Kriing… Kriiing… Kriiiiing….!

Alarm berwarna silver berbentuk lingkaran berdering di atas meja belajar Riki. Riki pun terbangun sambil mengusap-usap matanya yang sipit itu dan langsung melihat arah jarum jam yang berdering.

Hah…!
“Oh my God…! Udah jam delapan. Mampus gue!”

Hari ini di kelasnya ada mata kuliah Linguistik yang dosennya super galak. Telat sedikit saja jitakan dari dosen itu akan bersarang di kepala Riki. Riki teringat akan hal itu dan dia pun bergegas bangun, bersiap-siap untuk berangkat kuliah.

“Waduh… Cepet, cepet, cepeet…. hari ini tugas numpuk banget. Malah belum dikerjain lagi,” sambil membereskan buku-bukunya ke dalam tas, lalu dengan secepat kilat ia langsung keluar dari kamarnya.

Advertisement

Saking terburu-burunya, Riki sampai lupa menyisir rambutnya yang kribo itu. Tapi ini memang sudah menjadi kebiasaanya sejak kecil sebelum ia berangkat sekolah. Sebab disisir juga percuma tak ada yang berubah dari model rambutnya yang memang sudah paten kribo itu.

Tanpa sarapan pagi dahulu, Riki langsung tancap gas dari kos-kosannya dengan motornya yang super butut. Motor warisan ngkongnya yang memiliki nilai sakral baginya. Motor yang kerempeng, model tiga tak. Tapi kecil-kecil cabe rawit. Berani balap dengan motor ninja yang lagi berhenti. Haha… Ajiiib…!

Di tengah perjalanan menuju kampus, tak diduga motornya mogok.

“Waduh…. kenapa nih dengan si Jabrig?” Riki turun dari motornya.

Mesin dan bensin pun diperiksa. Ternyata tak ada masalah pada bagian itu. Memang motor aneh, pikirnya.

“Emang udah nasib. Maklum motor tua, kayaknya udah pengen diganti nih sama Mobil Honda Jazz.” Riki berangan-angan sambil bengong sendiri.

.”Ya elah, ngomongnya udah kayak fraksi DPR aja. Nggak ngeliat apa dengan kebutuhan finansialnya yang pas-pasan. Buat makan di kosan aja susah. Bapaknya PSK (Pedagang Sayur Keliling), ibunya TKAI (Tukang Kocok Arisan Ibu-Ibu), tapi dia nggak ngaca,” Malaikat bersayap menyindirnya dari atas kepala Riki.

Tak lama kemudian Riki pun menuntun motornya ke bengkel terdekat. Ia pun merasa lelah, disertai perutnya yang tidak bisa diajak kompromi lagi. Seperti dipukul-pukul si Leher Beton alias Mike Tyson.

“Malang benar nasib gue pagi ini. Udah si Jabrig mogok, perut keroncongan, dan jitak-an dari dosen udah menanti di kampus. Sudah jatuh tertimpa tangga, tertimpa gempa pula,” dengan mukanya yang kusut sambil berjalan mencari sarapan.

“Ah, apa yang mau gue makan pagi ini, warung di sini kurang berselera. Perut gue laper banget. Oh Tuhan, tolonglah hambamu ini yang sedang menderita.

Tok tok tok… tok tok tok…

Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Riki.

“Ketoprak pak…Ketoprak bu… Ketoprak euy… Ketoprak Den?” ujar abang ketoprak itu pada Riki.

“Boleh-boleh-boleh. Seporsinya berapa Bang?” Tanya Riki.

“Cuma empat ribu rupiah aja kok Den, murah meriah,” jawab abang ketoprak.

Riki membuka dompet yang ada di saku belakang celananya. Dilriknya dompet itu.

“Busyet deh, duit gue pas-pasan amat. Ya udahlah daripada gue mati kelaperan. Urusan kampusmah belakangan yang penting perut dulu. Ya udah Bang seporsi aja. GPL yah Bang!”

“Apaan tuh Den? Gak Pake Lontong yah?” Jawab abang ketoprak.

“Yeh, Gak Pake Lama maksud saya Bang. Ah gimana sih Abang nih. Gak tahu bahasa gaul.”

“Yah si Aden! Saya kan sukanya baca kamus ketoprak. Yang saya tahu GPL itu yaa… Gak Pake Lontong Den.”

