"Pria yang kau cintai mungkin bisa saja menyakitimu. Namun hanya ada satu pria yang mencintaimu setulus hati dan dengan segenap jiwanya yang takan pernah menyakitimu. Dialah sosok yang kau panggil, Papa."

Teruntuk lelaki pertama yang hadir di dalam hidupku... Aku tahu, aku bukan wanita pertama yang hadir di dalam hidupmu. Karena dua puluh dua tahun yang lalu, jauh sebelum aku di lahirkan, kamu sudah memiliki wanita pertama yang menempati posisi di hatimu.. ya, dialah sosok wanita luar biasa yang melahirkanku untuk bertemu denganmu.

Teruntuk lelaki pertama yang namanya kulafalkan pertama kali.. Aku tahu, aku bukan wanita pertama yang kau lafalkan namanya. Karena dua puluh dua tahun yang lalu, kau telah melafalkan sebuah nama di depan Altar untuk menjadi pendamping seumur hidupmu.. dialah sosok wanita anggun dan mempesona yang mempertemukan kita.

Teruntuk lelaki terbaik seumur hidupku.. Apa kau sadar bila selama dua puluh dua tahun hidupku, aku tak pernah berucap satu pun kata sayangku padamu secara langsung? Yah.. Salah satu hal manusiawi yang kumiliki adalah gengsi, terlepas dari sikap yang sama, yang kuwarisi darimu. Sikap gengsi begitu melekat pada diriku meski sudah dua puluh dua tahun kita bersama.

Teruntuk lelaki yang kupanggil Papa..  Saat kamu membaca ini, tolong maafkan aku yang tetap memelihara sikap gengsi ini meski itu padamu.

Pa, aku masih ingat jelas saat kau mengatakan:

"Kadang seseorang yang sangat menyayangimu adalah seseorang yang paling susah mengatakan betapa ia menyayangimu, berbeda dengan yang sering mengumbar perasaannya padamu."

 

Kalimat ini masih tertanam jelas di dalam memori tentangmu. Dan harus kuakui itu benar adanya, Pa.

Seberapa besarnya rasa sayangku padamu, aku tak pernah bisa mengungkapkannya dengan mulutku sendiri. Padahal hatiku sungguh menyayangimu, hampir sama besarnya dengan kasih sayangmu kepadaku meski kasih sayangku ini masih tak bisa mengalahkan cinta dari seorang Papa ke anaknya.

Teruntuk kamu.. Kali ini kuberanikan diri untuk menuliskan ini kepadamu.

Sekedar mengingat setiap memori indah yang kita lewati bersama tanpa pernah kau menyakiti hatiku.

 

1. Ayah, Masih teringat jelas saat kau menggendong tubuh mungilku

punggungmu tempat ternyaman bagiku

punggungmu tempat ternyaman bagiku via http://weheartit.com

"Rumah kecil nan sederhana kita boleh terbakar di kala kerusuhan tahun 1999, tempo lalu. Namun ingatan masa kecil yang kuhabiskan bersamamu, takan pernah terbakar."

 

Papa.. Masih ingatkah Papa tentang bagaimana proses kelahiranku di tahun 1994? Kata Mama, lelaki yang paling tak sabar dan sangat bersemangat menanti kelahiranku adalah Papa. Bahkan dengan lututmu yang capai setelah berlari-lari dari tempatmu bekerja untuk bisa sampai di rumah dan melihat bagaimana perjuangan Mama melahirkanku, engkau masih sempatnya menguatkan tenaga dan berlutut untuk berdoa di depan patung Bunda Maria yang ada di ruang keluarga, demi menanti kelahiranku. Sebelum aku lahir pun, kau telah membuat sebuah novena kepada Bunda Maria meminta keselamatan bagi dua wanitamu, Mama dan aku. 

Aku terharu mendengar setiap cerita Mama saat itu.

Papa.. Aku masih ingat masa-masa dimana 'si kecil' aku berusia tiga tahun, kau mengajariku segala sesuatu tentang dunia yang saat itu telah kuinjak dengan dua kaki kecilku. Aku masih ingat saat Papa berjuang keras demi menafkahi aku dan Mama, dua wanita yang sebenarnya sungguh merepotkan, tapi kau tak pernah mengeluh saat harus pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Di tengah kesibukkanmu mengurus tugas akhir kuliah demi mendapatkan gelar sarjanamu, kau bekerja sebagai buruh perahu yang mengarungi lautan demi menyeberangkan orang dari pulau sebelah ke pulau sebelah. Saat itu peminat perahu masih banyak dan mereka lebih memilih naik perahu yang harganya kelas menengah ke bawah, ketimbang harus naik kapal feri yang harganya masih sangat mahal saat itu.

Teringat jelas saat kau selalu membawaku ikut bersamamu ke manapun perahu kita pergi dan aku selalu duduk di tempat duduk paling depan dan menjadi seorang kenek dari supir perahu. Betapa bahagianya aku saat itu meski hanya mendapat recehan hasil bayaranmu kepadaku. Mungkin bagi anak kecil sepertiku saat itu uang receh adalah uang dengan nominal paling besar. Tapi memikirkan lagi, Papa.. bukan uang receh yang membuatku bahagia tapi menghabiskan masa kanak-kanakku bersamamu adalah suatu kebahagiaan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Bahkan uang dengan nominal Rp 100.000,- pun takan bisa membeli kebahagian itu.

 

"Uang besar itu takan bisa membeli kebahagiaan uang receh yang kudapatkan darimu kala itu."

 

Teringat jelas saat kita pulang saat matahari telah terbenam di ufuk barat, kita berdua berjalan hanya ditemani cahaya rembulan dan melewati tiap lorong gelap demi sampai ke rumah dimana ada wanita yang menanti kita berdua di sana. Saat kaki-kaki kecilku telah capai berjalan, kau dengan tubuh yang sudah sangat lelah, masih berjongkok di hadapanku dan menyuruhku naik ke punggungmu.

 

"Seumpama akar yang menopang sebuah tunas muda bertumbuh ke atas dan menjadi pohon yang kuat, begitulah punggung Papa."

 

Tapi 

Papa...

Usiamu kini sudah tak lagi muda seperti dulu. Tulang-tulangmu sudah tak sekuat dulu saat kau menggendongku melewati masa-masa sulit kita sebelum kita sampai di tahap ini. Karena itu, tolong berhentilah memaksakan dirimu berjuang dan bekerja keras demi aku.

Aku bukan lagi bocah tiga tahun yang harus kau gendong. Aku sudah bertumbuh menjadi pohon yang kuat dengan akarmu. Aku tahu, proses untuk menghasilkan buah yang baik itu tidaklah cepat. Karena itu Papa, bersabarlah sebentar lagi. Kelak, bukan Papa lagi yang menjadi tulang punggung kami tetapi putri kecilmu ini.

2. Pengorbananmu Kepadaku tak terhingga

lelaki edisi khusus pemberian Tuhan untukku

lelaki edisi khusus pemberian Tuhan untukku via http://weheartit.com

"Di kala anak seusiaku harus menangis, merengek-rengek bahkan bisa jungkir balik minta hadiah, aku tak perlu melakukannya."

 

Tumbuh di keluarga sederhana, membuatku hidup serba pas-pasan. Tapi, Papa adalah sosok lelaki yang tak pernah berhenti bekerja keras demi membahagiakan aku dan Mama. Meski capai, ia tak pernah mengeluh. Dalam pikirannya sudah ter-setting untuk membahagiakanku dengan Mama. Karena itu, meski hidup kami serba pas-pasan, aku masih tetap bisa makan enak, aku tetap masih bisa bermain di timezone setiap akhir minggu dan hari libur, aku tetap punya pakaian-pakaian bagus dan mahal, dan yang lebih penting.. aku selalu punya jatah hadiah.

Berbicara tentang hadiah, aku jadi teringat masa-masa saat aku berada di sekolah dasar.

Papa, masih ingatkah saat aku sakit? Kala itu musim malaria ganas menyerang, menjadikan aku salah satu korban serangan ganas itu. Aku hampir mati karenanya. Tak ada satu pun asupan makanan yang bisa masuk ke perutku, karena selalu kumuntahkan keluar. Berhari-hari aku sakit, berhari-hari pula kau absen dari sekolah tempat kau bekerja sebagai seorang Guru demi hanya untuk menjagaku.

Masih teringat dengan jelas saat kau berlari-lari dengan bertelanjang kaki--tanpa alas kaki kau berlari-lari sembari menggendongku menuju rumah sakit dan berteriak minta pertolongan tim medis. Saat itu beberapa orang mungkin saja berpikir kau adalah pria gila di lihat dari kondisi baju yang urak-urakan, tanpa alas kaki, dan berteriak histeris, atau bisa saja beberapa orang tengah mengiba kepadamu. Tapi, Pa.. ketahuilah hal ini, kalau saat itu aku bukanlah anak yang tengah kau gendong itu melainkan salah satu diantara orang-orang itu, aku akan menangis tersedu-sedu melihat kakimu yang terpapar panasnya sengatan matahari di aspal jalan.

Masih teringat jelas betapa syahdunya doamu di kupingku dan dengan kedua lututmu, sekali lagi kau berdoa kepada Tuhan meminta kesembuhanku tanpa peduli menggunakan alasan lutut yang menopang tubuhmu. 

 

"Doa yang paling manjur adalah doa orang tua."

 

Tindakanmu membuat Tuhan memberikanku kesembuhan. Suatu mujizat dari doa orang tua yang diberikan kepada anaknya. Aku tak berhenti berterima kasih atas doa yang kau panjatkan padaku kala itu.

Pa ...

Mungkin doaku tak sebagus doamu, tapi ketahuilah satu hal ... dalam setiap doaku, selalu ada namamu dan nama Mama yang pertama kusebut, meminta Tuhan memberikan kalian umur yang panjang. Aku juga minta Tuhan agar mengambil nyawaku sehari sebelum Tuhan mengambil nyawa kalian, karena aku tak tahu bagaimana hidupku tanpa kalian berdua.

 

"Kau orang pertama yang paling takut dan cemas melihat aku terbaring lemah dan sakit di tempat tidur."

 

Semenjak hari itu, kau jadi orang pertama yang paling takut dan cemas melihatku terbaring lemah di tempat tidur karena capai atau karena sakit. Saat aku capai, hal wajib yang selalu kau lakukan adalah memijat seluruh tubuhku dan saat aku sakit, tidak dapat ragukan lagi kewajiban yang selalu kau lakukan adalah membeli boneka barbie kesukaanku--yang harganya tidaklah murah, demi melihat kesembuhanku. Dan anehnya, setiap kali kau membeli boneka, aku pasti langsung sembuh meski setinggi apapun demamku saat itu.

Suatu kebahagiaan lain yang tak pernah kulupakan adalah saat kau selalu tahu apa yang kusukai, apa yang kumau, apa yang kubutuhkan tanpa harus kuminta.

 

Papa: Nak, ayo makan.

Aku: Gak mau! Makanannya sudah dingin.

Papa: Mau sate ayam? Martabak? Ayam lalapan?

Aku: Kenyang

... beberapa menit kemudian ...

Papa: Ini ayam lalapan kesukaanmu.

 

 

Alih-alih mengatakan, "Gak mau dan kenyang," tetap saja aku tak bisa membohongi betapa laparnya aku.

Hal lain yang tak bisa kulupa adalah.. ketika Papa berpergian ke luar kota tanpa membawa aku dan Mama. Saat Papa tiba di rumah, semua koper yang di bawanya adalah pakaian-pakaian mahal dan bagus untukku dan Mama. Anehnya adalah, dibandingkan dengan Mama.. kau yang lebih mengetahui seluruh ukuranku, Pa. Mulai dari sepatu, baju, rok, celana, dan lain-lain, semuanya pas di tubuhku. Apapun itu mengenai aku, selalu kau tahu tanpa melihat bagaimana perubahan badanku yang mungkin saja naik atau turun saat kau berpergian ke luar kota.

 

"Ikatan antara aku dan Mama memang kuat, tapi ikatanku dengan Papa adalah yang terbaik."

 

Jika kulanjutkan menceritakan semua hal yang kuingat tentangmu, Pa.. aku jamin kalau aku pasti akan membuat semua hati anak perempuan iri terhadapku. Karena itu, biarlah kuceritakan beberapanya saja.

 

3. Saat aku mulai dewasa, kau mulai cemburu padaku

aku mulai sibuk dengan duniaku tapi kau tetap disampingku

aku mulai sibuk dengan duniaku tapi kau tetap disampingku via http://weheartit.com

"Lelaki yang paling setia menjagaku 24 jam dan mengencangkan sabuknya saat aku semakin bertumbuh, adalah sosok Papa."

 

Tahun berganti tahun. Aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Tak dapat dielakan lagi kalau aku sudah mengenal orang lain, bertemu dengan orang-orang baru di lingkungan sekitarku. Aku menjadikan beberapa di antara mereka sebagai sahabat dan teman. Namun, beberapa di antara mereka adalah pria yang kujadikan sebagai kekasih. Aku mulai mengenal dunia, aku mulai sibuk dengan duniaku. Aku mulai mengenal cinta dan aku mulai sibuk memberi kabar para pria itu dan mengabaikan seorang lelaki yang masih setia menungguku pulang.

 

"Jangan pacaran!"

"Jangan pulang malam!"

 

Saat mengenal cinta, aku mulai menjadi anak pembangkang yang mengabaikan larangan yang mengandung makna perhatian dan kasih sayangmu padaku Papa. Sikap pembangkangku itu kutunjukkan dengan mulai melawan laranganmu, misalnya melawanmu untuk jangan pacaran.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar sekarang di usia dua puluh dua tahun ini kalau laranganmu adalah caramu menghentikanku dari sakitnya jatuh cinta pada pria yang tak dewasa, yang hanya akan mempermainkan hatiku. Atau mungkin saja karena kau adalah seorang pria, jadi kau merasa tersaingi bila ada pria lain selain dirimu yang menempati ruang di hatiku. Benarkah itu bentuk kecemburuanmu, Pa? Ah.. Mungkin caramu menjagaku terbilang sangat overprotektif. Tapi terima kasih untuk itu, Pa.. aku tak lagi merasakan sakitnya jatuh cinta pada pria yang salah.

 

"Aku ingin menikah dengan seorang pria yang mirip sepertimu, Papa."

 

Papa..

Kalau suatu saat nanti kutemukan pria sepertimu, pria itulah yang akan kunikahi.

4. Aku tak tahu tanpamu apa artinya diriku

kapan dan dimana pun,

kapan dan dimana pun, "DAD!" via http://weheartit.com

"Aku bisa hidup tanpa ada sosok kekasih di hidupku. Tapi aku tak bisa hidup tanpa, Papa."

 

Pa .. Bila kuingat semua masa-masa aku menapaki sepak terjang dunia selama dua puluh dua tahun ini, aku adalah sosok anak yang paling kau banggakan ke orang-orang di sekitarmu. Bukankah begitu? Ya, tentu saja. Mendengar semua orang memuji-mujiku, pasti itu ulahmu yang menceritakan betapa bangganya dirimu terhadap prestasiku.

Bila kuingat perjalanan hidupku selama ini, tak pernah ada satu hari pun aku melewatkan hari tanpa ada kata bahagia. Aku selalu bahagia meski sesulit apapun keadaan kita, kau selalu membuatku bahagia. Bahkan kalau di pikir-pikir, meski beberapa tempo lalu keuangan kita tidak begitu stabil, tapi buktinya aku tak pernah menjalani hari tanpa kata, "Tak ada uang dan kelaparan." Kau selalu ada dimana pun dan kapan pun saat aku butuh. Kau selalu berusaha membuat hal yang terbaik untuk masa depanku. Bekerja untukku dan mencintaiku tanpa syarat.

Papa ..

Harus bagaimana nanti aku membayar semua kasih sayangmu? Terlalu sempurna. Entah bagaimana hidupku bila tanpa kamu. Bayangkan saja aku di pertemukan dengan seorang ayah lain yang tidak kompeten dan becus menjadi pelindungku.

5. Bagaimana cara menghapus airmatamu saat aku menikah dengan orang lain, Pa..

saat aku menikah nanti, bagaimana hatimu Pa? :

saat aku menikah nanti, bagaimana hatimu Pa? :"( via http://weheartit.com

"Airmatamu adalah hal yang paling tidak bisa kulihat di dunia ini. Karena itu, jangan menangis dan tersenyumlah dengan bangga karena putri kecilmu telah berhasil kau besarkan dengan baik."

 

Papa..

Akhirnya kita tiba di bagian terakhir. Ini memang belum terjadi, tapi kau tahu bukan, Pa.. suatu saat ini akan terjadi, mengingat aku semakin bertumbuh menjadi seorang wanita dewasa seperti saat kau menikah dulu dengan Mama. Ya, sama halnya dengan itu.. aku pun akan menikah dengan seorang pria, yang pasti pria itu bukan dirimu, Pa. Aku akan menikah dengan seorang pria yang hanya mirip sepertimu, tapi tidak akan pernah menggantikan posisimu yang pertama ada di hatiku.  Jadi, kelak nanti tolong jangan menangis, aku akan baik-baik saja karena telah kau titipkan pada seorang pria yang bisa menjaga hatiku sama seperti kamu menjaga hatiku selama ini.

 

"Aku menyayangimu, Papa. Terima kasih untuk segalanya dan maaf untuk segalanya. Aku menyayangimu."

 

with love,

Putri kecilmu