“Untuk ibuku tersayang. Orang yang setiap hari tak pernah hentinya memarahiku habis-habisan. Tapi tahukah kalian, ibuku tak pernah sudi melihatku dimarahi orang lain, walupun itu ayahku?”

Ketika suatu malam aku tak sengaja pulang terlambat ke rumah, ibuku dengan tampang sangat tak bersahabat seperti tikus kepanasan memakiku habis-habisan. Tak ada kata yang mampu ku ucapkan selain menyimpan amarah yang tak tertahankan di lubuk hati yang paling dalam. Aku ini manusia, manusia yang butuh kebebasan dan tak suka dikurung seperti burung. Aku ini manusia, senang dicintai dan benci dimarahi.

Ketika suatu pagi aku terlambat bangun pagi. Ibuku mengambil air dingin lantas menyapukannya ke wajahku yang masih sejuk terbalut bekas mimpi semalam. Mimpiku buyar, mimpiku hilang. Ibuku seenak jidat menghapus mimpi tersebut, dan malah membangunkanku disaat aku tak ingin diganggu. Dengan wajah masam tanpa senyum ia memakiku karena bangun terlambat, padahal sang  mentari saja belum tampak jelas menunjukkan batang hidungnya.  Saat itu, tak ada perasaan lain yang kusimpan kepada ibuku selain perasaan jengkel karena telah membangunkan disaat aku ingin tidur terlelap melanjutkan mimpi indahku.

Suatu siang yang terik. Ketika sang mentari sambil tertawa sinis memancarkan cahayanya yang menguras isi tenggorokan dan hampir membakar kulit, ibuku menyahutiku dari jarak jauh untuk makan siang. Aku sedang asyik memainkan jemariku diatas keyboard komputerku. Aku sedang sibuk, sedang fokus mengerjakan tugas kuliahku. Sedang fokus mempersiapkan masa depanku agar kelak aku bisa menjadi orang yang sukses dan tidak diinjak-injak oleh orang lain. Namun apalah daya, konsentrasi itu langsung hilang seperti dimakan capung jahat, sahutan ibuku melengking menusuk pangkal telingaku yang paling dalam. Telingaku memekik mendengar celotehan ibuku memanggilku untuk makan siang. Hanya sekedar makan siang, dan sedikit terlambat saja, marahnya sudah bukan main. Hanya sekedar makan aku harus dimarahi? Ayam saja tak pernah diurus mau makan atau tidak. Kalau toh aku tidak makan, urusan tidak akan repot bukan? Pada saat itu aku mengganggap ibuku sebagai pengganggu konsentarasi. Menyebalkan.

Dan pada suatu malam, ketika  jangkrik dan katak masih asyik bersahut-sahutan di kolam depan rumah, konsentrasi lagi dan lagi terganggu oleh suara ibuku yang mengingatkanku untuk segera tidur. Jam dinding masih menunjukkan pukul 12 malam, belum tidur itu adalah sesuatu yang normal bagi seorang mahasiswa super sibuk seperti diriku ini. Ada banyak tugas kuliah yang harus segera diselesaikan, belum lagi tugas organisasiku yang sebagai aktifis organisasi papan atas dan memegang posisi yang strategis. Mengapa hanya sekedar tidur ibuku  harus ikut campur. Bukankah aku sudah masuk kedalam kategori dewasa. Mengapa harus terlalu banyak yang ia ganggu dalam hidupku. Puncaknya aku ingin marah, ingin pisah rumah, agar aku bisa tenang dan konsentrasi untuk melakukan apapun yang aku inginkan. Makan tidak perlu diatur, telat tidur tidak perlu di marah-marah, tidak ada penunggu pintu saat pulang terlambat kemudian tanpa basa-basi memarahiku, ataupun bangun pagi tak harus diganggu oleh omelan sang ibu. Aku ingin hidup bebas, tanpa gangguan ibu.

Hingga suatu malam, itulah puncaknya. Tengah malam ketika jangkrik dan katak sudah berhenti membuat ulah. Ketika bintang dan rembulan sedang bersantai menghirup udara malam. Ketika yang bernyawa memejamkan mata. Ketika yang bernafas menidurkan detak jantungnya. Tak sengaja aku keluar melewati kamar ibuku. Semua lampu dipadamkan, namun lampu kamar ibuku masih terang benderang, pintunyapun sedikit terbuka. Pada saat itu aku hanya merasa masa bodoh akan hal itu, kembali saja ke tempat tidurku. Namun saat badanku sudah memutar 45 derajat, tubuhku langsung membeku, darahku serasa berhenti mengalir, jantungku serasa tak berdetak lagi. Ibuku sedang menangis sambil berdoa kepada yang kuasa. Disela-sela doa dan tangisannya, ada namaku disebut. Ia sambil meneteskan air mata berdoa agar aku tumbuh menjadi anak yang kuat, tegar, pintar, dan bisa menggapai mimpi-mimpi yang aku inginkan. Air matanya semakin deras mengalir, namun tubuhku semakin membeku seperti batu es kutub. Ternyata Ibuku setiap tengah malam selalu bangun malam dan mendokan untuk masa depannku. Ibu sayang kepadaku. Semua yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnya kepadaku. 