“Ha ha ha…”

Mereka pun tertawa bersama.

***

Esok hari di kelas.

“Boy, kemana aja lu kemaren, nggak masuk kuliah segala?” Tanya Igoy.
”Kemaren itu pas di jalan si Jabrig mogok Goy, yah terpaksa gue nggak masuk kuliah, nungguin motor gue ampe kelar dulu dibengkel. Buy the way kemaren tugas di kumpulin nggak?”

“Uhh… ngeselin tuh dosen, baru aja di kumpulin eh dia ngasih tugas lagi. Oh iya kemaren lu tuh di cariin sama Pak Ahmad. Wah, dapet jitakan lu entar minggu depan.”
“Ah biarin. Emang gue takut. Terus tugas apaan lagi?” Tanya Riki.

“Belagu lu ngomongnya. Pak Ahmad ngasih tugas, kita disuruh nyari biografi Ferdinand De Saussure. Entar minggu depan presentasi per individu di depan kelas,” jelas Igoy.

Baru saja menjabat sebagai mahasiswa baru FKIP Diksatrasia di Untirta, Riki pun sudah mulai merasa jenuh dan bosan dengan tugas-tugas kuliah yang ada. Belum lagi masalah percintaannya dengan sang pujaan hati. Hari-harinya pun semakin runyam. Tak seperti ketika dia masih duduk di bangku SMA. Lebih santai.

Cuaca hari ini begitu panas. Menyengat kulit. Riki pun merasa lelah dan bergegas pulang ke rumah untuk bertenang diri. Ia sudah berhenti nge-kos sejak dua hari yang lalu karena ia merasa jenuh sendirian di kosan-nya.

Sesampainya di rumah ia langsung mengunci kamar. Dan langsung memeluk si kotak empuk. Baru lima menit ia merebahkan tubuhnya. Tiba-tiba Hp-nya berdering. Dengan i-ring lagunya Ungu ”Dilema cinta,” yang sesuai dengan suasana hatinya saat itu.

“Hallo…” bersuara merdu.

“Hm…tumben telepon, ada apa sayang?” dengan nada sedikit gombal.

“Nggak ada apa-apa kok, kangen aja. Kamu lagi ngapain?”

“Aku lagi tiduran aja nih. Pusing banget banyak tugas. Biasalah namanya juga mahasiswa baru. Belum terbiasa, masih kaget. Emang kamu udah pulang juga dari kampus?”
“Udah dari tadi. Ya udah sekarang kamu istirahat aja…! tenangin dulu otak kamu biar fresh lagi. Jangan sampai kamu sakit.”

“Okee…. dadaah…”

Suara merdu Diana membuat hati Riki agak sedikit tenang dari rutinitasnya memikirkan tugas. Diana adalah sosok wanita yang lembut, baik hati, dan penuh perhatian. Tidak ada yang kurang dari Diana. Wanita yang juga satu jurusan dengan Riki itu, sudah dipacarinya sejak awal masuk kuliah. Riki terjebak cinta lokasi dengan Diana.

Tapi sekarang Riki sedang dilema, karena sekarang dia menyukai gadis lain. Dan belakangan ini sudah sering jalan dengan gadis itu. Tika namanya. Tika adalah kakak kelas Riki. Satu jurusan juga. Riki dirundung pilu. Di satu sisi ia suka dengan Diana, dan di satu sisi ia juga suka dengan Tika. Awalnya pikirannya tenang, kini ia malah memikirkan hal itu.

“Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini yang sedang bingung… aku nggak mau melukai salah satu di antara mereka. Mereka berdua terlalu baik untuk aku sakiti. Berikan aku petunjuk-Mu.”

Air matanya membasahi pipinya. Riki skeptis dengan keadaannya. Ia berusaha untuk memejamkan matanya. Akhirnya ia pun tertidur pulas.

***

Hari ini cuaca mendung, awan hitam melayang-layang di atas langit nampaknya dia akan menurunkan isi perutnya ke bumi. Riki pun keluar dari kelasnya usai mata kuliah Teori Sastra. Perutnya sudah mulai lapar dan sudah tidak tahan lagi ingin berkencan dengan menu siang hari ini. Riki pun keluar dari gerbang kampus.
Dari arah belakang nampaknya ada yang memanggil-manggil Riki. Riki menengok.
“Boy, mau kemana?” Tanya Igoy.

