Saya pernah bertanya tentang anime pada teman saya yang suka menonton tayangan anime. Kami berbicara banyak tentang anime apa saja yang sedang disukai banyak orang. Ketika kami sedang asik membahas, obrolan saya tersendat ketika teman saya mengatakan bahwa anime Jepang sangat berbeda dengan kartun pada umumnya. Saya bertanya-tanya, Apa yang membedakan anime Jepang dengan kartun yang saya sering tonton setiap hari minggu sewaktu masih kecil?

Untuk orang awam, pasti akan berpikir tidak ada bedanya sama sekali. Jawaban berbeda apabila kamu bertanya pada Otaku. Otaku sendiri dalam bahasa Jepang memiliki arti seseorang atau kelompok yang menggemari anime atau manga (komik Jepang). Mereka akan murka apabila anime Jepang disamakan dengan kartun pada umumnya. 

Supaya kamu tidak diamuk massa oleh para Otaku. Berikut hal-hal spesifik yang membedakan antara anime Jepang dengan kartun pada umumnya yang saya ketahui.

 

 

1. Tokoh: Tokoh dalam anime dibuat penuh detail, tokoh dalam kartun dibuat sederhana namun menarik

Nampak Sekilas Aja Udah Mencolok

Nampak Sekilas Aja Udah Mencolok via http://aminoapps.com

Dalam segi pembuatan tokoh cerita, sudah bisa dibedakan. Misalnya saja tokoh Naruto dengan Spongebob Squarepants. Keduanya mempunyai detail dan dasar objek yang berbeda.

Spongebob Squarepants dibuat berdasarkan bentuknya yaitu dari spon. Selain fisik yang menyerupai spon, dalam tayangan Spongebob Squarepants, juga dilihatkan sifat-sifat dari spon sendiri. Sifat yang diperlihatkan yaitu bisa menyerap benda cair seperti spon yang biasa kamu pakai untuk mandi atau mencuci.

Lain halnya dengan Naruto. Untuk pembuatan Naruto, pembuatannya penuh detail dan memiliki ciri khas tertentu. Secara umum, ciri khas anime Jepang yaitu pada bagian rambut dan mata. Selain ciri khas, pembuatan tokoh anime juga memiliki pola sendiri. Yang terakhir, karakter anime sangat realistis dan bukan khayalan.

2. Jalan cerita: Jalan cerita anime lebih kompleks sedangkan jalan cerita kartun lebih sederhana dan banyak bermain jokes

Naruto Udah Masuk Berapa Episode. Tapi Ceritanya Belum Kelar Sampai

Naruto Udah Masuk Berapa Episode. Tapi Ceritanya Belum Kelar Sampai via http://cartooon-wallpaperz.blogspot.co.id

Selain karakter, jalan cerita juga menjadi perbedaan. Walau sama-sama diciptakan untuk menghibur. 

Dalam anime Jepang, jalan cerita memang sengaja dibuat kompleks karena inti cerita akan tersambung dengan satu tokoh dengan tokoh lainnya. Anime Jepang juga bermain settingan waktu, tak jarang dibuat alur maju-mundur untuk mempertegas cerita. Tak heran jika banyak Otaku yang penasaran dengan alur ceritanya dan tidak mau kelewatan satu episode pun.

Sedangkan kartun pada umumnya hanya mengambil tema-tema sederhana. Secara umum, cerita hanya berkutat pada keseharian tokoh atau budaya dari daerah tertentu. Walau ceritanya sederhana, tetapi serial kartun diperkuat dengan jokes-jokes sebagai pemanis. Jokes yang dibuat bisa berupa verbal atau slapstick.

3. Proses pembuatan: Anime Jepang bermula dari komik sedangkan kartun umumnya dimulai dari nol atau film layar lebar

Sebelum Muncul Versi Anime, Manga Dahulu Yang Pertama

Sebelum Muncul Versi Anime, Manga Dahulu Yang Pertama via http://www.cuded.com

Proses pembuatan juga berasal dari sumber yang berbeda. Lebih tepatnya adaptasi dari karya yang sudah dibuat. Anime Jepang kebanyakan diadaptasi dari komik atau novel yang laris dipasaran. Komik atau novel tersebut yang sudah memiliki pamor lalu dibuat menjadi anime. Alasannya adalah karena sudah memiliki pamor di masyarakat sehingga tidak mengalami kesulitan dalam promosi.

Lain halnya dengan kartun. Kartun pada umumnya justru ada yang dimulai dari nol. Tetapi tak jarang yang dimulai dari film layar lebar. Memang satu dan lainnya berbeda, tergantung pihak yang menayangkan. Namun, jikalau ingin dibuat dalam bentuk lain, maka hal yang pertama dilakukan adalah mencari pasar terlebih dahulu.

4. Pewarnaan tokoh : Anime Jepang pewarnaannya sangat meriah sedangkan kartun pada umumnya sesuai realita

Sugoi desu yo!

Sugoi desu yo! via http://nihongogo.com

Pewarnaan tokoh juga menjadi salah satu kunci dalam memperjelas tokoh dalam sebuah cerita. Tak terkecuali anime dan kartun. Anime Jepang pada umumnya memakai warna yang ngejreng dan ramai. Perwarnaannya meliputi rambut, mata, kostum hingga pretelan-pretelan si tokoh. Semua pewarnaan yang dipilih berdasarkan imajinasi si animator. Untuk satu tokoh saja bisa dari rambut berwarna biru, mata warna coklat, pakaiannya bercorak biru, hitam, begitu juga dengan sepatu dan lain-lain. Jarang juga dalam anime memakai warna-warna dasar, karena itulah banyak orang membuat cosplay dari tokoh tersebut.

