Apa yang akan terbesit di kepala kalian ketika mendengar kata PSK? Hipwee Boys yakin, sebagian besar dari kamu pasti punya penilaian miring tentangnya. Kita sudah terlampau jauh menaruh kesan negatif pada orang yang bekerja di bidang pekerjaan yang satu ini. Memang tidak bisa dibilang bahwa ini adalah pekerjaan baik sih, hanya saja, tolong jangan memandang mereka terlalu rendah aja.

Padahal kalau kita melek sejarah, terutama sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, mungkin kita bakal lebih menghargai kelompok tersebut atas perjuangan yang telah diberi pada negara. Benar, buat kamu yang belum tahu, PSK punya andil lho dalam membantu para revolusioner meraih kemerdekaan. Apa saja andil para pekerja yang sering dicibir ini di panggung sejarah Indonesia? Yuk langsung aja disimak!

Bung Karno memang presiden yang toleransi banget soal perbedaan. Ratusan PSK direkrut olehnya demi kemerdekaan Indonesia

Bung Karno dan Cindy Adam via rosodaras.files.wordpress.com

Berbicara soal sejarah memang bisa bikin kita ngantuk sendiri. Namun kalau ada kisah yang menarik, mata kita bisa langsung melek seger. Seperti kisah yang sedang kita bahas kali ini. Bung Karno memang memiliki banyak kisah menarik untuk dicari tahu dan diperbincangkan. Salah satunya tentang ceritanya menggaet ratusan PSK untuk diajak bekerjasama membangun kemerdekaan.

Cindy Adam, penulis otobiografi Bung Karno, mengaku kalau Bung Karno pernah bercerita tentang bagaimana ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI dan bagaimana dia mengajak para pekerja seks komersial (PSK) untuk menjadi anggota partai.

Advertisement

Mendapat informasi tentang perekrutan khusus tersebut, nggak heran ratusan PSK beramai-ramai jadi anggota PNI. Dalam buku berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, tercatat ada 670 wanita tuna susila di Bandung yang ikut gabung. Bukan jumlah yang sedikit tentunya.

Kamu mungkin bertanya-tanya, Buat apa sih Sukarno merekrut orang-orang tersebut? Ternyata Bung Karno punya siasat pintar tentang perekrutan tersebut. Dia ingin menjadikan para PSK tersebut sebagai informan untuk kepentingan pergerakan dalam rangka meraih kemerdekaan. Bung Karno bahkan nggak ragu untuk menyebut mereka sebagai loyalis sejati.

“Pelacur merupakan sosok mata-mata terbaik di dunia. Dari sekian banyak anggota PNI Bandung (Partai Nasional Indonesia), 670 orang di antaranya adalah wanita yang memiliki pekerjaan sebagai PSK,” kata Bung Karno.

Upaya Bung Karno dalam merekrut Sempat mendapat penolakan dari petinggi PNI lainnya

Ali Sastroamidjojo via asianafricanmuseum.org

Perjuangan Soekarno untuk merekrut PSK menjadi anggota PNI yang kemudian dijadikan mata-mata tersebut sempat mendapat penolakan dari Ali Sastroamidjojo. Dikutip dari Viva, dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras, terdapat dialog perdebatan antara Bung Karno dan Ali.

“Sangat memalukan! Kita merendahkan nama dan tujuan kita dengan memakai perempuan sundal kalau Bung Karno dapat memaafkan saya memakai nama itu. Ini sangat memalukan!” kata Ali dengan nada mengecam.

Bung Karno kemudian menyergah karena tak terima. “Kenapa? Mereka jadi orang revolusioner yang terbaik. Saya tidak mengerti pendirian Bung Ali yang sempit!” balas Bung Karno.

Ali lalu berkata, “Ini melanggar susila!”

“Apakah Bung Ali pernah menanyakan alasan mengapa saya mengumpulkan 670 orang perempuan lacur?” tanya Bung Karno.

“Sebabnya ialah, karena saya menyadari, bahwa saya tidak akan dapat maju tanpa suatu kekuatan. Saya memerlukan tenaga manusia, sekalipun tenaga perempuan. Bagi saya persoalannya bukan bermoral atau tidak bermoral. Tenaga yang ampuh, itulah satu-satunya yang kuperlukan,” ujar Bung Karno menjelaskan alasannya.