“Eh Igoy, kirain siapa. Lu sendiri mau kemana?” Riki balik tanya.

“Gue mau nyari makan nih, laper banget,” sambil memegang-megang perutnya.
“Sama dong, ayo kita makan bareng aja!” Ajak Riki.

“Boleh, tapi mau makan di mana?”

Whateverlah!”
“Ya udah… gue punya tempat spesial deh. Dijamin lu bakalan geleng kepala usai menyantapnya,” jelas Igoy, meyakinkan.

“Apaan sih? Bikin gue penasaran aja.” Riki sambil menggaruk-garuk kepala.
Mereka berdua pun berjalan menuju tempat yang dituju.

“Bang, dua porsi yah! Yang puedes…!” Pinta Igoy.

“Oh, jadi ini tempat dan menu spesial lu, kirain apa. Kalo yang ini gue juga doyan. Tapi entar dulu, kayaknya si abang dan gerobaknya familiar banget,” sambil memperhatikan si abang.

“Yeeh… si Abang, ternyata jualan di sini yah Bang? Abang masih inget saya kan Bang, yang kemaren itu, yang motornya mogok?” Sewot Riki dengan pertanyaannya.

“Oh… si Aden toh? Kuliah di sini Den?” Tanya si abang.

“Jadi kalian udah saling kenal? Hm… syukur deh.” Igoy sambil geleng-geleng kepala.

Akhirnya mereka berdua pun menyantap menu ketoprak siang itu. Sambil bersenda gurau dengan si abang Jiung—nama abang ketoprak itu. Gerobak ketoprak yang dinamai ”Ketoprak Super” itu memang banyak yang suka. Karena rasanya yang begitu menggelegar di lidah semua orang. Membikin geleng-geleng kepala bagi siapa saja yang menyantapnya. Ajiib…!

Persahabatan antara Riki dan Igoy pun semakin erat setelah ia makan bareng ”Ketoprak Super” bang Jiung itu.

***

Laut sore terasa indah. Ombak saling bertegur sapa dengan karang-karang di tepi pantai. Sore itu Riki sedang main di rumah Diana. Kebetulan rumah Diana dekat dengan laut. Tepatnya di Pantai Anyer. Ibunya asli orang setempat, tetapi ayahnya seorang turis asing berdarah Inggris. Wajar kalau wajah Diana agak kebarat-baratan.

Riki dan Diana asik duduk di teras rumah sambil memandang keindahan alam ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Menikmati romantika senja sambil menunggu sunset menenggelamkan wajahnya. Sambil menghirup secangkir teh hangat diiringi sentuhan musik melankolis dari hp Diana. Membuat mereka berdua terhanyut ke dalam lembah asmara.

“Pemandangan sore ini indah yah. Serasa dunia ini milik kita berdua,” rayuan gombal Riki mulai keluar dari mulutnya.

“Ah, kamu bisa aja. Kamu nggak boleh ngomong begitu. Dunia ini milik Tuhan. Kita hanya hamba yang diciptakan Tuhan untuk menjaga dan merawatnya.”

“Iya, aku juga tau ibu guru,” ledek Riki.

Di tengah kemesraan mereka, tiba-tiba hp Riki berdering. Tepat sekali diletakkan di atas meja, di samping Diana. Diana yang mengangkat hp Riki. Di layar hp-ny tertera nama Honey. Diana kaget dan langsung me-riject hp Riki. Wajah Diana berubah menjadi si jago merah sambil meremas-remas tangannya.

“Siapa Honey? “ Tanya Diana dengan mata melotot. Riki diam saja. ”Siapa Honey?” tanyanya lagi dengan nada tinggi.

”Cuma temen kok, cuma temen… sumpah!“ sambil mengangkat kedua jari kanannya agak gemeteran.

”Kamu bohong! Jawab yang jujur!” Diana semakin kesal. “Cepetan jawab! Siapa dia?” Diana berdiri dan menggaplak meja.

“Iya, iya, aku jawab. Tapi kamu tenang dulu, jangan sewot begitu!” Sambil menenangkan dan menyuruh Diana duduk kembali. Riki tak menyangka Diana bisa segalak itu. Yang Riki kenal adalah diana yang lembut. Tapi kali ini berbeda.
“Sebenernya sudah lama aku pengen ngomong ini sama kamu. Tapi waktunya memang belum tepat. Aku nggak tega bila kamu harus tahu. Aku takut kehilangan kamu. Aku takut dibenci kamu. Tolong, kamu jangan marah dulu! Biar aku jelasin dulu. Honey itu… ia… perempuan simpananku. Sudah dua minggu ini aku dekat dengannya. Maafin aku jika aku menduakanmu,” dengan air muka yang sangat menyesal.

