Hampir seluruh masyarakat kita kini masih fokus dengan kasus Yuyun, seorang gadis yang diperkosa 14 ABG gelap mata. Belum habis cerita soal Yuyun ada lagi kisah tragis yang menyeruak ke permukaan. Kisah yang-masih-sama-pilunya-dengan-Yuyun, kisah Mistianah, bocah perempuan yang masih berusia 10 tahun. Dia tewas pada pertengahan April lalu akibat cekikan dan hantaman benda tumpul, usai diperkosa dua pemuda.

Di balik kasus Yuyun masih ada Mistianah, dan banyak korban-korban lain yang belum terungkap.

Pada postingan mengenai Mistianah di media sosial, ‘tertanam’ sebuah foto dirinya yang mengenakan baju kuning dan kerudung ungu. Pada foto tersebut, terdapat tulisan “Tolong Beri Juga Aku Lilin Aku Juga Butuh Perhatian.”

Berikut kronologis kasus tragis yang menimpa Mistianah. Sempat hilang tiga hari, hingga kemudian ditemukan

Melalui facebook, Edi Arsadad dari Ikatan Orang Hilang (Ikohi) perwakilan Lampung mem-posting kisah gadis warga desa Pelangkawati, Labuhanmaringgai, Lampung Timur itu. Edi menulis seakan mewakili suara hati Mistianah yang sama sekali tak dilirik masyarakat dan aparat. Kronologis kejadian seperti diberitakan cahyamedia.co.id, menurut keterangan Ajeng, teman sebaya Mistianah mengatakan, sesaat usai mengaji pada tanggal 14 April mereka sedang bermain sepeda di halaman TK Pertiwi. Berjarak kurang lebih 100 meter dari rumah korban.

Advertisement

Kemudian, ada dua laki-laki dewasa mengenakan baju hitam dan mengendarai sepeda motor Vixion memanggil mereka. Laki-laki tersebut mengiming-imingi es krim kepada keduanya, dan akhirnya berhasil membujuk dan membawa pergi Mistianah.  Sejak itulah, Mistianah hilang dan baru ditemukan pada Minggu, 17 April. Mirisnya bocah yang menuntut ilmu di SDN 01 Pelangka Wati itu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah perkebunan karet dengan memakai celana training dan tas yang di dalamnya terdapat pakaian dan buku tulis.

Berdasarkan hasil visum, ditemukan adanya luka bekas jeratan di leher dan pada kemaluan, seperti bekas diperkosa.

Pemerkosaan ini masalah sosial, persoalan kendornya ikatan-ikatan moral. Jangan perempuan terus yang disalah-salahkan ~

Sejatinya sejak jaman dahulu kala kasus pemerkosaan juga sudah ada, walau memang saat-saat ini kasus tersebut terus meningkat. Apalagi dengan “booming” nya kasus Yuyun kemarin, membuat banyak kasus serupa diekspos atau diangkat ke permukaan untuk menuntut banyaknya perhatian dan penyelesaian.

Sederhana saja sebenarnya. Masalah pemerkosaan menunjukkan makin kendornya ikatan sosial yang membuat kita merasa aman. Yuyun dan Mistianah adalah 2 anak yang kehilangan payung yang seharusnya menjaga mereka. Sebagai anak-anak ketakutan tentang dilecehkan seharusnya tidak pernah ada.

Jangan kambinghitamkan kemiskinan, alkohol, dan pornografi ketika kasus serupa terjadi. Sebab di negara lain pun tak separah ini

“Mereka kan memperkosa karena habis mabok.”

“Cowok-cowok itu miskin, jadi cari jalan pintas dengan memerkosa.”

Bicara soal perkosaan rasanya selalu ada saja pembenaran. Miskin lah, sedang mabuk lah, kurang pendidikan lah. Mari kita lihat saja di negara tetangga yang sama-sama di Asia. Sebut saja Jepang. Di sana akses ke alkohol dan pornografi sudah tidak dibatasi lagi untuk mereka yang sudah dewasa. Namun anehnya kasus kekerasan seksual justru tidak apa-apanya dibanding Indonesia.

Jadi, yang salah bukan alkohol atau bokep nya kan? Otaknya!

Makin kemari kenapa justru makin anak-anak yang jadi korban?

korban anak di bawah umur via facebook.com

Katanya sih hal seperti ini terus berlangsung lantaran vonis ringan dari pengadilan terhadap pelaku. Harapan saya, kamu, dan kami semua, tentu dalam proses penegakan hukumnya, para pelaku pemerkosaan mendapat hukuman seberat-beratnya. Penegakan hukum ini memang merupakan tanggung jawab kejaksaan dan hakim, tapi tak masalah kan jika masyarakat turut andil dalam memberi pertimbangan?

Tindakan pemerkosaan yang dilayangkan pada anak-anak di bawah umur, tidak hanya merusak masa depan korban, tetapi juga berpotensi mengganggu kejiwaan korban dan kehidupan sosialnya. Bisa saja korban yang merasa dirinya telah ternoda tidak berani berbaur dengan lingkungan sosialnya, karena malu. Selain itu, gunjingan masyarakat sekitar bisa saja mengakibatkan korban semakin terpuruk. Jika hal ini berlangsung terus-menerus tanpa ada dukungan yang memicu keberanian korban untuk tampil kembali di depan publik, tidak tertutup kemungkinan korban justru akan mengalami gangguan kejiwaan dan depresi.

Masih tanya apa akibat selanjutnya? Bunuh diri bisa jadi jalan pintas untuk mengakhiri penderitaannya.

Mari kita nyalakan juga lilin untuk Mistianah. Semoga cukup pada Mistianah dan Yuyun saja rasa kemanusiaan kita berdarah.