Dulu akulah wanita yang paling keras kepala dan selalu mementingkan diri sendiri saat pelajaran hidup semakin bertambah. Ya, pola pikir dan wawasan mulai berubah, ego dan tingkah kekanak-kanaan mulai aku sampingkan. Aku bersyukur kepada mereka yang pernah mampir dan memberikan pelajaran berharga dalam kehidupanku.

Setahun setelah aku gagal dalam membina hubungan yang serius, aku mulai memikirkan kesalahan-kesalahan yang dulu; yang pernah aku perbuat pada pasanganku sehingga sikap dan toleransi mulai ada dalam diri ini. Saat aku menemukan seseorang yang sikap dan prilakunya sama seperti aku dulu, di situ diri ini flashback ke masa lalu; di mana tingkah dan ego nya sama.

Awalnya, hati ini marah dan kecewa. Kenapa aku dipertemukan degan orang seperti dia? Sebagai wanita, aku ingin dimanja dan diperhatikan, ataupun dibujuk ketika marah kesal. Tapi, itu semua tidak ku dapatkan.

Yang dulu aku dipuja, diperlakukan sebegitu istimewa dan dimanja sama pasangan. Sekarang ketika bertemu dengannya, hal itu bagai sebatas fatamorgana.

Aku mencoba belajar dan memulai memahami. Aku belajar untuk menjadi wanita yang penyabar ketika aku dituntut untuk selalu memahami semua kondisi dan keadaan. Terkadang hati ini menerima, tentu terkadang hati merasa kecil dan tak terima. Tapi dia yang telah aku pilih untuk masa depanku. Aku harus merasa kuat; tapi kesabaran mempunyai batasnya sendiri.

Advertisement

Setiap kata yang telontar tidak ada yang benar dan yang aku perbuat selalu salah. Sejujurnya aku lelah dengannya dan ingin pergi menjauh. Ku pikir, karena aku masih bisa mendapat lelaki yang lebih dari dia. Ah, semua itu aku urungkan. Hanya saja aku berpikir lagi bahwa itulah dia; karakter yang dulu aku punya! Kenapa masa laluku bisa tahan menerima aku, sedangkan kenapa sekarang aku tidak?

Aku sadar betapa sabarnya lelaki yang bersama ku dulu; yang begitu mengistimewakan aku dan sabar menghadapi aku. Kenapa aku menyerah dengan orang yang bersifat seperti aku dulu ini? Mungkin benar bahwa karma itu ada, kawan.

Aku ingin dia bisa berubah menjadi lebih baik. Tapi terkadang aku berpikir kembali, "Siapa yang sepatutnya menjadi imam yang menjadi panutan? Kenapa aku yang harus terus mengalah dan mengesampingkan semua hal?"

Aku hanya ingin yang terbaik untuk ku dan anak-anakku kelak. Aku bukan Tuhan; yang bisa mengubah karakter orang. Aku pun tidak mau mengambil risiko untuk anakku dengan mencoba mengubahmu!

Aku menyerah dan aku mulai membuka diri kembali kepada calon masa depanku (yang entah di mana dan siapa). Hanya Tuhan yang tahu 🙂