‘Pertamax atau Premium?’ Tanya wanita yang mengenakan seragam berwarna merah dan putih di SPBU

‘Premium 20.000 ribu’ Sahutku ringan

‘Mulai dari nol ya’ Kata wanita itu

Mulai dari nol ya entah mengapa kalimat itu menggema dengan sangat lambat di kepalaku.

Mu…lai…da…ri…nol…ya…

Hatiku terenyuh sebentar. Ada pilu yang tiba-tiba menyambar. Mengingat perjalanan panjang yang pernah aku lalui, kini menghempaskanku ke titik awal. Saat aku telah sedikit demi sedikit belajar terbang, gravitasi menjatuhkanku hingga tidak ada jarak antara aku dan tanah.

Setelah tiga tahun bersama, bukan bermodalkan harapan dan doa saja tapi aku mencintaimu seolah kamu yang sejati di hati. Itulah mengapa setelah kita memutuskan untuk melalui jalan hidup masing-masing dan saling membebaskan, rasa sakit yang aku rasakan berbanding lurus dengan rasa cinta yang aku bangun agar tinggi dan kokoh.

Pada akhirnya sesuatu bernama cinta yang sengaja aku bangun tinggi menjulang dan kokoh itu, jatuh menimpaku. Sakit? Tentu…andai cinta yang aku bangun tak tinggi dan kokoh mungkin sakitnya seperti angin lalu yang menghempas saja.

Kini saatnya memulai dari nol. Dan kumulai semua ini dengan, menata kembali hatiku.

Advertisement

Sejujurnya aku masih belum terbiasa tanpa dirimu. Karena kau yang selalu mendominasi notifikasi di handphoneku. Kita saling menyapa setiap pagi dan saling mengucapkan cinta sebelum tidur selama lebih dari tiga tahun bersama. Dan di malam itu dan malam malam selanjutnya aku hanya bisa mengeratkan genggamanku di sprei karena hatiku rasanya pilu tak terkira menyadari sapaan sayang darimu tak akan menemaniku lagi.

Katanya berteman dengan mantan tanda kita telah dewasa. Katanya lagi jika kita masih bisa berteman dengan mantan dulunya kita tak sungguh sungguh saling jatuh cinta.

Kau tau? Aku tak tau aku masuk katagori yang mana. Tapi tak berteman lagi denganmu-ah jangankan berteman, kita bahkan seperti dua orang yang belum pernah dipertemukan- membuatku haus akan kabarmu. Aku mengira-ngira apakah hatimu patah setelah kita tak bersama, apakah hatimu ngilu ketika melewati tempat-tempat yang biasa kita kunjungi, apakah kau juga menangis sama sepertiku tiap malam?

Sebenarnya itu tak sebegitu penting bagiku, dengan tulus ku katakan aku hanya berharap kau baik-baik saja, menemukan wanita yang sejalan denganmu.

Demi kenangan yang entah bagaimana caramu melupakannya, ku mohon hiduplah dengan bahagia.

Kau terlihat telah move on. Aku pasti juga akan melakukannya. Aku berjanji akan melakukannya. Tapi tidak malam ini, Malam ini kamarku masih penuh dengan benda pemberianmu. Tidak besok atau minggu depan, Karena mungkin temanku akan menanyakan tentangmu dan aku harus menceritakan lagi rasa piluku. Dan aku akan mengingatmu kembali. Semoga bulan depan.

Teman-temanku yang dulu sendiri kini menggandeng kekasih baru, teman-teman yang dulu berpacaran kini bertunangan dan menikah. Beberapa undangan pernikahan tergeletak di mejaku.

Sedangkan aku? Aku harus memulai kisahku dari nol. Dan dimulai dari melupakanmu.