Namun Ali tetap dalam pendiriannya. Kemudian dia berkata, “Kita cukup mempunyai kekuatan tanpa mendidik wanita-wanita ini. PNI mempunyai cabang-cabang di seluruh Tanah Air dan semuanya ini berjalan tanpa anggota seperti ini. Hanya di Bandung kita melakukan hal semacam ini.”

“Dalam pekerjaan ini, maka gadis-gadis pelacur atau apa pun nama yang akan diberikan kepada mereka, adalah orang-orang penting,” tegas Bung Karno. Dia bahkan memberikan penegasan. “Anggota lain dapat kulepas. Akan tetapi melepaskan perempuan lacur, tunggu dulu!” ungkap Bung Karno.

Bung Karno yang dikenal memiliki banyak referensi dan bahan untuk memperkuat argumen, kemudian mengambil kisah Madame de Pompadour sebagai contoh. De Pompadour merupakan seorang pelacur yang bisa memainkan peran politik yang penting. De Pompadour bahkan jadi salah satu selir Raja Louis XV antara tahun 1745 1750.

Kemudian, Bung Karno memberikan kisah lainnya yang berkaitan dengan pelacur, yaitu Theroigne de Mericourt, pemimpin besar dari Perancis awal abad ke-19. Bung Karno menunjuk pula barisan roti di Versailles. “Siapakah yang memulainya? Perempuan-perempuan lacur,” jelas Bung Karno dengan mantap.

Mendengar penjelasan Bung Karno yang cukup kuat, Ali Sastroamidjojo kemudian nggak lagi menyergah, walaupun ekspresi wajahnya tak bisa dibohongi. Ia tampak belum bisa menerima sepenuhnya.

Bung Karno bahkan pernah menyelamatkan gadis-gadis tak bersalah di Minangkabau dengan mengorbankan para PSK

Menyelamatkan gadis yang masih suci via www.tutufoundationusa.org

Era kolonialisme Jepang memang nggak selama era kolonialisme Belanda. Namun, bukan berarti mereka nggak kejam terhadap rakyat Indonesia. Para tentara kolonial Jepang yang menduduki Indonesia saat itu dikenal haus seks. Nggak jarang mereka memperkosa gadis-gadis Indonesia yang tak bersalah di Minangkabau.

Namun Bung Karno punya siasat untuk menyelamatkan gadis baik-baik di tanah Minang tersebut. Dia mengirim 120 PSK untuk memuaskan tentara Jepang. Pengerahan PSK tersebut adalah semacam pengorbanan untuk menjaga kehormatan para gadis Indonesia lainnya.

Kasarnya, mending memberikan kain kotor kepada para penjahat untuk menyeka keringat mereka, ketimbang memberikan kain yang masih bersih.

PSK bukan hanya mata-mata, tapi mereka juga berjasa untuk suplai senjata. Mereka aktif membantu penyelundupan senjata

Ini hanya ilustrasi via kompasiana.com

Jasa PSK memang nggak terlalu signifikan dalam merengkuh kemerdekaan. Namun yang pasti, jasa mereka itu ada. “Mereka bukan hanya penyumbang yang menyenangkan, namun juga menjadi penyumbang besar,” tutur Bung Karno dalam buku otobiografinya.

Para PSK juga diyakini punya jasa dalam menyelamatkan Bung Karno dan para pejuang lainnya. Kala pasukan Belanda mengintai keberadaan Bung Karno dan kawan-kawan, maka hunian pelacuran jadi tempat sembunyi paling aman.

Selain sebagai tempat persembunyian, PSK juga membantu penyelundupan senjata. Seperti dikisahkan dalam buku Robert Cribb, Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta, ada sebuah gerakan bernama Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) yang punya tujuan menyerang Jakarta untuk menaklukan Jepang dan Belanda. Nah untuk mempermulus penaklukan tersebut, pasokan senjata jelas jadi hal yang penting. Para PSK jadi penunjang dan merekalah yang membantu menyelundupkan senapan.

Itulah sekelumit cerita tentang andil PSK dalam membantu Bung Karno dan para pejuang lainnya merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah. Nyatanya, sedikit atau banyak — terserah bagaimana kamu menilainya, mereka tetaplah berjasa dan telah ikut meninggalkan jejak-jejak perjuangan dalam kemerdekaan.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!