, GWO adalah momen perkenalan pertamamu dengan kesenian wayang orang.

Kesenian Wayang Orang di Sriwedari via www.gettyimages.com

Kamu yang besar dan tumbuh di Solo, setidaknya sekali pasti pernah menonton pertunjukkan wayang orang di Sriwedari. Entah menonton bersama guru dan teman-teman sekolah atau orang tuamu, di tempat inilah perkenalan pertamamu dengan kesenian wayang orang.

Anak-anak kecil yang baru pertama kali menonton wayang orang biasanya sedikit takut lantaran banyaknya pemain yang mengenakan make-up. Kisah yang dipentaskan pun terbilang sulit dipahami oleh anak-anak kecil. Alhasil, waktu dulu nonton wayang orang, kamu malah ngantuk lalu ketiduran.

Yey, liburan sekolah tiba! Saatnya pergi ke THR untuk menjajal mobil senggol dan wahana mandi bola.

Taman Hiburan Rakyat via www.panoramio.com

“Ma, aku juara 1 di kelas.”

“Wah, anak Mama pintar. Mau hadiah apa? Main ke THR aja, ya?”

THR (Taman Hiburan Rakyat) adalah favorit anak-anak di Solo. Saat musim liburan atau ketika akhir pekan, tempat ini ramai dikunjungi anak-anak yang diantar orang tuanya. Meski tak se-keren Dufan, wahana permainan di sini cukup lengkap kok. Tiket masuk dan jajanan yang tersedia di sini juga terjangkau dari segi harga. Saat SD dulu, momen paling menyenangkan adalah ketika berhasil meraih juara kelas dan mendapat tiket gratis masuk THR sebagai hadiahnya.

Oh iya, para penggemar lagu-lagu lawas Koes Plus hingga lagu-lagu dangdut juga bakal terhidur di THR Sriwedari lho Pasalnya, setiap minggunya ada jadwal manggung khusus untuk artis-artis yang membawakan musik itu.

Mainan-mainan anak zaman dulu yang sudah jarang dijual di toko juga bisa kamu temukan di sini.

Toko mainan-mainan lawas via terasolo.com

Bersebelahan dengan pintu masuk THR di kawasan Sriwedari terdapat warung-warung kelontong yang juga menjual berbagai jenis mainan anak. Kuda-kudaan dari anyaman bambu, dakon atau congklang, hingga lukisan dan kerajinan tangan bisa kamu temukan di sini. Sejenak menyambangi toko-toko mainan sederhana ini akan membuatmu mengenang masa lalu. Masa dimana kamu masih menggunakan mainan-mainan tradisional dan belum mengenal gadget atau permainan digital.

Selain bangunan bersejarah, kantor Dinas Pariwisata Solo pun berlokasi di Sriwedari.

Kantor Dinas Pariwisata via allaboutpariwisatadunia.blogspot.co.id

Punya pengalaman terlibat dalam event-event budaya di kota Solo? Jika iya, setidaknya kamu pernah mampir ke kantor Dinas Pariwisata Solo yang letaknya “nyempil” di kawasan Sriwedari ini. Selain itu, pusat informasi bagi turis lokal dan mancanegara yang bertandang ke Solo juga bisa didapat di sini.

Kamu mungkin belum punya memori tentang dia. Tapi jika sengketa Sriwedari terus berlanjut, gimana nasib gedung bakal Museum Keris ini ya?

Museum Keris via www.skyscrapercity.com

Berbeda dengan THR atau GWO, bangunan bakal Museum Keris ini mungkin belum kamu akrabi. Pasalnya, Museum Keris memang baru ditargetkan rampung dan bisa beroperasi pada akhir tahun 2015 mendatang. Menelan dana sebesar 20 miliar dengan ratusan keris yang siap dipamerkan, bagaimana nasib gedung ini selanjutnya ya?

Kawasan Sriwedari boleh dibilang lengkap. Sampai gedung pertemuan yang biasanya buat nikahan pun ada juga.

