Lukisan wajahku yang kau berikan kala itu masih tersimpan rapi di pojok terdalam lemari kamarku. Terakhir kulihat, kertasnya sudah mulai kusam, warnanya perlahan memudar, seakan turut menggambarkan tentang waktu yang memakan rasa hingga habis tak bersisa.

Hai Tuan yang pernah merajai hati lalu mencabik hingga mati. Tahukah kau ? Ini bukan masalah hati yang tak bisa mencari ganti. Ini tentang dilema setelah kau tinggal pergi.

 

1. Ini lelah yang tak lumrah di kala teman-teman terus bertanya, “Apa kabar dengan kita ?”

Fake smile

Fake smile via http://telepics.net

Kadang aku pun bertanya-tanya, apakah sama halnya dengan kau disana. Ini jengah. Ini lelah. Pertanyaan yang sama, dengan tarikan memori yang sama. Kapan aku lupa, jika teman-teman kita masih menanyakan kabarmu padaku.

“Hei, apa kabarnya dengan xxx ? Lancarkah ?”

“Gimana ? masih langgeng kan ya ?”

“Si Dia, mana ?”

Gerah. Senyum yang sama, ekspresi yang sama, jawaban yang sama pula. Mereka tak bersalah, hanya tak tahu apa-apa. Mana mungkin aku marah-marah. Tapi tak mungkin pula  kujelaskan semuanya., atau Haruskah ? 

2. Saban hari sering bertanya, “Sedang Apa kau disana ?” Tapi kini semua sirna. Hanya sunyi yang tersisa.

Sunyi ini bukan sepi. Hanya diam yang seakan tak peduli. Ini bukan tentangmu yang tak mengabari. Ini tentangku yang memilih pergi menghindari.  Flashback, memori-memori tentangku yang terus mencari kabarmu yang sungguh berarti. Dulu. Senggang waktuku, ku pastikan menghubungimu. Sekedar untuk bilang “Hai”, Sekedar bertanya “Sedang apa kau disana?”. Hingga barangkali kau gerah dengan tingkahku. Itu bentuk perhatianku padamu. Dulu.

Memang awalnya harus kutekan setengah mati rindu yang datang menghampiri. Tapi waktu memberi garansi bahwa rindu pun bisa diminimalisasi. Kini, bukanku enggan menyambung silahturahmi padamu sang alumni hati. Aku hanya tak ingin kembali mengenang cinta yang telah mati.

3. Apa aku salah mengira, sepertinya kau anggap aku buta. Atau memang dengan sengaja membunuhku dalam prasangka ?

Do not lie !

Do not lie ! via http://weheartit.com

Ada masanya saat hatiku remuk dan patah. Aksiku tak bisa ku kontrol sepenuhnya. Logikaku bilang iya, tak mengapa. Tapi rasaku memberontak tak terima. Bukan karena masih cinta, tapi harga diriku yang terluka. Andai saja kau ungkapkan yang sebenar-benarnya fakta, bisa jadi aku masih menyambutmu dengan ramah. Sayangnya kau pilih dusta dengan dalih tak tega. Padahal dulu kita sepakat menyampaikan realita kala harus memilih berpisah. Kenapa malah tak konsisten dengan kata ?

Jika kau mau berselubung dalam dusta, melindungi diri dari rasa bersalah, tolong lakukan dengan lincah, tidak hanya setengah-setengah. Toh, kau tahu tidaklah mudah membodohiku sepenuhnya. Aku pandai berpura-pura, seolah tak tahu apa-apa. Padahal, bah, kau mudah sekali ku baca. Layaknya melihat majalah, aku tahu dengan sekilas mata. Kau kira aku buta ?

Hei kau, alumni hati, kalau memang sudah berpindah hati, mengapa lama mempertahankan diriku disisi ? Kau bukan hanya membohongi diri, tapi juga mengambil hakku untuk sendiri.  Pantas saja, kau hilang dan pergi tanpa permisi. Aku bukan cadangan hati untuk kau pertimbangkan sekali lagi sebelum kau memastikan diri bahwasanya ia menerima kau disisi.  