“Apa? perempuan simpanan? Kamu tega sekali berbuat seperti ini. Kamu memang jahat! Jahat!” sambil memukul-mukul tubuh Riki.

“Tenang dulu dong, tenang! Ijinkan aku selesai ngomong dulu. Nama aslinya Tika. Dia kakak kelas satu tingkat di atas kita. Aku suka dia karena dia sering ngasih aku perhatian yang lebih. Entahlah, aku jadi tersentuh.”

“Terus, apa selama ini aku kurang memperhatikanmu?” suara Diana agak melemah.

“Bukan begitu. Justru karena kamu itu terlalu baik untuk aku cintai. Aku memang tak pantas untukmu. Aku ini memang jahat. Penghianat. Pendusta. Bajingan,” Riki memaki dirinya sendiri.

“Ya sudah, pokoknya aku nggak mau di duakan seperti ini. Kamu harus memilih, aku atau dia! kamu jangan jadi pengecut! kamu harus berani mengambil keputusan. Dulu kamu pernah bilang padaku, kalo mengambil suatu keputusan, ambillah yang sesuai dengan hati. Dan sekarang kamu harus bisa untuk itu!” Tegas Diana.

“Ok… ok… aku ngerti. Tapi tak semudah itu mengambil keputusan. Aku butuh waktu untuk menjawab semua ini. Butuh waktu!” Sambil memegang kedua pundak Diana dengan pelan.

“Baik. Aku kasih kamu waktu satu minggu untuk menjawab semua ini. Mudah-mudahan kamu bisa memilih yang terbaik.”

Diana berbalik arah dan meninggalkan Riki. Riki termenung dan menyesali atas segala perbuatannya. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Hati tak bisa untuk di dustai. Riki mencintai dua hati yang baginya sulit untuk memilih.

Riki tak menyangka sore itu adalah mimpi buruk baginya yang seharusnya tidak terjadi dalam hidupnya. Tapi Tuhan berkehendak lain, mungkin ini sudah jalan Tuhan memberikan sebuah cobaan kepada Riki.

Hari-harinya pun di rundung pilu. Makan tidak enak, kuliah berantakan, badannya pun sedikit demi sedikit mulai mengurus. Kerjaannya melamun dan terus melamun. Waktu terus berputar, Riki belum mendapatkan jawaban itu. Ia amat bingung mau memilih siapa. Jika Riki pilih Tika, akan betapa hancur hati Diana, dan jika sebaliknya betapa hancur hatinya karena tak bisa memiliki wanita yang paling dicintainya. Riki terjebak cinta darurat.

***

Dunia seakan tak berpenghuni. Riki tak peduli dengan keadaan sekitar. Ia seperti sendiri. Ia hanya bisa corat-coret di buku diary-nya yang sudah agak lusuh itu. Ia terus mengepakkan jari-jarinya memilih dn memilah huruf-huruf alfabet yang enak untuk dituangkan. Sampai ia lupa kalau waktu sudah menunjukkan tengah malam. Bola matanya pun sudah memerah bagai sang bola matahari di siang hari.

Tuhan, tolong berikan aku jawaban-Mu. Kedilemaan ini takkan pernah berujung tanpa persetujuan-Mu. Pilihkan yang terbaik untukku. Kau yang Maha mengabulkan, Kau yang Maha memberi sesuatu.

Itulah sebaris doa yang ia tulis di buku diary-nya. Tak lama, Riki pun tertidur pulas.

***

“Goy, si Riki kenapa? kok belakangan ini gue jarang liat dia,” tanya Budi yang juga teman sekelasnya.

“Gak tau Bud. Belakangan ini ia memang agak aneh. Kira-kira kenapa ya?” Igoy malah balik tanya pada dirinya sendiri. Budi garuk-garuk kepala melihat Igoy yang seperti orang bingung.

”Halo kawan…” Tiba-tiba seseorang menepuk bahu mereka dari arah belakang. Riki dan Budi bengong melihat seseorang yang datang dengan tiba-tiba itu.
“Kalian lagi ngapain di sini?” Tanya seseorang itu lagi.

