Artikel ini bercerita perjalanan travelling kami (Goldy & Maya). Hanya berawal dari sebuah wacana karena keindahan gunung prau tetapi pada akhirnya gunung prau ditutup dan mengalihkan tujuan ke gunung sindoro namun juga kembali gagal.

Tanggal 5 februari 2016 kami masih tak percaya kalo wacana travelling ini benar-benar terealisasikan , ini benar-benar menjadi pengalaman pertama travelling berdua dan langsung perjalanan jauh. Singkat cerita, kami sampai di Jogja setelah menempuh perjalanan 8jam dari Malang dengan kereta api. Kami singgah di kota Gudeg tersebut dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Dieng. Pagi yang cerah dikota Gudeg kami menuju terminal Giwangan untuk mencari bus jurusan Magelang dengan bantuan maps. Petualangan kami dimulai, sampai di Magelang kami harus meneruskan perjalanan ke Wonosobo. Kejadian yang sangat menakutkan adalah ketinggalan bus terakhir ke arah Wonosobo dan bus itu sudah hampir berangkat seketika itu kenek bis melihat kami dengan wajah yang kusut kemudian kenek itu meneriaki kami untuk segera naik. Kami duduk didalam bis kemudian kita mengucap syukur sambil tersenyum menatap satu sama lain. Perjalanan Magelang menuju Wonosobo sekitar 3 jam,kami sangat lelah dan tertidur di bis. Kemudian bis berhenti di terminal Wonosobo,hujan pun turun dengan lebat waktu pun menunjukkan pukul 16.00. Disitu kami akhirnya juga membatalkan rencana untuk mendaki gunung Sindoro. Kami kebingungan mencari bis untuk melanjutkan perjalanan ke Dieng. Kami duduk dipinggir terminal dan bertanya kepada ibu pemilik warung makanan . Dengan baik hatinya ibu itu memanggil bapak sopir bus untuk mengantar kami berdua untuk sampai ke Dieng (versi Maya). Sopir bis menyambut kami dengan senyuman hangat. Sopir baik hati itu bernama pak Soleh selama diperjalanan saya bertanya seputar wisata di Dieng dan sekitarnya. Ditengah perjalanan pak Soleh memberhentikan busnya dan menyuruh kami untuk transit di bus lain yang mengangkut penumpang ibu-ibu dari pasar. Setelah melanjutkan perjalanan saya coba ganti berbincang dengan ibu tersebut. Bahkan ada salah satu dari ibu itu menawarkan untuk menginap dirumahnya karena saat itu hari sudah gelap dan cuaca sedang tidak bersahabat. Tetapi kami memutuskan turun tepat didaerah pangkalan ojek dan didepan sebuah penginapan. Pada saat itu Maya ingin buang air kecil,setelah dari toilet kami berdebat apakah akan langsung mendirikan tenda ke kawasan Sikunir atau mencari tempat singgah untuk malam yang dguyuri hujan lebat. Tiba-tiba ada seorang Ibu itu meminta kami masuk kedalam ruangan penghangatan, disitu ternyata ibu itu tidak sendirian ada suami dan anak anaknya. Kami berdua disarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Sikunir dengan segala pertimbangan kami akhirnya mengurungkan niat untuk langsung melanjutkan perjalanan. Keluarga itu menyambut kami dengan kehangatan mereka memberi kami minuman hangat dan menawarkan kepada kami untuk menginap saja. Pengalaman dan kebaikan bapak ibu itu benar benar mengajarkan kita betapa indahnya rasa saling tolong-menolong. Suami ibu itu bernama pak Syukur beliau berpesan kepada kami agar menjadi generasi muda harus menjaga kelestarian alam dan tidak merusaknya,kemudian bapak itu mengajarkan tentang pengalaman hidup.

