Dunia begitu luas, tapi juga sempit. Luas karena kita tidak ada apa-apanya ada di dunia yang maha dahsyat luasnya, dan sempit, karena ternyata di antara jutaan orang berseliweran, kita hanya akan bertemu dengan orang yang itu-itu saja. Bukan karena kebetulan, terkadang memang beginilah kehidupan.

Bahasan cita-cita itu sangat luas, luas sekali. Seperti dulu ketika kita kecil jaman masih SD sering ditanya sama ibu guru, "Nak, kamu cita-cita mau jadi apa kelak kamu dewasa?" Pertanyaan itu yang kerap dan acapkali pasti ditanyakan sang guru kepada kita dan kalian semua sewaktu masih belia, bukan?

Dan jawaban yang biasa kita lontarkan ketika di tanya adalah, cita-citaku menjadi guru kaya ibu guru, ada juga yang menjawab ingin jadi pak polisi, mau jadi dokter, mau jadi pilot, mau jadi masinis dan mau jadi, jadi yang spesialis seperti orang dewasa pada umumnya seperti yang dijawabkan tadi. Akan tetapi jarang yang bercita-cita sebagai petani, walaupun aku sendiri adalah anak seorang petani, padahal tanpa petani semua orang yang berprofesi apapun tidak akan bisa makan nasi, sebab jika tidak ada petani, maka tidak ada yang menanam beras, bukan begitu? Heheh.

Eeehh.. Kok jadi nyampe sini yah…

Ya sudahlah, tapi benar demikian jika kita renungkan dan pikir-pikir. Tanpa adanya petani, akan susah orang makan nasi. Sudah cukup bahasan yang ini. Walaupun begitu tak mengapa aku tidakjadi petani, orang tuaku mengizinkan aku bebas memilih tujuan hidup yang terpenting adalah bisa menghadapi resiko dari keputusan-keputusan yang aku buat.

Advertisement

Kamu pasti nanya,” Apakah hubunganya dengan dirimu?”

Ya aku adalah anak petani yang bercita-cita tinggi, terlahir sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga, menjadikan aku, eh memaksa aku harus mandiri, tekun, telaten dan rajin, harus bisa menjadi contoh buat adek-adekku. Harus berani bermimpi besar, berjiwa besar, dan harus bersyukur besar, kenapa? Karena dengan bersyukur menjadikan diri kita lebih rendah hati dan merasakan kecukupan. Bukan begitu?

Okey pokoknya, yah ada cerita seperti itu. Hmmm…

Percaya ga percaya bahwa mimpimu ada dan berada di bawah alam sadarmu yang mengantarkanmu pada tujuanmu, pada cita-citamu, tanpa kau sadari. Yah, aku masih ingat betul ketika aku menginjak masa remaja, waktu itu aku kelas 7 SMP, waktu itu aku pernah bayangin sekilas, "wah enak kali ya, bisa sekolah SMA, Lalu bisa kuliah tanpa harus merepotkan orang tua dan kalo bisa masa kuliah bisa menghasilkan dan ngasih uang ke orang tua" pikirku waktu itu. Sekilas. Dan mengalir begitu saja, angan-angan semata tanpa benar-benar ngoyo mikir seperti itu, seiring berjalanya waktu aku tetap melanjutkan sekolahku SMP sampai selesai.

Akupun lulus UN dan berencana masuk SMA, aku sangat senang bisa mendaftar di SMA Islam unggulan di daerahku. Namun sayangnya kondisi ekonomi keluargaku sedang tidak stabil, lalu aku sendiri memutuskan untuk tidak masuk SMA, dengan hati yang patah aku relakan untuk putus sekolah waktu itu, sungguh putus dengan sekolah, sedihnya melebihi putusnya dengan kekasih.

Namun aku berani bangkit dan move on, move on. Aku berputar otak, mikir apa yang harus aku kerjakan selepas aku mencabut pendaftaran? Aku terus bertanya-tanya pada diriku. Akhirnya aku menemukan solusi. Aku tidak boleh berdiam diri di rumah, kalau tidak masuk SMA berarti aku harus nyantri (mondok) tapi jika mondok pun tidak, maka aku harus bekerja. Harus keluar dari rumah pokoknya, titik! Pikirku waktu itu. Kenapa? Pasti kamu bertanya apa coba alasanya?

Iyah, aku hawatir dijodohkan, hahaha. Maklum di kampung lulus SMP bila tidak melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi pilihanya ya, dicarikan jodoh, hihi. Karena ketakutanku dijodohkan masih kecil, aku memutuskan pergi ke Ibukota.

Benar pergi ke Ibukota, tanpa bekal uang banyak, dan hanya bekal untuk sehari-hari dengan bekal terbatas, waktu itu. Tapi tekadku kuat, aku harus tetap belajar, harus tetap sekolah, apapun alasanya, dan apapun pekerjaanku, harus terus belajar. Syukur–syukur tetap bisa melanjutkan ke jenjang studi perguruan tinggi. Dengan tekad itulah aku memohon doa dari orangtua dan sanak saudara, aku nekad pergi, merantau di negri orang, yah sebenarnya masih negri sendiri sih, wilayah orang, kota sebelah, ah intinya tempat, wilayah, negri orang. Mengais Ilmu di Ibukota, dengan modal “Mau Belajar, Mau Bekerja” dan juga doa yang tak pernah kutinggalkan, karena usaha tanpa doa itu sebuah kesombongan.

Perjalanan dari kampung ke Ibukota memakan waktu satu hari satu malam, pas lah berangkat sore, nyampe subuh, karena aku ikut rombongan mobil yang awalnya aku tak pernah ketemu dan kenal siapa anggota rombongan mobil yang mengajakku ke ibukota. Benar-benar seperti mimpi, aku sampai di Ibukota, aku mencubit dan menampar mukaku, dan ternyata benar ini aku di Jakarta. Iya, Ibukota Jakarta.

Kamu tau dong, berapa kira-kira usiaku ketika menginjak Jakarta? Yap sehabis lulus SMP tahun 2009. Ketika di kampung tak ada harapan, maka The Power of Nekat itu muncul. Bersyukur aku bertemu dengan saudagar kaya di Jakarta, akupun sama sekali tidak pernah kenal sebelumnya. Tapi ketika aku ditanya siapa namamu, barulah aku mulai berani bicara menggunakan bahasa Indonesia, sebelumnya bahasa Indonesiaku kacau.

Aku dari kampung seberang, masih kental dengan logatku yang fasih sampai sekarang, dan bersyukur aku bisa Lulus SMA dan juga lagi studi semester akhir di Perguruan Tinggi Swasta di Jabodetabek.

Cerita ini adalah bagian dari flashback ke masa 8 tahun yang lalu, sesuatu yang aku anggap tidak mungkin waktu itu, tapi sekarang aku benar- benar menyadari bahawa mimpi itu bisa menjadi nyata.

Asal ada tekad, kemauan, usaha, belajar dan berdoa, satu lagi nekat. Dari kesemuanya itu tanpa ada nekat dalam mengambil keputusan maka hanya akan menjadi angan dan mimpi yang masih tersangkut di kepala. Rinduku pada jalan impian semakin terasa ketika aku mulai letih dan tak berdaya, namun jiwaku tak rela, karena mimpi membangkitkan gairah semangatku.

Semoga bermanfaat!