Selama tahun 2016 ini banyak kejadian yang menjadi trending topik di media sosial. Dan yang paling massif adalah kejadian tanggal 4 November dan 2 Desember kemarin. Tentang kasus kepala daerah yang dianggap melakukan penistaan. Sebenarnya bila dirunut lebih jernih, awal permasalahannya bukanlah suatu hal yang besar. Tetapi cara menanggapi kejadian tersebut oleh sekelompok golongan tertentu yang terlalu reaktif. Sehingga kejadian tersebut masih dibahas terus sampai sekarang, yang banyak menyita waktu, energi, dan perhatian. Apalagi karena kasus tersebut menyangkut agama. Laris manis!

Kita menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Berbagai suku, agama, budaya ada di Indonesia. Dari semula sebenarnya kondisi bangsa Indonesia rukun-rukun saja. Ketika kita bertanya pada ayah ibu kita, mereka akan bercerita bahwa pada masa mereka, kondisi relatif stabil. Tetapi dibeberapa tahun ini, di era dimana orang bebas mengeluarkan pendapatnya, justru kerukunan itu agak terganggu.

Sekarang ini, orang getol membahas mengenai agama. Bahkan ada opini yang beredar luas yang mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang overdosis agama. Diberbagai kesempatan selalu membahas agama. Hal ini dipengaruhi oleh mudahnya mendapat infomasi keagamaan. Pesan keagamaan menyebar melalui whattaps grup, facebook, dan media sosial lainnya setiap harinya. Kecanggihan teknologi tersebut sebenarnya berdampak baik karena orang bisa belajar agama dengan mudah. Akan tetapi tidak diimbangi dengan berpikir kritis. Kadang kita menelan mentah- mentah informasi tersebut. Akibatnya bila kita mendapat pesan yang menjelek-jelekkan kelompok lain, kita dengan mudahnya termotivasi untuk ikut menjelek-jelekan yang dimaksud dalam pesan tersebut.

Contoh unit terkecil saja, di kantor saya, terdiiri dari berbagai agama karyawannya. Satu agama terdiri dari berbagai aliran. Jadi dapat dikatakan lingkungan kerja saya majemuk. Ketika diwaktu senggang, tak jarang kita membahas agama. Pembicaraan yang awalnya santai, lama kelamaan agak memanas, karena ada beberapa orang yang memaksakan pendapatnya. Jadi dari lingkup terkecil saja, bisa terjadi pertengkaran, apalagi bila meluas sampai ke bangsa dan negara.

Tahun 2016 akan segera berlalu. Marilah kita mengambil pelajaran dari yang sudah terjadi. Marilah kita bersikap lebih toleran, baik kepada yang berbeda agama maupun yang berbeda aliran dalam satu agama. Janganlah kita merasa paling benar sendiri. Ingatlah bahwa tidak ada manusia yang seratus persen benar dan seratus persen salah. Hormati setiap perbedaan. Negara indonesia ini bisa berdiri karena founding fathers kita saling menghormati satu lain. Jangan membuat resah. Janganlah merasa jumawa ketika menjadi kelompok mayoritas. Hargailah kelompok minoritas. Mereka punya hak yang sama. Bila menyangkut agama, biarlah itu menjadi urusan pribadi kita dengan Tuhan. Jangan ada pemaksaan agama. Tunjukkan cinta kita kepada Tuhan dengan berbuat sebaik-baiknya dalam pergaulan kita dimasyarakat.

Advertisement

Semoga ditahun 2017 ini, kita bisa memperbaiki diri sendiri untuk jadi orang yang lebih bijak lagi. Tidak gampang tersulut emosi. Kritislah terhadap media sosial. Ambil manfaat positif dan tebarkan kebaikan disana. Gunakan hak berpendapat kita dengan baik tanpa menyakiti orang lain. Lebih giat belajar dan bekerja. Mari berkarya demi Indonesia yang lebih baik. 2017..cerah!!!!

#memperbaikidiri