”Riki?” serentak Igoy dan Budi berkata.

“Eh, kalian kenapa sih?” sambil Riki melambai-lambaikan tangannya di kedua bola mata kawannya itu.

“Eh Riki, kapan dateng?” Budi baru sadar.

“Ya ampun, kalian kenapa sih, lama-lama gue bisa jadi gila nih. Ayo kita masuk! Dosen udah dateng tuh,” ajak Riki sambil menarik tangan mereka berdua. Mereka pun masuk ke kelas.

Riki tidak ingin menunjukkan kedilemaannya di hadapan kedua kawannya itu meskipun dalam hatinya ia sedang galau.

***

Satu minggu tinggal dua hari lagi. Usai mata kuliah Linguistik, Riki di tagih janji oleh Diana. Diana penasaran akan jawaban dan kepastian Riki.

“Bagaimana? Udah bisa mengambil keputusan? “ Tanya Diana. Riki diam saja. Ia menggelangkan kepala.

“Sampai saat ini belum. Kamu nggak akan ngerti kayak apa perasaanku sekarang ini,” lirih Riki.

“Iya, aku juga ngerti tapi aku juga nggak mau nunggu lama-lama kepastian dari kamu. Aku capek. Tiap hari terus-terusan di hantui jawaban kamu. Aku bener-bener takut kehilangan kamu.” Air mata Diana keluar membasahi pipinya yang putih bersih dan mulus itu.

“Maafin aku yah,” ujar Riki dengan nada lemah. Mereka berdua saling menjauh dan pergi.

Riki tak tahu sampai kapan dia harus terus-terusan seperti ini. Ia sungguh merasa tersiksa, keadaan yang sungguh rumit baginya. Tapi mau tidak mau dia harus bisa mengambil keputusan itu meskipun harus ada hati yang terluka. Luka baginya maupun Diana. Riki yakin semua pasti akan berlalu.

Riki tidak pernah cerita masalah ini kepada Tika. Dia tidak mau semuanya malah akan tambah rumit. Tapi Riki berubah pikiran, kalau terus-terusan seperti ini semuanya malah akan menambah ia menderita. Riki juga butuh kepastian dari Tika.
Sore hari di kampus. Tepatnya di kantin belakang. Tika sedang asik makan dengan ”tiga diva-nya,” sebutan gengnya di kampus. Riki menghampiri mereka. Jantung Riki amat deg-degan. Apa yang harus ia katakan kepada Tika. Riki pun sudah berada di hadapan Tika. Riki memberikan isyarat mata kepada kedua teman Tika. Kedua teman Tika pun mengerti. Mereka pun pergi meninggalkan Riki dan Tika berdua.

“Eh, eh, eh.. kalian mau kemana?” Sahut Tika kepada kedua temannya itu. Kedua temannya tak menghiraukannya. Riki duduk disamping Tika. Jantungnya berdetak tiga kali lebih kencang.

“Ada apa?” Tanya Tika.

“Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu,” hatinya begitu dasyat bergejolak.

“Ngomongin apa sih? Serius amat kayaknya.”

“Tapi kamu jangan marah yah?” Pinta Riki.

“Udah ngomong aja, nggak bakalan marah kok santai aja,” tanpa ada sedikit pun rasa penasaran di benak Tika. Ya, memang begitulah karakter Tika, selalu menyepelekan sesuatu.

“Aku mau tanya. Sebenernya perasaan kamu bagaimana selama ini?”

“Bagaimana apanya?” Sambil senyum-senyum.

“Ya, tentang hubungan kita. Apa kita harus terus-terusan begini?”

“Honey, aku sayang sama kamu. Tapi tapi rasa sayang ini hanya sebatas adek-kakak saja. Nggak lebih dari itu. Aku juga udah punya cowok, kok. Yah, baru empat hari ini sih.”

“Hah… Apa? Punya cowok?” Riki tersentak kaget mendengarnya.

“Kok kamu begitu, kenapa? Apa aku ini kurang buat kamu? Apa aku kurang perhatian sama kamu? kenapa kamu pilih orang yang itu, sedangkan belakangan ini kamu lebih dekat denganku. Ternyata aku salah menilaimu. Kamu hanya main-main!”