1. Marah seorang ibu adalah wujud cintanya

Marahmu adalah Cintamu via https://www.google.co.id

Ibu memarahiku pulang terlambat karena semenjak aku keluar rumah ia sudah sangat khawatir dengan keadaanku. Apalagi melewati jam yang telah disepakati, ibuku bukan main khawatirnya. Ibu takut ada orang yang berniat buruk mengajakku bermain yang tidak-tidak, ibu takut aku bergaul dengan orang yang salah. Selama aku tak ada dirumah, maka selama itu pula ibu mencemaskanku. Sehingga ketika aku pulang terlambat, rasa cintanya tercermin melalui kemarahannya. Ibu tak ingin aku pulang terlambat lagi, itu adalah makna dari kemarahannya malam itu.

2. Pengorbanan ibu adalah semata-mata demi masa depanku

Tangisanmu adalah lukaku via https://www.google.co.id

Ibuku membangunkanku pagi-pagi karena ia sebenarnya sedang mengajariku arti kedisiplinan. Hanya orang disiplin dan yang bagun pagilah yang akan menjadi orang yang sukses di masa depan. Ibu tak ingin anaknya menjadi orang yang tidak sukses dan menjadi orang yang pemalas, itulah sebabnya mengapa ibu sampai rela membalutiku dengan air dingin agar akus segera terbangun. Ternyata kemarahannya pagi itu demi masa depannku. Namun sayang, aku sudah terlanjut menyumpahinya pagi itu. Tuhanpun sudah mencatat dosa besar ku pagi itu.

3. Ibu adalah lambang kasih sayang tak terhingga

Terimakasih ibu. via https://www.google.co.id

Advertisement

Siang itu ibu marah karena aku terlambat makan siang. Hal yang paling dibenci oleh ibu adalah melihatku sakit. Ibu akan merasa sakit apabila aku sakit. Ibu tak ingin melihatku sakit. Hatinya akan tercabik-cabik apabila melihatku tergolek lemas diatas ranjang.

Ibu adalah orang yang pertama yang paling terluka melihat anaknya jatuh sakit. Terlambat makan adalah salah satu penyebab utama sakitku. Oleh karena itu, ibu tak pernah ingin aku melewatkan makan. Ibu rela menunggui semua anaknya makan, asalakan anaknya segera makan. Ibuku itu aneh, bayangkan saja, ia tak akan pernah bisa menyentuh nasi sebelum perut anaknya penuh. Makan sisa pun tak masalah, bahkan tanpa lauk. Ibu sudah sangat merasa kenyang ketika anak-anaknya tertidur pulas kerena kekenyangan. Sesusah apapun keluarga kami, ibu tak akan pernah membiarkan perut kami kosong. Kemarahan siang itu adalah bentuk kesayangan tak terhingga ibu kepadaku.

4. Apa rahasia cintamu, Ibu?

Cintamu seluas lautan biru. via https://www.google.co.id

Dan malam itu. Aku benar-benar salah paham kepadanya. Ibuku benar-benar menghawatirkan kesehatanku. Ibu ingin aku segera tidur karena ia tak ingin aku kekurangan tidur lantas terserang penyakit. Tahukah kalian, ketika jam 12 malam itu aku belum tidur, ibuku pun belum tertidur,  ia dikamarnya sengaja menunggu lampu kamarku padam, memastikan aku telah tertidur. Apabila sampai pukul 4 dini hari aku belum tidur, maka sudah pasti ibu juga tidak akan tidur. Ibu bahkan mengaharamkan dirinya untuk tidur sebelum semua anak-anaknya tertidur dengan pulas. Lagi-lagi, fitnah kejam telah aku tusukkan  pada dada ibuku malam itu. Ibu, ternyata kasih sayangmu tak terhingga sepanjang masa. 

5. Tak bisa aku rupiahkan jasa ibu selama hidupku

Jasa yang tak akan pernah aku lupakan. via https://www.google.co.id

Kawan, tahukah kalian jasa-jasa apa saja yang pernah ibu kita masing-masing pernah goreskan dalam lukisan kehidupan kita? Ada milyaran jasa bahkan tak terhitung yang telah diberikannya kepada kita semua. Tahukan kalian siapa orang yang pertama kali bangun pagi-pagi ketika mentari pagi saja masih tertidur pulas? Tahukan kalian siapa orang pertama yang ada di meja makan, namun terakhir kali mendapatkan bagian makanan? Tahukah kalian siapa orang senantiasa bangun paling akhir namun sekaligus bangun paling awal?

Jawabannya adalah ibu. Ia adalah malaikat Surga yang tak akan pernah tergantikan. Lantas meskipun ibu sering kali memarahiku, beranikah aku membencinya? Aku justru malu.

Berapa jasa ibuku, suatu hari aku bertanya kepada tuhan, tuhan menjawab, “Pernahkah aku melihat bintang di langit?” Aku jawab pernah, dan jumlahnya tak terhingga. Maka Tuhan pun menjawab, jasa ibumu jauh, jauh dan jauh lebih luas dan besar dari jumlah bintang itu. Lantas saat itu bibirku ternganga, darahku berhenti mengalir karena membaku, tulangku seperti remuk dihantam batu. Ibu, beranikah aku membencimu?