4. Kau gerah diserang kata. Bahkan putus pun tak kutanya.

Aku ini manusia yang tak pandai menyimpan rasa. Tak mungkin kesalku kupendam saja. Bisa sakit aku jadinya. Maka jaringan sosial ku anggap lumrah untuk sedikit melepas sesak di dada. Hanya satu-dua kalimat saja. Tak pernah kuserang kau dengan kata dalam statusku yang kuanggap biasa. Lalu kenapa kau tersinggung dan marah ? Kau bilang ku menghujam kata. Sungguh membuatku ingin tertawa. Jika kumau membalasmu dengan tega, sangat mudah bermain drama. Aku korban dan kau tersangka. Mudah memojokkanmu dalam salah. Kau bahkan bisa kehilangan muka. Lalu kutikam kau hingga berdarah. Untungnya Tuhan masih menjaga, ku tepis semua geram di dada. Dan kuucapkan empat kata. Maaf jika ku bersalah.

5. Kau memang datang menyapa, sekedar tuk berteman saja. Tapi ini tentang rasa yang tersakiti oleh dusta.

How could I ?

How could I ? via http://i.ytimg.com

Mereka bilang aku tak dewasa, tak menerima akhir kita. Kau boleh percaya, boleh pula kau sangkal aku sekuatnya. Tapi inilah realita. Bukannya aku mendendam rasa, bukan pula menampik dengan tega. Aku tau, kita pernah lama bersama, bahkan satu dasawarsa. Sekedar sapa mungkin tidaklah apa, tapi jika harus berteman seperti sediakala, sungguh mustahil rasanya.

Bukan aku tak dewasa. Aku hanya ingin lupa.

6. Belum genap ku menata rasa, kau telah kembali berdua.

And you prove it

And you prove it via http://hdwpics.com

Kuakui, kau pandai berpuisi, juga pintar memikat hati. Mana mungkin dia tak jatuh hati ?

Bukan cemburu, bukan pula menghakimimu. Tiada yang tau kapan akan datangnya cinta. Mungkin besok, mungkin lusa, atau mungkin pada detik berikutnya. Aku tak berniat menyalahkanmu, juga tak berhak merecoki hidupmu. Hanya bermaksud mengkritisi hati yang tak mau merugi. Karena ku tau ini sebelum kau menarik diri. Bukan sebelum kabar yang tak sampai seratus hari.

Semoga dia lah akhir pelabuhan cinta sejati. Cukup aku yang kau ingkari hingga tercabik cinta di hati. Jangan lagi kau tambahi deretan ironi patah hati.

 Dan kuharapkan sekali lagi, jangan kau hubungi aku seringkali. Tolong pikirkan dia yang disisi. 

7. Kini hidupku lebih indah. Sendiri pun aku bahagia.

I'm single, Free, and very Happy

I'm single, Free, and very Happy via http://sharingdisini.com

Aku tidaklah berpura-pura. Ku nikmati sendiriku dengan sepenuh jiwa. Kau tahu ? Ternyata ada banyak cinta yang menantiku di luar sana. Bukan hanya satu atau dua, lebih banyak dari yang kukira. Tersentak aku awalnya. Ah, sudah terlalu lama aku menutup mata, hanya terpaku padamu saja. Kini ku syukuri cinta yang mendamaikan dada. Jika bukan karna berpisah, mungkin takkan ku sadari selamanya bahwa aku telah mengabaikan surga. Karna disini aku menjadi apa adanya. Tak perlu ku berpura-pura atau pun menekan rasa. Disini mereka semua menerimaku yang sebenarnya.

8. Akhirnya terima kasih yang tak terkira padamu yang pernah memberi rasa..

Mungkin belum sempat ku-utarakan sebelumnya. Memang ada kesal yang tersisa. Bukan benci. Hanya muak pada fiksi yang kau buat seolah fakta. Namun tak ingin ku pungkiri dengan sengaja. Kuucapkan terimakasih yang tak terkira padamu yang pernah memberi rasa. Juga yang pernah mengajarkan cinta, walaupun menggores luka, kuanggap itu sebagai harga atas pelajaran yang tak terhingga.