Energi Mudamu, Senjatamu. Itulah kalimat yang identik dengan anak muda. Kalimat yang dipopolerkan oleh Ketjilbergerak ini memang benar adanya. Apalagi sekarang adalah jaman sosial media. Tidak seperti dahulu, sangat sudah untuk berkarya dan berkontribusi. Sekarang ini kita hanya menggunakan perangkat elektronik sudah bisa membagikan berita atau informasi dari mana saja. 

Tidak lama lagi kita akan memasuki tahun 2017. Sudah bukan masanya lagi kita berkoar-koar random di sosial media. Sebaiknya gunakan keahlian masing-masing untuk memberikan kontribusi nyata.

1. Habiskan Kuota Internetmu Untuk Membuat Karya bukan Membuat Perkara

Tidak seperti orang tua kita dahulu yang kesulitan untuk berkarya. Jaman sekarang kita sudah diberi kemudahan untuk membuat karya atau belajar. Internet memberikan kita akses untuk merain informasi yang kita perlukan. Bahkan bisa menciptakan peluang untuk berkarya. Sudah banyak orang yang berkarya lewat internet dan tidak sedikit diantara mereka yang berhasil.

Media yang diberikan bermacam-macam. Untuk kamu yang suka berbagi cerita lewat kata-kata, ada. Untuk kamu yang seneng ngutak-atik program komputer, ada. Untuk kamu yang suka bikin vidio-vidio pendek, juga ada. Semuanya udah ada kok. Tinggal pakai aja dan gratis.

2. Hentikan Kebiasaan Bahlul, Mengkritik Tanpa Memberi Solusi

Wan Qodir temennya Wan Abud “Ente Bahlul” via https://www.youtube.com

Advertisement

Salah satu kekuatan dari demokrasi adalah kebebasan untuk menyatakan pendapat. Karena inilah banyak orang bisa mengkritisi sesuatu dengan cepat dan nyaman. Tidak seperti di negara utaranya Korea Selatan yang mulutnya terbungkam. Memang kita diberi kebebasan untuk menyatakan pendapat, terlihat dari berbagai macam forum yang diselenggarakan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah mengkritik dengan solusi?.

Jangan sampai kamu seperti kelompok-kelompok di luar sana yang hanya mengkritik namun nihil solusi. Ingat, kamu sekolah bertahun-tahun pasti mendapat banyak pengetahuan. Masa iya kamu nggak bisa memberi solusi dari apa yang kamu kritisi lewat pengetahuanmu. Jangan sampai kamu diteriaki sama orang dengan kata "Ente Bahlul."

3. Buatlah Membaca Sebagai Salah Satu Aktivitas Wajib

Temenin Aku Baca Yuk via http://www.lifehack.org

Memperbaiki diri juga harus mengupgrade diri lewat pengetahuan. Membaca adalah salah satu sarana memperbaiki diri. Setidaknya kita kasih waktu dalam satu hari membaca apapun seperti buku, koran atau jurnal ilmiah yang ada di internet. Mengapa perlu membaca. Karena hasil survei UNESCO menyatakan Minat Baca Masyarakat Indonesia 0,001 Persen. Dikit banget kan. Berbanding terbalik dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta.

Buktinya adalah banyak negara-negara yang bisa menciptakan bermacam teknologi karena membaca dan mempelajari sesuatu. Jadi jangan salahkan kalau pihak asing yang mengolah sumber daya di Indonesia. Ya, karena mereka membaca dan tahu caranya.

4. Boikot Aktivitas-Aktivitas Yang Mengandung Provokasi

Beberapa bulan terkahir ini kita sering mendengar gerakan boikot. Mulai dari Stasiun TV, roti, minuman botol hingga koran. Kelompok tersebut melakukan boikot hanya karena salah paham dan kelakuan orang yang kurang pengetahuan. Kelakuan mereka berimbas kepada pedagang roti yang dagangannya nggak laku. Hanya karena pihak perusahaan tidak mau mendukung aksi yang dilakukan kelompok tersebut.

Jika kelompok tersebut bisa memboikot apapun seenak jidat. Kenapa kita tidak bisa. Tetapi tidak usah sampai merugikan pihak banyak. Cukup kita memboikot akun sosial media yang mengundang provokasi atau perpecahan kelompok tertentu. Jika kamu menemukan hal seperti itu dalam linimasa sosial media kamu. Cukup hiraukan saja atau Block akun tersebut. Dengan begitu kamu sudah melakukan boikot akun provokasi tersebut.

5. Bersikaplah Layaknya Orang Berpendidikan

Berperilaku layaknya orang berpendidikan via http://www.higherperspectives.com

Kericuhan yang sering kamu temukan akhir-akhir ini, ternyata bukan dari orang yang dari golongan pendidikan rendah. Justru para pemicunya adalah orang yang notabene berpendidikan tinggi. Kenapa bisa orang-orang tindakannya nggak sesuai dengan status pendidikannya. Bahkan seorang pendidik yang melakukan tindakan bersifat provokasi dan rasisme. Lalu bagaimana dengan murid-muridnya, apa nggak kasihan mereka punya guru seperti itu.

Maka dari itu bagi kamu yang notabene berpendidikan tinggi, hendaknya bersikap layaknya orang berpendidikan tinggi. Beropini lah dengen sehat. Kalau dikit-dikit main SARA, lalu apa bedanya kamu dengan orang-orang yang melakukan hal serupa. Orang yang kamu pandang berpendidikannya rendah saja masih bisa bersikap layaknya orang berpendidikan tinggi. Masa kamu kalah sama mereka, kalau begitu kamu sama mereka tukeran gelar aja.