Untuk kartun, pada umumnya hanya memakai warna yang umum di mata masyarakat. Kebanyakan hanya bermain gradasi atau satu warna dasar. Lantaran warna dasar sudah bisa mewakili karakter si tokoh tersebut. Misalkan tikus, maka warna yang dipakai adalah coklat. Sama halnya dengan Spongebob Squarepants, warna yang dipakai ya kuning. Pewarnaan dalam tokoh kartun bisa mewakili karakter tokoh itu sendiri.

5. Genre: Anime Jepang memiliki bermacam-macam genre, sedangkan kartun pada umumnya hanya memakai batasan usia

Nggak Cuma Sinetron Yang Penuh Drama. Anime Juga Ada Yang Penuh Drama

Nggak Cuma Sinetron Yang Penuh Drama. Anime Juga Ada Yang Penuh Drama via http://muthinuraliya.blogspot.co.id

Karena banyak jenis anime Jepang yang beredar, maka diberi pengelompokan agar masyarakat bisa memilih yang mau ditonton. Jika dihitung, ada banyak genre anime. Secara umum ada Action, Sci-Fi, Ecchi, Harem, Fantasy, Hentai, Mecha dan Sport. Untuk drama sendiri juga dibagi beberapa seperti School Life (cerita seputar sekolah), Seinen (Berhubungan dengan kedewasaan pada cowok), Shoujo ( Biasanya melibatkan percintaan dan pengembangan karakter pada perempuan) dan Shounen (sama dengan Shoujo, namun pada cowok).

Sedangkan kartun pada umumnya jarang memakai pengelompokan genre. Lantaran cerita dalam kartun tidak ada yang spesifik, hanya mengangkat keseharian dan budaya daerah tertentu. Sebagai gantinya, pengelompokannya menggunakan batasan usia. Batasan usia dipakai sebagai patokan karena selain cerita, jokes dan adegan yang ditampilkan ada yang sesuai ditonton anak-anak dan ada yang tidak.

6. Original soundtrack: Anime Jepang memakai musisi sebagai pengisi OST, kartun pada umumnya hanya instrumental atau mencover lagu terkenal

FLOW, salah satu musisi yang ngisi OST Naruto

FLOW, salah satu musisi yang ngisi OST Naruto via http://www.syncmusic.jp

Pengisi Original Soundtrack (OST) juga sangat berpengaruh. Anime Jepang dan kartun pada umumnya memiliki pandangan yang berbeda.

Anime Jepang selalu memakai musisi untuk mengisi original soundtrack. Tentu saja musisi ternama dari Jepang, lagu yang dipilih ada diambil dari album si musisi atau sengaja dibuat khusus untuk anime. Tidak cuma opening yang memakai jasa musisi. Untuk closing pun juga sama. Faktanya, untuk serial Naruto saja sudah memakai 17 OST sebagai opening maupun closing. OST dianggap penting karena mampu mewakili cerita dari anime tersebut.

Untuk kartun beda lagi, khususnya yang tayang di Nickelodeon atau Cartoon Network. Setiap kartun yang tayang dari Nickleodeon atau Cartoon Network hanya memakai OST yang itu-itu saja. Opening dan closing selalu sama sampai kartun tersebut bubar. Selain hanya dua, OST yang dipakai hanyalah instrumental atau lirik yang mudah diingat. Selain itu, sering juga kartun pada umumnya memakai cover dari lagu musisi ternama. 

7. Settingan tempat: Anime Jepang memakai setting tempat yang sesuai dengan keadaan di Jepang, sedangkan kartun pada umumnya adalah hasil imajinasi si kreator

Sesuai Realita Bukan

Sesuai Realita Bukan via https://wall.alphacoders.com

Settingan tempat bisa mewakili apa isi sebuah cerita. Begitu pula pada tayangan animasi.

Anime memakai settingan tempat yang sesuai dengan keadaan di Jepang saat ini. Walau tokoh yang dimunculkan ada yang terinspirasi suatu peristiwa maupun fiktif, namun tetap tidak menghilangkan settingan Jepang itu sendiri. Tak jarang, orang yang gemar menonton anime mengetahui budaya dan kebiasaan warga Jepang, lantaran sesuai dengan apa yang terjadi.

Lain hal dengan kartun. Kartun umumnya hanya mengambil settingan tempat yang sederhana atau berdasarkan imajinasi si kreator. Seperti yang sudah disebutkan, cerita yang dipakai tayangan kartun pada umumnya seputar keseharian tokoh atau budaya sekitar. Jadi settingan tempat disesuaikan dengan cerita dan tokoh. 

8. Emosi: Anime Jepang mampu membuat penikmatnya baper mendadak. Kartun pada umumnya hanya memberikan hiburan semata

Ya Begini Nih Kalau Lagi Baper Anime

Ya Begini Nih Kalau Lagi Baper Anime via https://www.pinterest.com

Seringkah kamu merasa baper ketika menonton anime? Khususnya anime yang memakai dubbing bahasa Jepang. Itulah salah satu kekuatan anime Jepang. Walau hanya menampilkan animasi, namun tak jarang membuat penikmatnya baper mendadak. Karena dalam anime, cerita yang dibuat sangat kompleks sehingga membuat penikmatnya memiliki ikatan emosi tersendiri. Tidak jauh berbeda dengan sinetron dan drama Korea.

Jika kartun pada umumnya sangat jarang memunculkan sisi emosional, untuk hal ini, yang saya maksud adalah serial kartun. Tidak mempunyai ikatan emosional bukan berarti tidak ada peminatnya. Umumnya, si peminat hanya menyukai salah satu karakter atau jokes yang dipakai si tokoh tersebut. Hal ini akan berbeda apabila ditayangkan dalam film layar lebar.