Banyak yang bilang, kalau hidup itu adalah perjuangan. Itu memang benar. Kita hidup, berarti kita harus berjuang. Jika tidak, kita tak akan bisa meraih apa yang selama ini kita impikan. Kadang, ada sebagian orang yang meletup-letup saat menyebutkan cita-citanya, namun tak sedikit pun usaha yang tampak dalam dirinya. Memang, berbicara saja itu sangat mudah, tapi untuk menjalankan apa yang dibiacarakan, tak semuanya bisa menjalankan. Tipe orang seperti ini layak kita juluki: banyak basa-basi tapi minim aksi. Jadilah hidup yang katanya adalah perjuangan itu, tak tampak dalam dirinya. Yang ada, ia masih saja menjadi pribadi yang sama, tidak berkembang. Dan setiap yang tak berkembang, berarti ia belum sukses.

Mungkin, awalnya kita semangat mengejar mimpi, tapi pada akhirnya jadi loyo karena ada beberapa hal yang mencoba menghentikan langkah kita agar berhenti berjuang. Ketahuilah bahwa rintangan yang melintang di depan kita, itu ibarat betu kerikil yang amat mudah kita singkirkan sejenak di tepian jalan. Jadi, jangan berhenti, tetaplah melangkah, karena 'Pejuang tangguh' adalah mereka yang mampu tetap melangkah meski banyak aral yang menghadang. Kadang, kita mudah berputus asa atas apa yang telah kita perjuangankan demi keberhasilan. Manusia memang makhluk yang memiliki sifat keputusasaan, tapi tetaplah berjuang, karena saat kita berjuang sesungguhnya keberhasilan itu sudah menunggu di depan mata. Tinggal kita-nya, apakah masih kuat berjuang atau tidak. Kalau tidak, berarti secara tak langsung kita telah melepaskan mimipi kita secara cuma-cuma. Berjuangalah, Tuhan pasti akan membantu langkah kita.

Kita perlu tahu, bahwa banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita. Mungkin saat ini kita bisa kuliah atau bahkan sudah mendapat kerjaan, maka janganlah bermalas-malasan dan mengeluh, karena aktifitas yang kita jalani saat ini adalah benih keberhasilan yang akan kita petik di kemudian hari. Lakukan saja yang ada di depan mata kita, dan yakinlah kita akan menikmati hasilnya yang melimpah kelak.

Kehidupan itu ibarat arena perlombaan. Di dalamnya ber-milyaran manusia berlomba-lomba menduduki puncak keberhasilan. Jika kita hanya diam diri di tempat, meratapi nasib saja, tanpa sekali-kali berjuang, maka jangan salahkan orang lain jika kita tertinggal oleh jejak langkah mereka yang jauh lebih cepat. Kalau sudah begitu, cukup salahkan saja diri kita sendiri. Karena kegagalan tak pernah disebabkan orang lain, melainkan diri sendiri. Hanya orang bodoh saja yang berpikiran kalau kegagalan yang terjadi itu disebabkan orang lain. Artinya, dengan demikian ia tak menerima apa yang sedang terjadi dalam dirinya, ia berkilah. Karena, berhasil atau tidak, itu kembali pada diri sendiri, bukan orang lain.