Hai Tuan rusukku, aku tahu kita sedang saling menuju, dan pertemuan kita hanyalah masalah waktu.

1. Aku hanya… terlalu penasaran padamu

Suatu hari akhir pekan, melihat sepasang suami istri berjalan bergandengan tangan, ada perasaan tak bernama yang berdenyut-denyutan. Membayangi itu aku dan kamu. Jogging ringan di akhir minggu, balapan membaca buku fiksi terbaru, hingga berpetualang ke semeru yang tak pernah jadi-jadi dari dulu. Aku tahu, aku hanya sekadar berharap-harap dan terlalu penasaran denganmu, penasaran dengan tekstur jari tanganmu yang nantinya selalu mencari tautan jemariku, penasaran dengan bahumu seberapa sentimeter melampaui tinggi bahuku, penasaran dengan rupamu apakah mirip dengan wajahku –karena konon katanya jodoh itu mirip-, penasaran apakah yang akan kupersiapkan di pagi hari menjelang keberangkatanmu mencari nafkah halal untukku dan anak-anakmu, penasaran dengan responmu dengan mandiku yang lama dan kebiasaan berjalanku yang selalu terburu-buru. Aku tidak mencemburui siapapun, aku hanya sekadar penasaran padamu… sampai rela aku sengaja memanjang-manjangkan doa sepertiga malamku supaya Tuhan segera berkenan membocorkan rahasiaNya padaku, sampai aku mewajibkan diri beristikharah setiap malam demi agar aku bisa memanjat langit dan mengintip catatan takdir siapa nama lelaki misterius yang tengah kehilangan tulang rusuknya ini.

2. Siapapun kamu Tuan rusukku, maukah kita menyempurna bersama?

Terkadang di tengah rasa yang sulit kubedakan antara penasaran dan kegalauan, dengan sesadar-sadarnya kesadaran dan seyakin-yakinnya keyakinan, aku percaya bahwa mencari jodoh adalah seperti mencari cermin, apa yang akan nampak di dalam cermin tentang apa adanya kita, itulah adanya. Jadi tak pernah aku memaksamu –hai kamu, Tuan yang ada di bayangan cerminku- untuk menjadi sesempurna-purnanya manusia, karena akupun punya banyak cela yang tentu selalu kuupayakan untuk sedikit demi sedikit menghapusnya. Maka mulai sekarang aku tidak akan meminta Tuhan untuk dipertemukan dengan yang sempurna, karena hakikat sesungguhnya adalah tanpamu aku tak akan pernah sempurna, begitupun sebaliknya. Maukah kamu –maksudnya kita- menyempurna bersama?

Advertisement

3. Ketika aku tahu kamu sedang menujuku, aku semakin bersemangat untuk juga menujumu

Aku tahu saat ini kamu sedang dalam perjalanan berlari menujuku, maka dari itu aku tidak akan membuatmu tergesa sehingga memburumu. Berlarimu padaku cukup sebagai tanda bahwa kamu sungguh-sungguh ingin segera menyongsongku. Sementara disini, aku akan menambahkan menu sabar dalam sarapanku tiap pagi, makan siang dan malam hari. Agar sabar yang kupunya tidak hanya sebatas membuatku kenyang untuk sementara, tapi akan menjadi semacam “cadangan nutrisi” yang akan selalu membuatku tidak merasa kehabisan energi untuk juga berlari menujumu, bukankah sabar yang sesungguhnya itu tak ada batasnya. Tuhan pernah berkata, bukan sabar namanya kalo masih ada batasnya. Karna tak berbatasnya itulah, aku semakin bersemangat berlari, menuju pertemuan itu, bukankah kamu juga sekarang dalam perjalanan? Tentu pertemuan sesingkat-singkatnya akan semakin memungkinkan. Jarak perjalanan ini memang masih rahasia Tuhan, sampai di kilometer berapapun kamu, aku tahu kita sedang saling menuju, dan pertemuan kita hanyalah masalah waktu.

4. Pahitnya menunggu selalu sebanding dengan manisnya bertemu

Nanti, di sebuah hari dimana aku dan kamu menjadi sesingkat kata “kita”, aku akan menyambutmu dengan sambutan terbaik yang telah aku persiapkan bertahun lamanya, aku rela tidak berpacaran demi menghadiahkan penghormatan terbaik bahwa tanganmulah yang pertama kali berhak menyentuhku, bahwa hatimulah yang pantas kuhadiahi mahkota kesucian tersuci yang kusimpan berjaman-jaman, dan bahwa kaulah yang sanggup jadi juaranya. Maka, sang juara berhak mendapatkan permata yang tidak hanya layak tapi juga apresiasi setinggi-tingginya dari gadisnya. Pahitnya menunggu dalam berlariku yang berdarah dan berpeluh akan setimpal dengan manisnya pertemuan kita. Akhirnya aku menyadari, dalam perjuanganku memantaskan diri, ada sepasang kaki yang juga berpayah memperbaiki diri. Menyiapkan moment serapi-rapinya agar saat bertemu, tidak tampil ala kadarnya, tapi dengan tatapan penuh cinta, dengan hati penuh bangga, dengan kualitas yang berkelas dan pesona tanpa rekayasa. Sedangkan aku, akan menjadi manusia paling bersyukur karena Tuhan menganugerahkan manusia sekualitas dirimu. Bahwa dari ribuan manusia istimewa, kamu adalah salah satunya.