“Maafin aku. Aku tak bermaksud menyakitimu. Ini hanyalah kesalah pahamanmu saja menilai aku. Tapi aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu walaupun aku milik orang lain. Kamu tetep Honey aku yang selalu menghiburku.”

“Cukup! Aku capek dengan semua ini!” Riki kesal dan langsung pergi meninggalkan Tika. Tika tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menggeleng-geleng kepala.

***

Malam hari Riki sulit tuk memejamkan mata. Hatinya begitu rapuh saat mendengar penjelasan dari Tika. Cintanya tak berujung manis, malah pahit yang merintis. Hatinya seperti tertusuk benda tajam. Air mata membasahi pipinya.

“Apa lebih baik aku mati saja,” ujarnya.

Riki merasa kecewa dengan sikap yang di berikan Tika selama ini, ternyata hati Tika berbeda dengan mulutnya. Riki berusaha untuk melupakan kejadian buruk yang menimpanya itu. Riki berusaha memejamkan mata. Memikirkan jawaban yang pantas untuk Diana. Air matanya masih membasahi pipinya.

***

Mentari mulai menampakkan senyumnya. Langit pagi begitu cerah. Embun-embun menghiasi sekitar rumah Riki. Sejuknya udara pagi membuat Riki masih tertidur pulas di kamarnya. Hari ini adalah hari terakhir Riki untuk memberikan jawaban hatinya kepada Diana. Satu minggu tak terasa akhirnya hari ini adalah penantian yang begitu di tunggu-tunggu oleh Diana. Semalaman suntuk Riki sudah mengambil keputusan siapa yang akan dipilihnya. Meskipun ia masih syok dengan rasa sakit hati kemarin. Tetapi Riki sudah bertekad bulat memilih siapa yang akan menjadi pendampingnya.

Dengan riang, Riki berangkat ke kampus, sambil senyum-senyum sendiri seakan tak terjadi ada apa-apa dengan dirinya. Riki bersembunyi di balik topengnya.
Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Diana. Hari ini ia ingin memberikan kejutan untuk Diana.

Riki mencari-cari Diana di seantero kampus. Sampai Riki muter-muter kayak helikopter sambil membawa kado yang isinya benda kesukaan Diana. Tapi Diana tak ketemu juga. Riki baru ingat kalau markas Diana adalah di saung kampus. Riki langsung bergegas menuju saung itu. Tapi yang ada di sana hanyalah dua teman Diana. Ani dan Risti. Batang hidung Diana tak terlihat.

“Hai… tumben nih kurang satu, kemana?” Riki basa-basi.

“Siapa? Diana?” Tanya Ani.

“Iyalah, siapa lagi?”

“Diana sudah pergi,” jawab Risti

“Pergi kemana? Ah kalian jangan mengada-ada deh.”

“Diana pergi meninggalkan kita, meninggalkan kampus ini,” tambah Risti.

“Maksud kalian apa sih?” Riki masih bingung dengan ungkapan Risti.

“Kamu telat. Semuanya sudah terlambat. Kamu akan kehilangan dia untuk selamanya, ” jelas Ani membikin Riki penasaran.

”Maksudmu?” Riki semakin penasaran.

”Diana sudah bertunangan dengan lelaki pilihan orangtuanya. Diana pergi ke Amerika, dan tak lama lagi ia akan menuju ke pelaminan, dengan membawa luka-luka harapan dari hati kamu Rik. Diana terpaksa, dia nggak mau ngecewain pilihan orangtuanya. Sejujurnya Diana itu sayang banget sama kamu. Tapi Diana juga sudah terlanjur sakit hati atas kelakuanmu itu. Dan sekarang kamu harus menerima kenyataan ini.” Ani menjelaskan dengan panjang lebar.

Riki hanya diam mendengar kenyataan itu. Pikirannya melayang entah kemana. Hatinya melemas. Riki tak habis pikir semuanya akan menjadi seperti ini. Hatinya semakin rapuh dan hancur. Tak satu pun dari keduanya yang ia dapatkan. Ia sangat menyesal.

Riki pun pulang ke rumah dengan membawa luka yang nyeri. Pikirannya tak keruan. Tiba-tiba Ia beranjak ke arah dapur. Matanya menatap sebuah benda tajam. Lancip. Tanpa pikir panjang ia pun mengambil benda itu.

”Lebih baik aku mati saja! Percuma bila aku hidup tanpa kamu!”

Kamar Tercinta, 2009—2012