Kami meminta ijin untuk mencari tempat singgah , tetapi ibu itu dengan sangat ramah mencegah kami untuk mencari sendiri. Kami diminta untuk tetap berada ditempat penghangatan tersebut dan pak Syukur meminta tolong kepada keponakannya untuk mencarikan tempat singgah. Keponakan bapak itu dengan baik hati mengantar Maya yang sudah sangat lemas ke tempat singgah sementara saya jalan kaki sambil membawa barang-barang travelling kami. Di saat saya berjalan sendirian saya benar-benar merasakan kalau saya tidak ada apa-apanya kalu saja tidak bertemu dengan keluarga yang sangat baik tersebut.

Ditengah malam maya merasakan badannya sangat panas karena demam , saya pergi keluar mencari obat penurun panas. Saya berjalan ke kios terdekat dan yang membuat saya terkejut penjaga toko tersebut tidur di toko dengan hanya beralaskan tikar tipis yang menurut saya itu sangat tidak memberi kehangatan. Disitu saya sempat bertanya kepada penjaga toko apa dia tidak kedinginan , penjaga toko itu menjawab kalo hari itu masih termasuk hangat . Bahkan saat musim kemarau katanya bisa sampai 0 derajat dan lebih ekstrimnya embun pagi disana dpat berupa kristalan es. Singkat cerita , saya sudah mendapatkan obat penurun demam dan segera pulang memberikan obat ke Maya yang saat itu terlihat lemas .

Pagi disaat kondisinya yang lemah Maya masih memaksa kami untuk berangkat ke sikunir padahal itu masih subuh dan cuaca sangat dingin . tapi disitu saya benar-benar tidak mengikuti kegilaanya untuk mengejar sunrise di sikunir. Benar saja ketika matahari sudah mulai tinggi kami memaksakan diri ke sikunir dengan kondisi maya yang belum fit . Ternyata pemandangan indah dataran tinggi dieng tertutup kabut tebal, hanya beberapa sudut pemandangan saja yang bisa kami nikmati . Dalam hati rasa kecewa ada tapi itulah namaya travelling , banyak kejadian tak terduga , banyak pelajaran yang dapat diambil, dan banyak pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran buat kedepannya. Tak lama kami di sikunir perjalanan kami berlanjut ke kawasan dieng planteu . pertama dari sikunir kami ke kawah sikidang. Disana pemandangan yang disuguhkan berupa danau belerang dan tebing gamping disekililingnya. Kami disana hanya berfoto dan tak sampai mendekat ke kawah dikarenakan bau yang sangat menyengat. Kami melanjutkan perjalanan ke telaga warna. Disana pemandangan tak kalah indah dengan puncak sikunir. Untuk melihat pemandangan yang indah dari telaga warna harus berjalan keatas sebuah bukit kecil untuk melihat view telaga waran dari atas.

Advertisement

Matahari mulai tinggi hari terasa panas waktunya pulang. Saya dan Maya berkemas barang bawaan dan sebelum pulang kamu berpamitan dengan keluarga pak syukur, sambil mengucap rasa bertrimakasih dan pak syukur menyuruh kami untuk kembali ke Dieng ketika musim kemarau. beberapa menit kemudian saya mencarikan travel karena pada saat itu kondisi maya sangat tidak fit . Diperjalanan kami diturunkan ditipu dengan sopir travel lalu mobil itu berhenti tak jauh dr stasiun wonosobo. Terpaksa kami harus melanjutkan perjalanan dengan bus. Dengan keadaan yang sangat lelah dan waktu menunjukkan pukul 7 malam bis tiba di terminal Giwangan jogja . Keesokan harinya kami bergegas untuk pulang ke malang rasa kangen dan ingin menceritakan pengalaman luar biasa kepada teman teman kami ketika sesampainya dmalang nanti. Di Kereta kami bercengkrama dan merieview setiap kejadian yang telah kami lewati dan kami menyimpan kenangan itu untuk menjadi cerita travelling kami. travelling kami tak sampai disini kami akan meneruskan travelling berdua melihat sisi keindahan alam di Indonesia.