Stres adalah hal yang wajar dalam hidup karena stres yang dikelola dengan baik akan memacu kita untuk maju. Tapi jika gak diatasi dengan baik, stres juga berpotensi merusak diri kita lho, mulai dari depresi, gangguan mental, sampai bunuh diri. Wah, serem ya!

Sebenarnya apa saja sih penyebab stres yang paling umum dihadapi oleh orang Indonesia? Simak infografisnya yuk!

Penyebab stres di Indonesia

Masa Sekolah (7-18 tahun)

Masa sekolah adalah masa-masa paling indah, kata Almarhum Chrisye. Namun meski indah, masa-masa sekolah juga masa yang rentan untuk terkena stres, apalagi anak-anak dan remaja cenderung belum mampu mengelola stresnya.

1. Belajar, belajar, dan belajar

Tugas pelajar memang belajar, tapi belajar terlalu banyak justru akan memicu stres. Sejak taman kanak-kanak, pelajar sudah dihadapkan pada nilai-nilai puluhan mata pelajaran plus pekerjaan rumah, belum lagi jika orang tua mereka menuntut mereka untuk les ini-itu.

2. Bullying dan tawuran

Advertisement

Tawuran pelajar via www.tempo.co

Korban bullying sangat rentan stres, karena selain tertekan oleh nila-nilai mata pelajaran yang harus sempurna, mereka juga ditekan oleh teman mereka sendiri, yang membuat mereka cenderung menghindari sekolah.

Sebagian pelaku tawuran sebenarnya merupakan “korban”. Ya, korban pemaksaan kakak-kakak kelas untuk ikutan tawuran. Jika mereka gak mau ikut atau kabur, sudah pasti mereka akan di-bully kakak kelas mereka. Serba salah, deh.

3. Penolakan teman

Nah, gara-gara ditolak juga pelajar bisa stres lho. Bukan cuma ditolak pas nembak gebetan, tapi juga ditolak oleh teman sebaya ketika ingin bergabung untuk nongkrong atau main bareng itu bikin pelajar jadi minder dan stres.

4. Objek obsesi orang tua

Sebagian orang tua punya cita-cita terpendam yang gak tercapai, lalu akhirnya memaksa anak-anaknya menjadi apa yang dicita-citakan mereka. Orang tua yang ingin anaknya jadi dokter, misalnya, mereka menekan anaknya untuk berprestasi di sekolah, serta memberi les-les yang luar biasa banyak demi masuk jurusan IPA, tanpa mempedulikan apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak mereka.

Orang tua juga seringkali mengikutkan anak-anak ke berbagai les seni. Membantu menemukan bakat anak itu bagus, tapi jangan paksa mereka menjadi manusia yang bukan diri mereka sendiri.

5. Perselisihan dalam keluarga

Psikologis remaja umumnya dalam kondisi labil, sehingga kadang mereka berselisih paham bahkan mulai “melawan” orang tua dan saudara-saudaranya. Inilah yang harus dipahami orang tua, gak perlu keras dilawan dengan keras, karena memang sedang fasenya.

6. Ujian Nasional

Ujian Nasional via www.tribunnews.com

Ujian nasional atau UN adalah situasi paling menekan dalam persekolahan. Hasil belajar kita selama bertahun-tahun akan “dihakimi” hanya dalam tiga hari ujian yang mempertaruhkan segalanya.

Soal ujian yang sulit serta tekanan dari sekolah dan orang tua berpotensi besar menyebabkan stres. Lewat UN juga, reputasi sekolah dipertaruhkan, sehingga beberapa sekolah membiarkan bahkan memfasilitasi siswanya untuk mencontek. Padahal esensi sekolah kan untuk mendidik.

Mungkin sistem pendidikan kita harus direformasi.

7. Lanjut kuliah ke mana?

Setelah lulus, banyak siswa yang  ditekan untuk melanjutkan kuliah sesuai jurusan pilihan orang tua, karena orang tuanya punya obsesi tertentu. Bahkan, meski tahu anaknya tidak memenuhi syarat untuk masuk jurusan tertentu – misalnya kedokteran, banyak orang tua mengambil jalan pintas dan rela mengeluarkan uang ratusan juta pada sindikat untuk memuluskan jalan anaknya masuk fakultas kedokteran.

Berbahagialah kamu yang memiliki orang tua pengertian dan demokratis. Tapi, kadang kamu pun bingung dan stres memilih jurusan karena kebanyakan dari kamu belum menemukan apa passion kamu selepas lulus SMA.

Masa kuliah (17-23 tahun)

Masa kuliah adalah proses menuju kedewasaan dan kemandirian. Masa kuliah bisa jadi lebih santai atau justru lebih berat dibanding masa sekolah.

1. Harus mandiri

Sebagian besar mahasiswa kuliah di universitas yang tidak terletak di kota asal mereka. Makanya, kuliah menjadi fase kamu untuk mandiri, beradaptasi dan proaktif.

Kuliah berarti harus ngekos, cari makan sendiri, belanja keperluan sendiri, dan mengatur uang sendiri. Jauh dari orang tua kadang bikin mahasiswa baru stres karena menjadi mahasiswa berarti harus berasimilasi dengan lingkungan dan budaya sekitar, yang kadang sama sekali berbeda dari daerah asal mereka.

2. Jadwal yang padat

Tugas tiada habisnya via www.topulerkampus.com

Menjadi mahasiswa baru, kamu akan dihadapkan pada Ospek (Orientasi dan Pengenalan Kampus) baik ospek universitas maupun fakultas, lalu jadwal kuliah.

Pada semester berikutnya, jadwal kuliahmu semakin padat dan tugas-tugasmu semakin banyak, belum lagi jika kamu aktif di organisasi maupun unit kegiatan mahasiswa. Waktu tidur dan bersenang-senangmu jadi berkurang, bahkan kadang kamu juga lupa makan.

Jika kamu gak mengelola jadwalmu dengan efektif, kamu akan rentan terhadap stres dan jadi mudah sakit.

3. Keuangan

Mengatur keuangan bulanan juga bagian dari kemandirian. Kamu mungkin orang yang beruntung jika orang tuamu kaya dan bisa mentransfer jutaan setiap kali kamu kehabisan uang, tapi itu bukan cara yang tepat mendidik mahasiswa untuk mandiri.

Dengan jumlah uang yang dikirim terbatas tiap bulan, kamu jadi belajar untuk menentukan pos-pos prioritas untuk membelanjakan uangmu. Selain itu, kamu juga dituntut untuk survive dengan uang terbatas sampai akhir bulan.

Namun, kadang mahasiswa juga berhadapan dengan kebutuhan yang gak terduga, seperti kendaraan rusak, uang dipinjam teman, atau sakit. Hal ini bisa memicu timbulnya stres.

4. Asmara

Udah semester akhir tapi masih jomblo? Atau kamu yang pacaran cekcok terus sama pacarmu? Atau bahkan kamu atau pacarmu hamil di luar nikah?

Hubungan asmara yang penuh gejolak biasa kita alami saat mahasiswa, seiring kedewasaan kita dan jauhnya kita dari pengawasan orang tua, seringkali menjadi pemicu stres.

5. IPK

Bagi sebagian orang, IPK itu hal yang sensitif, kayak agama. Jadi, ditanya perihal IPK kadang menimbulkan stres bagi kita, apalagi kalo IPK-nya nasakom alias nasib satu koma.

6. Salah jurusan

Mungkin kita semua pernah merasakan ini. Sebagian besar dari kita akhirnya berhasil menemukan passion kita saat kuliah, dan celakanya, ternyata passion kita sama sekali gak ada hubungannya dengan jurusan yang kita ambil.

Misalnya, kamu menemukan passionmu di tulis-menulis dan desain, tapi jurusanmu akuntansi. Jika gak dikelola dengan baik, kamu akan stres, dan bisa menghambat kelulusanmu.

7. Kapan lulus

Ini adalah pertanyaan yang paling sering kamu hadapi, apalagi jika kamu sudah menginjak kuliah tahun kelima, keenam, dan seterusnya. Hal ini jelas bikin stres, apalagi jika kamu menghadiri wisuda adik angkatan kamu. Duh, miris!

Masa Berdikari (>23 tahun)

Berdikari berarti berdiri dengan kaki sendiri, yang berarti kita sudah harus benar-benar lepas dari bantuan orang tua. Selamat datang di dunia nyata orang dewasa.

1. Kemandirian total

Jika ketika kuliah kamu belajar mandiri mengelola keuanganmu, masa berdikari adalah saat di mana kamu harus mencari sendiri uangmu. Ya, kamu gak bisa lagi bergantung pada orang tua. Malu dong, sama umur.

Tekanan untuk berdikari setelah lulus kuliah, sama seperti ketika harus mandiri saat awal kuliah. Hanya saja level tekanannya lebih besar. Hal ini mungkin bukan menjadi masalah besar jika semasa kuliah kamu sudah cari uang sendiri.

2. Passion atau karir

Kerja demi uang atau kebahagiaan? via www.jobcluster.com

Berhubungan dengan poin salah jurusan semasa kuliah nih. Jadi kamu akhirnya lulus dan kamu bimbang untuk mengikuti passionmu atau berkarir sesuai jurusan kuliahmu.

Ketika kamu memilih passion, stres pasti akan muncul akibat pertentangan dengan orang tua yang membiayai sekolahmu maupun orang-orang terdekat kamu yang gak mengerti.

3. Persaingan kerja

Kompetisi di sekolah maupun masa kuliah gak ada apa-apanya dibanding kompetisi di dunia kerja. Ketika kamu ingin jadi pegawai negeri atau masuk ke perusahaan-perusahaan yang bonafit, kamu akan berhadapan dengan  ribuan pelamar yang bertujuan sama dengan kamu.

Lalu di tempat kerja, akan terjadi juga persaingan untuk mengejar promosi dalam karir, baik dengan rekan-rekan kerja yang sportif maupun rekan yang menghalalkan segala cara.

4. Pekerjaan

Pekerjaan yang banyak membuat kamu seringkali tak punya lagi waktu untuk bersantai, sehingga akhir pekan jadi satu-satunya jalan keluar melepas kepenatan. Pekerjaan yang menumpuk, tekanan dari atasan, persaingan dengan rekan kerja akan mundah menimbulkan stres. Terlebih jika pekerjaanmu itu bukan passionmu.

5. Berumah tangga

Kapan nyusul? via ndakochan.blogspot.com

Bagi yang masih lajang, pertanyaan “kapan menikah” adalah pertanyaan membosankan yang akan kamu dengar ratusan kali dari kerabat dan teman-temanmu, terutama saat acara kondangan. Hal ini seingkali bikin stres, terutama untuk kamu yang menginjak 30an tapi belum punya pasangan.

Sementara, berumah tangga juga juga salah satu penyumbang stres. Selain untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri, kamu juga harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan anak istrimu.

6. Kemapanan

Banyak orang yang menganggap kesuksesan adalah semata-mata kemapanan materiil. Oleh karena itu, sebagian dari kita berlomba-lomba punya rumah, punya mobil, punya gaya hidup mewah, maupun jalan-jalan ke luar negeri. Padahal belum tentu kita membutuhkan itu. Dan menuruti gengsi semacam itu jelas membuat stres.

Nah, sudah tahu kan penyebab stres yang sering dialami orang Indonesia.  Gak perlu takut sama stres, karena stres merupakan bentuk ujian yang membuat kita berkembang. Kamu bisa meredakan stres dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan, misalnya traveling, nongkrong bareng sahabat, atau sekadar main game.