Pertemuan pertama.

Siang itu begitu berbeda karena merupakan pertemuan pertama kita di bumi pasundan ini, semua terasa biasa tanpa ada yang istimewa selain rintik hujan yang mengawal pertemuan kita. Pertemuan pertama kita sama seperti pertemuan manusia lainya di sudut kota ini tak banyak bicara hanya saling memperhatikan seperti apa orang yang kita temui..

Pertemuan kedua.

Kurasa pertemuan kedua ini memang kehendakku untuk menemuimu, memperjelas rasa yang terasa aneh sejak pertemuan pertama. Rasa yang nikmatnya begitu menusuk di hati. Pelan namun pasti menancap tanpa ada permisi masuk mengetuk pintu hati kecil ini. Pertemuan kedua ini kita tidak lagi sekedar berbicara namun mulai bercanda membahas tentang masa lalu kehidupan masng-masing
lagi-lagi hujan menjadi saksi bisu tentang pertemuan kita di sudut kampus itu, kita hanya sesekali bicara dan menikmatin tetesan hujan yang turun

Pertemuan ketiga.

Advertisement

Tanpa ada keinginan untuk saling bertemu akhirnya kita di pertemukan, tetap masih di saksikan dengan tetasan hujan dan sore hari. Akh… Dirimu merupakan bagian yang tak terpisahan dari hujan. Di kota ini jika berbicara tentang hujan sungguh akan mengingatkan ku tentang mu dan kenangan pertemuan kita.

Jika berbicara tentang hujan sungguh akan mengingatkanku tentangmu dan kenangan pertemuan kita.

Di akhir pertemuan ini ternyata dirimu lebih memilih bertaruh dengan waktu tentang kita. Apakah masih ada pertemuan selanjutnya atau cukup sampai pertemuan ketiga.
Namun ku tetap masih berharap di antara tetasan hujan yang turun semoga akan selalu ada pertemuan selanjutnya karena dirimu telah ada tempat istimewa di hati ini…