Gedung Graha Wisata via anasuciana.blogspot.co.id

*Temen SD nikah di Graha Wisata

*Pameran buku di Graha Wisata

*Festival clothing di Graha Wisata

*Pameran elektronik di Graha Wisata

Ya elah, kayak nggak ada gedung lain aja… 🙂

Inilah salah satu yang terkenal dari Sriwedari. Pusatnya pigura, lukisan, sampai mahar dan kaligrafi.

Toko-toko pigura via terasolo.com

Jika di sisi Baratnya ada Museum Keris, di sisi Timur Sriwedari terdapat sebuah kompleks penjualan pigura. Berderet toko-toko di kompleks ini menyediakan beragam jenis pigura, kaligrafi, lukisan, hingga keperluan untuk mahar.

“Kalau saya, pernah waktu kecil ikut lomba gambar dan minta beli pigura di sini. Supaya hasil gambaran saya yang gak seberapa bagus itu bisa dipajang di rumah. Hehehe.”

Kawasan Sriwedari juga jadi sasaran kalau kamu lagi kelaparan dan butuh makan.

Warung-warung di kawasan Sriwedari via andikaawan.blogspot.co.id

Mau makan di wedangan? Ada.

Mau “nyusu”? Ada.

Mau “nyate”? Ada.

Mau ke restoran yang agak fancy? Ada juga.

Mau mie ayam kaki lima? Ada banget.

Sekitaran kawasan Sriwedari memang bisa diandalkan kalau kamu lagi kelaperan tapi bingung mau makan apa!

Ingat zaman sekolah dulu? Kalau butuh buku, langsung ke toko buku “Busri”!

Toko buku “BUSRI” via zabidimustaq.wordpress.com

Orang Solo mengenal tempat ini dengan sebutan TB “Busri” yang diambil dari kepanjangan Toko Buku “mBuri Sriwedari” (belakang Sriwedari). Hampir mirip dengan bursa buku murah di kota-kota lain, toko buku Busri sudah terkenal murah. Baik buku bekas maupun yang baru bisa ditemui di sini. Asalkan, kamu nggak malas mencari dari satu toko ke toko lainnya.

Sriwedari adalah ruang ekspresi, juga “rumah” bagi banyak komunitas di kota Solo.

Tempat berbagai komunitas via photo.sindonews.com

Berada di jantung kota Solo, keberadaan Sriwedari memang tak bisa diremehkan begitu saja. Tempat yang layak disebut sebagai cagar budaya ini adalah ruang ekspresi bagi banyak orang, khususnya warga Solo. Berbagai komunitas juga “tinggal” di kawasan Sriwedari. Selain ada para penggemar musik Koes Plus, Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI), dan berbagai komunitas lain seperti teater dan tari juga ada di Sriwedari.

Yang pasti, ada ratusan orang yang menggantungkan hidupnya di tanah Sriwedari. Penjual buku, seniman, tukang parkir, penjual nasi, dan masih banyak lagi.

Selamatkan Sriwedari via nuruladilahabdulrahim.blogspot.com

Sriwedari tak hanya memberikan ruang bagi warga Solo untuk berekspresi atau menikmati hiburan dan seni. Di tempat ini pula, ada ratusan orang yang menggantungkan kehidupannya. Ada puluhan penjaja makanan yang berjualan di Sriwedari tepatnya saat Car Free Day. Ada pula bursa mobil bekas yang digelar di sana setiap Minggu-nya.

Dan entah bagaimana nasib Sriwedari selanjutnya, hukum yang akan mengaturnya. Semoga saja pihak pemerintah dan ahli waris dapat menemukan jalan tengah. Yang pasti, warga Solo tentu berharap semua pihak bisa bersikap bijaksana.

Jangan sampai lahan Sriwedari dialihfungsikan seenaknya. Jangan sampai isu-isu soal “menjual warisan budaya” atau “menjual aset negara” itu terbukti kebenarannya. Bagaimana pun, Sriwedari harus tetap jadi ruang terbuka, dan jadi ruang bagi kesenian dan budaya.

“Kami meyakini, Sriwedari adalah warisan leluhur kami yang layak dipertahankan demi anak cucu nanti.”