Bagaimana kabarmu di sana? Sudah lama kita tak bertemu. Tidak seperti biasanya, dahulu kita selalu bertemu di akhir pekan. Namun kini untuk bertemu sekali saja aah rasanya tidak mungkin. Setelah pertemuan terakhir itu, sampai saat ini kita belum pernah bertemu kembali. Rindu? Ya tentu saja. Salah bila aku merindukanmu? Merindukan seseorang yang dulu pernah mengisi hariku?

Aku rindu bukan hanya karena sudah lama tidak bertemu, tapi aku juga rindu dengan hal-hal yang pernah kita lewati dulu. Dan banyak hal yang selalu mengingatkanku pada dirimu.

Ingin sekali rasanya bertemu denganmu. Tapi bibir ini tak mampu berucap. Hanya menikmati kerinduan yang entah sampai kapan akan terbayarkan. Aku dengar kau sudah kembali pada masa lalumu. Tentu saja itu bukan hal yang mengagetkan bagiku, karena sedari awal, saat kita masih dekat dulu, kau masih mengharapkan masa lalumu itu dan hatimu masih dipenuhi olehnya. Ragamu saja yang bersamaku, tapi hati dan pikiranmu mungkin tidak. Tapi entah kenapa aku menikmati masa-masa itu.

Tidak adil rasanya jika kau dapat dengan mudah melupakan ku, sementara aku masih dihantui oleh bayangmu, tak bisa sedikitpun aku beranjak melarikan diri dari semua kenangan itu.

“Bodoh” mungkin itu yang akan orang katakan terhadapku. Untuk apa menunggu seseorang yang sudah mengecewakanmu dan sudah menjadi milik orang lain?”

Advertisement

Jujur saja aku ingin melupakanmu, ingin sekali. Tapi sampai saat ini aku masih belum bisa. Ternyata sulit rasanya berada di posisi seperti ini. Mencintai orang yang selama ini menghabiskan waktu bersamaku tapi tidak sedikitpun mencintaiku. Kini, kau pergi meninggalkanku dan kau telah bahagia bersamanya. Oh Tuhan, bohong rasanya jika aku katakan aku turut bahagia melihatnya dengan orang lain.

Hati ini tidak bisa berbohong bahwa aku kecewa dan mata ini tidak bisa terus menerus menyembunyikan air mata.

Jika aku ingat masa-masa itu, tak pernah sedikit pun aku lewatkan saat-saat kita bersama. Aku selalu berusaha untuk selalu ada buatmu dan terlalu fokus memberikan yang terbaik untukmu, hingga aku lupa memahami perasaanmu. Aku gagal membuatmu melupakan masa lalumu, aku gagal membuatmu bahagia bersamaku. Aku kira aku bisa, tapi aku salah, salah mengharapkan seseorang yang masih mengharapkan orang lain. Seperti saling berkejar-kejaran.

Hingga akhirnya aku merasakan apa yang kau rasakan dahulu,

menanti dan menunggu seseorang yang sangat kita harapkan.

Bedanya, selama penantian itu kau bersama orang lain, entah itu sebagai pelampiasanmu atau pun selinganmu, sementara aku? Biarlah aku menantimu dalam diam dan mencintaimu lewat doa. Walaupun aku tak tau entah sampai kapan, tapi untuk saat ini itulah yang kulakukan. Tapi tenang saja, tak pernah sedikitpun aku mencoba merebutmu dari dia, aku hanya melihatmu dari kejauhan, memelukmu dengan angan dan membiarkan rindu ini tak bertuan.

Tetapi jika Tuhan memang tidak mengizinkan kita bersama, akan tiba saatnya di mana penantianku akan berakhir. Aku akan berusaha melupakanmu, hingga mendengar namamu saja aku tidak peduli apalagi mengingat semua yang pernah kita lewati. Dan aku akan pulang menjemput kebahagiaan yang mungkin sudah lama menungguku. Di sini aku masih merindukanmu, dan sampai ketemu di lain waktu.