Pertama kali mendengar kata Thailand, mungkin yang ada di benak kamu adalah negara yang melegalkan transgender. Tapi di lain sisi, negara ini memiliki kesamaan dengan orang Indonesia walaupun tidak banyak. Kali ini kita akan membahas tentang kualitas sinetron atau film komersial pendek Thailand. Di mana mereka banyak memberikan motivasi-motivasi yang cukup mengena saat pertama kali melihatnya.

Indonesia juga pernah menjadi salah satu pertelevisian yang banyak memberikan serial komersial di era-90 an. Tapi semenjak era 2000-an, kualitas sinetron tv Indonesia mulai kurang bergairah. Terkadang terlalu menelan mentah-mentah budaya Barat, tanpa menyaringnya apakah sesuai dengan kebudayaan kita atau tidak. Berikut adalah alasan mengapa kamu layak menonton film pendek komersial Thailand.

 

1. Diliat dari sisi cara berpakaian saat di sekolah.

Di Thailand, sinetron remaja tidak selebay di Indonesia. Anak-anak sekolah berpakaian sewajarnya sesuai logika, gak ada kesan norak dari rambut gondrong ala coboy junior di sekolah. Bahkan pakaian pun rapi. Wanita roknya di bawah lutut, sedangkan pria memasukan baju seragam.

Di Indonesia? Rok anak sekolah super mini (pamer paha) dan bajunya awut-awutan gak dimasukin. Hanya anak culun yang biasanya bajunya masuk.

2. Diliat dari sisi penyimpangan.

You are the apple of my eye

You are the apple of my eye via http://www.ibebegew.com

Yang pernah melihat serial drama Thailand "Hormones the Confused Teens", ada adegan di mana guru menegur murid yang bajunya di keluarkan. Di sinetron Indonesia? Guru malah sibuk pacaran juga. Guru yg pakaiannya seksi dan terbuka di sinetron Indonesia, kok digambarkan begitu ya?

3. Diliat dari sisi konflik.

Atm Rak Error

Atm Rak Error via https://www.google.com

Konflik dalam serial drama remaja di Thailand pun tentang persahabatan, impian, atau cinta remaja, dengan konteks penyelesaian sewajarnya seperti yang kita alami di sekolah. Di indonesia? Bahkan ember berisi air bisa tiba-tiba jatuh dari atas pintu kelas. Terlalu kejam dan selalu ada sosok antagonis dari sekelompok geng di sekolah. *Waktu gue sekolah, ga gitu-gitu amat*

4. Diliat dari sisi kekayaan.

Crazzy Little thing calld Love

Crazzy Little thing calld Love via https://www.google.com

Di sinetron Thailand, semua siswa hampir sama. Berangkat sekolah berjalan kaki atau naik sepeda, bahkan pakai sepeda motor itu udah paling gaya. Di sinetron Indonesia? Tokoh utama pasti ada sosok yang kaya raya. Ke sekolah pakai lamborghini atau ferarri. Sebenernya gue bingung, EMANG ADA? SISWA SMP/SMA KAYA GITU?(Inilah salah satu contoh yg menggambarkan orang di Indonesia sok-sokan).

5. Dilihat dari segi kenyataan.

I fine thangk You Love You

I fine thangk You Love You via https://www.google.com

Kehidupan di luar sekolah pun berbeda. Digambarkan di Ppulang sekolah, belajar, mendengar musik, atau menelpon gebetan, kadang ada sosok teman yang diajak main dirumah.

Di Indonesia? Pasti ada sosok yang rumahnya segede istana negara dan ada tokoh yg dibuat miskin banget *kasihan*. Belum lagi adegan clubbing bareng temen atau menghadiri pesta ulang tahun temen atau gebetan. Pembantu aja sekalian.

====================================================================

Sebenernya, sinetron Indonesia banyak mengadopsi dari budaya Barat ataupun Korea belakangan ini. Tapi, mereka menyerap semuanya mentah-mentah (sungguh oon, gue greget sendiri). Sama halnya dengan Thailand, perfilman mereka berkiblat pada Korea. Bahkan menduduki peringkat kedua setelah Jepang dalam kiblatnya.

Namun mereka mencoba membuatnya menjadi masuk akal dan dapat diterima bahkan dirasakan oleh para remaja jika hal di film itu benar-benar ada. Tidak seperti di serial drama indonesia, remajanya seolah diracuni kalau baju keluar di sekolah itu gak apa-apa. Rambut diwarnai juga bebas, bahkan rok mini pun wajar. Jadi, mereka melihat mereka yang berpenampilan "RAPI dan BENAR" dianggap sebagai anak culun.