Namanya waktu akan terus berputar, tidak peduli siapa engkau, sebaik apa engkau atau seburuk apa engkau, waktu cukup adil memberi setiap kesempatan kepada tiap-tiap manusia di dunia ini, karena setiap manusia diberi waktu 24 jam dalam sehari, tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih. Semua memang ada masanya, ada masanya ketika aku bisa bermain sepuas-puasnya dan sama sekali tak peduli bila waktu terus berjalan. Ada masanya, ketika aku mengenal seseorang yang sebelumnya asing bagiku tetapi malah memberi rasa kenyamanan sama seperti ketika aku bertemu keluarga ku dan ada pula masanya, ketika aku mengenal sebuah tanggung jawab akan perbuatan yang telah aku perbuat.

Setiap masa selalu menuntut akan sebuah perubahan, baik perubahan fisik maupun perubahan pola pikir dan aku mustahil untuk mencegahnya. Sekarang saja, aku masih tak menyangka bila aku telah beranjak dewasa. Sama seperti perubahan, datangnya mimpi beserta angan-angan masa depan tak bisa aku hindarkan.

Masa depan, masa yang kelak pasti aku temui. Banyak yang bilang, jika masa depan itu indah, penuh gegap gempita karena adanya harapan-harapan, memang begitu indah bila melihat diriku di masa depan seperti yang aku angankan. Tetapi sama seperti lainnya, aku takut akan masa depan. Aku takut, bila nanti bertemu dengan hal-hal yang harus aku hadapi di masa depan.

 

1. Bila tidak bisa memenuhi tanggung jawab

Mengecewakan teman

Mengecewakan teman via http://cdn.klimg.com

Karena aku adalah jiwa yang selalu ingin lebih, maka aku ingin mencoba semua hal-hal baru yang belum pernah aku temui. Sehingga aku memutuskan untuk aktif bertemu lingkungan-lingkungan baru, mengikuti berbagai kepanitiaan, komunitas atau organisasi, karena dari sana aku bisa mengintip luasnya dunia dari ilmu serta pengetahuan yang aku dapat lewat ikatan pertemanan baru. Tetapi karenanya aku juga dibuat takut, karena bila banyak mengikuti kegiatan, membuat aku tak bisa untuk memprioritaskan mana yang lebih penting dari semua kegiatan yang telah aku pilih dan akhirnya aku melalaikan sebuah tanggung jawab.

Menyesal pun ada, setiap tidak bisa menuntaskan sebuah tanggung jawab, karena siapa toh yang ingin mengecewakan teman?

Bertemu dengan teman-teman serta lingkungan baru sering membuatku merasa nyaman, sehingga aku tak sadar bila waktu yang aku punya telah aku habiskan bersama mereka. Karena waktu dan kepercayaan yang telah aku berikan kepada mereka, aku pun tak sadar bila perbuatan serta perkataanku telah mengikuti mereka dan sering pula aku memilih dan merencanakan sesuatu hal karena mereka. Akhirnya, aku menyadari jika lingkungan itu telah mengubahku menjadi pribadi yang jauh berbeda dari yang dulu, yakni menjadi pribadi baru.

Perubahan yang tak bisa aku hindarkan itu membuatku takut. Aku takut bila lingkungan itu membuat perencanaan masa depanku kabur karena aku hanya terombang-ambing oleh sebuah asumsi semu dari mereka. Bisa jadi, apa yang aku anggap benar ternyata salah, bisa jadi yang aku anggap salah ternyata benar, ya semua itu karena lingkungan. Aku takut masa depan serta cita-citaku hancur karena mereka.

2. Menepikan harapan serta semua mimpi

Menyerah

Menyerah via https://bisfren.com

Ada masanya, ketika aku begitu menggebu untuk mengejar mimpi serta angan-anganku, teman dan keluarga menjadi semangat tambahan. Senyum dari merekalah yang membuatku yakin, aku bisa mengejar gegap-gempitanya masa depan. Lalu, segala perjuangan pun aku lakukan untuk mengapai mimpi-mimpi itu. Aku kian menjadi pribadi yang begitu bersemangat, menjadi pribadi yang tak kenal menyerah, tak peduli oleh orang lain yang mencibir serta meremehkanku.

Tekadku bulat kala itu, yakni menjemput masa depan yang penuh gemerlap, kadang pula di tengah perjalanan aku korbankan suatu hal aku miliki, waktu, kepercayaan, materi, semuanya aku korbankan semata-mata untuk sebuah impian. Aku benar-benar menjadi pribadi yang rakus akan masa depan dan telah menjadi pribadi yang terhasut oleh perkataan mereka; bila perjuangan memerlukan pengorbanan. Tetapi ada suatu masa ketika perjuangan, pengorbanan, dan semua langkah hebat yang telah aku susun rapi bukannya mendatangkan kesenangan melainkan hanya kesedihan.

Pada saat itu aku tahu. Bila mimpi dan angan-angan harus mulai aku tepikan, karena bukannya aku menyerah tetapi aku memilih untuk berdamai dengan diri sendiri, agar hati ini tidak kian sakit oleh harapan yang tak bisa terkejar lagi. Aku takut bila hal itu aku temui di masa depan. 

3. Menghadapi orang-orang fake smile

Setiap lingkungan baru selalu mengantarkan orang-orang baru. Ada yang singgah begitu lama, tetapi ada pula yang begitu cepat memutuskan pergi. Mungkin hidup hanya perihal datang dan pergi, datang lagi atau pergi dan tak pernah kembali. Nantinya masa depan pun akan seperti itu, entah di lingkungan kerja, lingkungan sosial, pertemanan, semuanya adalah hal yang hanya beda nama, yakni selalu mendatangkan orang baru. Kadang mereka datang membawa kebahagiaan, siap tuk dibagikan kepadaku, mereka membuat rasa nyaman, tentram dan tawa.

Semua yang datang bagiku adalah paket lengkap yang tercipta khusus untuk aku. Tetapi hidup tidak melulu tentang kesenangan bukan? Ada teman yang membagi suka, tetapi ada pula yang membagi duka. Ada teman yang membuat bahagia, ada teman yang membuat sengsara. Ada. Satu di antara teman yang membuat duka dan sengsara adalah teman yang pura-pura baik atau sering ku bilang “fake smile”, aku tak suka. Tapi pasti, ada orang yang datang penuh riang kepadaku, tetapi ada mau. Ada teman yang aku kira baik, tetapi di belakang membuat sakit. Ada. Dan aku takut teman seperti itu. Semoga aku dan kalian tidak.

4. Kecewa dengan pilihan yang aku pilih

Hidup tidak lain hanyalah tentang perkara memilih, ketika aku sedang anak-anak, aku memilih untuk meneruskan sekolah di bangku sekolah dasar. Tamat di sekolah tersebut aku melanjutkan di jenjang berikutnya, sekolah menengah pertama dan akhirnya menamatkan masa-masa berseragam di sekolah menengah atas atau lazim kalian menyebutnya SMA. Ketika itu, aku tidak berpikir panjang untuk bersekolah di SD, SMP atau SMA. Bahkan, sebagian besar pilihan yang aku putuskan tidak jauh dari intervensi kedua orang tua, ayah dan ibu.

Tapi esok hari, ketika telah menamatkan masa-masa sekolah dan berujung di kehidupan profesional, aku lebih berhati-hati dalam memilih. Selain karena ibu dan ayah ku tidak lagi ikut campur tentang perkara memilih, aku takut jika pilihan ku salah dan yang kedua pilihan yang aku pilih sepenuhnya menjadi tanggung jawabku. Aku takut, jika pilihan yang aku pilih malah membuat diriku tidak berguna. Jika pilihanku tidak membuatku senang, malah membuatku sedih, jika pilihanku tidak sesuai idealisku atau jika semua yang aku pilih telah membuang waktu berhargaku dan semua berakhir dengan kekecewaan.

5. Menjadi bukan diri sendiri

Seiring berjalannya waktu, aku akan bertemu dengan banyak orang baru dan lingkungan baru yang sering menuntutku untuk melakukan penyesuaian menjurus "mengubah diri sendiri". Termasuk dengan pekerjaan yang menuntutku untuk menjadi "orang lain" atau aku yang berubah hanya karena ingin meraih predikat pertemanan dengan teman-teman sebayaku. Aku yang dulu periang, dituntut untuk tegas dan tidak murah senyum. Aku yang dulu suka berbagi, kini dituntut menutup diri. Aku yang dulu tidak pernah merogoh kocek dalam untuk sesuap nasi, kini mengeluarkan uang saku 1 bulanku untuk makan siang.

Aku takut, bila pergaulan mengubah diriku menjadi sosok lain yang tak pernah aku kenal sebelumnya, aku takut bila menjadi bukan diri sendiri.