Kubalas dengan ingatan: di bawah pohon sawo itu
puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis
hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan,
lalu Ayah membopong tubuhku yang masih lugu
dan membaringkannya di ranjang Ibu.

2005
(Joko Pinurbo, 2016)

Selamat malam, Ayah. Semoga seluruh rahmat Tuhan di dunia berembus padamu, melimpahlah kesehatan padamu. Amin. Di manapun aku berdiri menghadang, angin selalu begini, dingin dan syahdu, seperti katamu waktu itu di belakang rumah. Kita tak pernah akrab dalam lisan, aku dan kau sama-sama sepakat berbicara dengan sikap, dan tulisan. Maka, kukirimkan tulisan ini, anggap saja sebuah surat. Aku rindu, bertahun-tahun di perantauan ini, aku jadi semakin ngerti kelelahanmu. Membimbingku, sudah pasti perkara yang tak mudah. Maafkan aku yang kadang terlalu nakal, tapi kata orang lelaki selalu seperti itu di manapun. Seperti anginmu….

Ayah, lewat surat ini akan kutuliskan semua keresahan, semua benalu yang kurajut pada diriku sendiri. Aku kesulitan dan hampir putus asa. Dunia ini kadang begitu kejam, sekaligus lembut dan melenakan. Aku takut terlempar jauh, dan melupakanmu. Pergaulan di kota ini, kalau sedikit saja salah langkah, habis sudah aku dikucilkan. Orang biasa menyebutnya bullying, kejam dan buta, Yah. Semoga dengan kutuliskan kegelisahanku ini, rinduku lunas padamu dan menyembuhkanku dari luka batin.

Bagaimana kabar Ibu? Dia harus selalu sehat sepertimu, Yah. Kadang Ibu kepalang rajin, kesehatan dilupakannya padahal umur tak lagi muda

Seperti Ayah, Ibu harus selalu sehat… via www.pexels.com

Di sini hidup sehat tak perlu mahal, seperti katamu asal bersahabat dengan angin malam semua penyakit enggan datang. Tapi suatu saat angin tak bersahabat, aku pun ngeringkuk menahan dingin di perut dan punggung. Kalau ada kamu, Yah… pasti sudah kau buatkan segelas jahe panas. Entah ada apa saja di dalamnya, aku selalu bisa sembuh.

Di sini tak berlaku hemat pangkal kaya, Yah. Sepertinya orang-orang sudah kaya, tak seperti aku yang harus tetap berhemat agar tak sering merepotkanmu juga

Advertisement

Kalau katamu, Yah… berhemat pangkal kaya, apalagi kalau menabung… via www.pexels.com

Tapi, Ayah tak perlu takut. Entah kenapa, perutku selalu mau kompromi, tak masalah makan dua kali sehari. Masih terngiang dalam kepala, suatu siang di bulan puasa, kau bilang padaku bahwa jalan satu-satunya menahan lapar adalah melupakannya. Lakukan pekerjaan yang disukai, rasa lapar sudah tak ada artinya. Aku bisa kaya, tapi untuk apa? Tapi yang jelas aku berhemat karena aku tahu engakau di sana banting tulang untuk mencukupi kemauanku, kemauan anak-anakmu.

Ayah, akhirnya aku tahu kenapa harus mencari ilmu di kota baru, sebab di sini kamu harus belajar lagi supaya tak dibodohi

Samapi kapanpun akan ada yang lebih pintar dari diriku, Yah. Maaf aku belum bisa jadi yang terbaik… via www.pexels.com

Bayangkan, Yah. Aku belajar, aku membaca, aku menulis tapi masih saja aku nampak bodoh, sepertinya sampai 50 tahun ke depan aku tak akan pernah bisa jadi orang pintar. Sebenarnya apakah aku sudah pintar? Aku sudah lelah dengan kebodohan, Yah… maafkan aku jika mengecewakanmu. Tapi, walau tak ada prestasi sama sekali, aku kira tak ada salahnya jika aku terus mencoba–seperti katamu saat memasukan benang ke lubang jarum di suatu malam.

Hidup di sini di tempat orang ternyata butuh tenaga lebih. Bolehkah barang sebentar aku bermanja di pundakmu, Yah?

aku ingin pulang ke rumah, membuka kenangan bersamamu, memeluk tubuhmu yang wangi basah. via www.pexels.com

Dengan seluruh kelelahan dari perjuanganku ini, aku tak peduli lagi, Yah. Menangis di pundakmu, hibur aku dengan harum tubuhmu itu. Wangimu basah, bagai pohon pinus selepas diterpa hujan, basah dan manis. Ayah, semua sudah kulakukan, apa yang sesungguhnya kuyakini akan berhasil, sekarang berbalik menyerang. Aku tak mau hilang arah, hanya pundakmu itu tempat segala berarah. Ke sini, Yah?

Aku menyesal, Yah. Di umurmu yang renta, masih saja kamu harus bergelut dengan waktu, mencari sedikit rejeki untuk orang lain

Maafkan aku, belum mampu menanggung beban yang sekarang Ayah rasakan… Maafkan anakmu ini… via www.pexels.com

Tak ada yang bisa sepertimu, tak ada! Apalagi menggantikanmu, aku yakin jika setiap ayah di dunia dikumpulkan, kamu tak akan pernah sama dengan yang lain. Aku tahu di antara serumpunan orang itu, siapa yang paling basah karena keringat, aku bisa tebak: kau lah itu! Bahkan aku sepertinya tak akan bisa sepertimu, Yah… Maafkan aku, di umurmu yang sudah senja aku jarang berada di sampingmu, memijat punggungmu yang kaku.

Terima kasih. Ayah, tahun ini aku lulus dan diwisuda… bagaimana, Yah? Tersenyumlah aku mau kau bangga dan lega

Semoga paling tidak, ada sedikit kebanggan. Semoga saja… via nzine.co.kr

Jerih payahmu terbayarkan sudah, aku sarjana tahun ini. Ayah, aku berterimakasih atas segala yang telah kau berikan, seluruhnya. Aku tak bakal mampu membalas semua ini. Kecuali dengan doa dan menuruti perkataanmu, aku tak bisa berikan hal yang lebih, aku tak bisa berjanji. Tapi aku harap kau bisa bangga dan lega. Sebab setelah ini aku ingin berusaha membantumu sekuat tenaga, demi hari tuamu yang tenang dan nyaman.

Demikian, semoga Ayah membaca suratku ini di pagi hari dengan kopi. Lebaran depan aku mudik naik kereta, jarak ke stasiun lumayan jauh, baiknya tak usah kau jemput, ada banyak angkutan kota dan pangkalan ojek. Biarlah nanti akan kusiapkan padamu sebuah hadiah paling menarik yang sangat kau idamkan. Sejumlah potret lawas kartu pos bergambar gedung-gedung Belanda. Katamu cara mengenang paling istimewa adalah menciptakan imajinasi dalam sebuah foto. Aku berterima kasih, Yah… semua yang kutulis hari ini kepadamu, seluruhnya berkat bimbinganmu. Sebut saja ini surat cinta, karena ini benar-benar tentang cinta seorang anak lelaki pada kebaikan Ayahnya. Yah, aku masih rindu…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya