Euforia masa wisuda ternyata tak berlangsung lama. Gegap gempita rasa bahagia saat dinyanyikan lagu-lagu oleh maba di acara peresmianmu sebagai sarjana ternyata hanya awal dari sebuah kisah selanjutnya. Kamu mungkin baru sadar, bahwa momen wisuda menyimpan pertanyaan terselubung: Lalu apa?

Setelah jadi sarjana, apa yang harus kamu lakukan? Tentu saja mencari pekerjaan, memanfaatkan ilmu yang kamu geluti selama empat tahun untuk kehidupan nyata, dan mencari penghasilan sendiri sekaligus membanggakan orang tua. Sayangnya oh sayangnya, kehidupan pasca kuliah tak seindah yang kamu kira. Ekspektasi-ekspektasi tinggi yang dulu membuatmu ingin lekas-lekas lulus kuliah, terpaksa kamu sesali sebab kamu baru menyadari bahwa mencari kerja tak semudah mendapatkan gelar sarjana.

1. Banyaknya surat lamaran yang dilayangkan tak juga mengabulkan harapan. Justru lebih sering berakhir tanpa jawaban

Digantung tanpa jawaban via unsplash.com

Untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik setelah kuliah, kamu pun mulai rajin mencari lowongan kerja. Kamu membuka media sosial bukan lagi untuk menyapa teman ataupun menuangkan gundah gulana, melainkan untuk mencari informasi lowongan kerja. Dari jobfair ke jobfair kamu melangkah, dari satu website ke website lainnya, akunmu bertebaran, demi membuat satu kesempatan ke tahap wawancara.

Namun sayangnya, semua surat lamaran yang kamu tebar begitu banyaknya, belum juga ada yang menunjukkan hasilnya. Ada yang gugur setelah tes wawancara, namun banyak juga yang menggantung tanpa ada jawaban. Setiap hari kegiatanmu masih sama: mengirim surat lamaran dan entah kapan akan diterima.

2. Menganggur terlalu lama tentu menjadi tekanan. Iri rasanya melihat teman-teman seangkatan sudah setengah jalan menuju kesuksesan. Terlebih kamu tak ingin lagi merepotkan orang tua

Advertisement

Sudah bosan berdiam diri via unsplash.com

Ketika orang-orang mengeluh betapa menyebalkannya hari Senin, kamu justru orang yang paling bahagia saat Senin tiba. Siapa tahu hari ini kamu mendapat jawaban atas lamaran-lamaran yang kamu kirimkan. Kamu mati-matian mengembangkan rasa optimis dalam diri, dan berusaha menyambut hari dengan semangat lagi dan lagi.

Namun rasa tertekan itu tak bisa dipungkiri. Kamu begitu iri dengan teman-teman yang sudah mulai mengejar kesuksesan, kamu iri pada mereka-mereka yang berdesak-desakan di angkutan umum saat menuju tempat kerja. Kamu ingin juga bergerak, bangun pagi-pagi, dan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, dan menerima hasil jerih payah di akhir bulan. Rasa tak nyaman semakin besar karena kamu tak ingin merepotkan orang tua lebih lama.

3. Namun mencari kerja memang susah. Perbandingan tak imbang antara pencari kerja dan lowongan yang dibuka, membuat persaingan semakin keras

Persaingan ketat via aspq.blogspot.co.id

Bila dipikir-pikir, usahamu selama ini tak kurang-kurang. Berpanas-panasan mengantre untuk bisa mesuk ke gedung jobfair, mengeliling kota untuk menuju perusahaan tempat kamu diwawancara sudah kamu lakukan dengan senang hati. Namun mengapa tak juga ada tawaran yang datang? Namun mencari kerja memang tidak gampang. Sebab ada ketimpangan antara lowongan kerja dengan jumlah pencari kerja. Saat kamu lulus menjadi sarjana, ribuan orang juga menjadi sarjana. Belum lagi sarjana-sarjana di tahun sebelum dan sebelumnya. Semuanya berjubelan masuk ke jobfair, membanjiri email HRD perusahaan, berusaha mencari kesempatan. Persaingan ketat mensyaratkan kamu punya keunikan, sehingga namamu bisa dilirik perusahaan.

4. IPK tinggi dan segudang prestasi akademik ternyata tak selalu membantu. Entah mengapa, lamaran kerjamu selalu berakhir buntu

Kualifikasimu sepertinya tidak pernah sampai via unsplash.com

Bila melihat transkrip nilaimu, rasanya tak ada masalah. Meskipun kamu tidak mendapat predikat summa cum laude, namun setidaknya IPK dan nilaimu cukup bisa dibanggakan. Namun ternyata bila sudah masuk ke dunia kerja, hal-hal seperti itu tidak terlalu membantu. Nilai yang wow tidak bisa bicara banyak bila kamu sudah menghadapi pewawancara.

Ah, kini kamu tahu masalahnya. Barangkali semasa kuliah kamu terlalu sibuk mengejar nilai dengan belajar sepanjang hari. Lantas kamu menyesal, karena ternyata, dunia kerja juga membutuhkan pengalaman-pengalaman lain di luar nilai di kerjas ujian. Namun nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah selesai tak bisa diulang lagi. Hanya saja, bukan berarti itu kamu harus berhenti sampai di sini.

5. Pertama-tama, lihat dahulu surat lamaranmu. Apakah sudah sesuai dengan kapasitasmu? Apakah CVmu sudah menunjukkan yang maksimal dari dirimu?

Cek lagi CVmu via standoutshop.tumblr.com

Ada banyak jalan yang bisa kamu tempuh, asalkan kamu tidak terburu-buru menyerah dengan yang sudah-sudah. Mengoreksi diri sendiri adalah hal yang pertama-tama harus kamu lakukan. Apakah selama ini kamu sudah mengirim lamaran di posisi-posisi yang sesuai dengan kapasitasmu? Apakah kamu melamar pada lowongan-lowongan yang persyaratannya kamu penuhi?

Meskipun kita boleh tetap mencoba meski ada satu syarat yang tak sesuai, namun terlalu percaya diri juga hanya akan membuat lamaranmu sia-sia. Setelah melihat preferensimu selama ini, cek juga CVmu. Apakah sudah maksimal? Ataukah kamu menaruh hal-hal fatal yang membuatmu langsung tersingkir di tahap pertama? Menampilkan potensi diri dalam selembar atau dua lembar kertas juga perlu trik. Bila selama ini lamaranmu sering gagal di tahap pertama, barangkali kamu harus belajar lagi untuk memperbaiki CV.

6. Atau barangkali selama ini kamu terlalu sempit menilai potensi diri. Meski tak sesuai dengan bidang yang tertera di ijazah, barangkali kamu bisa lebih beruntung di bidang lainnya. Toh yang penting dapat pengalaman dulu saja

Perluas cara pandangmu

Bila CVmu sudah maksimal dan tak bisa diutak-atik lagi, namun tawaran kerja tak juga menghampiri, mungkin sudah saatnya kamu melebarkan preferensi. Ketidakberuntunganmu bisa jadi karena kamu terlalu idealis untuk bekerja yang tepat seperti gelar di ijazahmu. Kamu yang lulusan hukum, merasa harus langsung menjadi pengacara. Kamu yang lulusan Ekonomi, harus merasa hanya bisa menjadi ekonom atau akuntan.

Padahal bisa jadi dalam dirimu tersimpan potensi lain yang bisa dimanfaatkan di bidang lain. Dan barangkali, bila bidangmu tak memberi kesempatan, bidang lain justru lebih membutuhkanmu. Toh, bekerja tak harus sesuai dengan ijazah. Karena menggapai mimpi bisa menempuh berbagai cara, salah satunya dengan bekerja diluar bidang. Sebab dari sana, banyak hal yang bisa kamu kembangkan.

7. Namun bisa saja ini waktunya untuk berkreasi sebiasanya. Tak selalu di perusahaan besar, kamu bisa memulai usaha, yang tak melulu perlu modal berjuta-juta. Asal punya nyali, kamu pun bisa selalu jadi bos untuk dirimu sendiri

Jadi pengusaha saja via standoutshop.tumblr.com

Sesungguhnya, kita harus bersyukur sebab hidup di masa yang kekinian. Dahulu, bekerja identik dengan berangkat ke kantor dan/atau memakai seragam. Namun kini banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencari penghasilan yang halal. Bila kamu kesulitan mencari bos untukmu, barangkali kamu bisa menjadi bosmu sendiri? Menjadi pengusaha tak melulu perlu modal berjuta-juta.

Kamu bisa memanfaatkan apa-apa yang kamu dapatkan dengan gratis, seperti internet. Kamu bisa mulai membuka olshop untuk tahap pertama. Pakai sistem dropship saja dulu, agar tak perlu mengeluarkan modal yang besar. Pelan-pelan, sambil jalan kamu bisa mengembangkan bisnismu untuk membuatnya lebih profesional dan menguntungkan. Toh, di masa ini, anak-anak muda mulai bergerak untuk menciptakan lapangan kerja. Nah, bila kamu kesulitan mendapatkan pekerjaan, mengapa tak menciptakan sendiri saja?

Lika-liku mencari kerja memang begitu. Keberuntungan orang tak sama. Ada orang yang semasa kuliah biasa saja, namun bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudahnya. Ada juga yang penuh prestasi semasa kuliah, namun justru kesulitan mendapatkan pekerjaan. Apa penyebabnya sangatlah beragam, dan tidak meski bahwa kamu tidak mampu atau tidak berkualitas. Namun selain itu, bekerja tidak harus tentang berangkat ke kantor, bekerja di jam 9-17 setiap hari dan digaji setiap tanggal 25. Asalkan punya nyali dan kemauan, kamu oun bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Tak harus menunggu jawaban dari staf HRD yang tak kunjung datang itu.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!