Bukan waktu yang sebentar menghabiskan waktu selama 2 tahun berhubungan dengan Luka, pria yang menjadi satu-satunya pria yang kukenalkan kepada orangtuaku. 2 tahun merupakan waktu yang cukup untuk memupuk perasaan yang ada dan membangun mimpi-mimpi bersama. Tapi, ketika semua harus kandas setelah 2 tahun bersama, waktu untuk mengobati luka akibat Luka ternyata butuh waktu lebih lama.

It takes a minute to have a crush on someone. An hour to like someone, and a day to love someone. But, it takes a lifetime to forget someone.

Dan itu yang terjadi kepadaku dan Luka. Tahun ini merupakan tahun ketiga setelah aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Luka, tapi memori bersamanya masih melekat dibenakku.

Berkenalan ditahun ketiga kuliah, kami menghabiskan waktu bersama-sama di sebuah komunitas kampus. Dmulai dengan persahabat, berakhir dengan saling suka, dan memutuskan berpacaran. Di tahun pertama semua serba indah dan hanya ada yang manis-manis saja.

Mau makan, kami selalu makan berdua. Mau pergi, kami selalu bersama. Ada aku, pasti ada Luka. Ada Luka, pasti ada aku. Kami tak terpisahkan sama sekali. Teman-teman menjuluki kami, the romantic couple. Karena kami biasa mengumbar romantisme di depan mereka

Advertisement

"Kamu mau makan apa? Biar aku yang belikan," begitu kata Luka di depan teman-temanku saat aku sedang mengerjakan tugas kelompok bersama. Luka hanya ikutan, karena jadwal kuliahnya kosong hari itu. Seperti biasa, jika tidak ada jadwal kuliah dia akan mengikuti jadwal kuliahku. Kadang akupun begitu.

"Apa saja, sayang. Aku ikutan kamu saja…" jawabku pada Luka saat itu.

Gambaran ini, merupakan kebiasaan kami sehari-hari dikampus kala itu. Beberapa orang mungkin risih dengan aksi romantisme kami, tapi kami seolah terbenam di dunia sendiri dan tidak mengindahkan pandangan orang. Semuanya serba indah bagi kami saat itu. Tak ada yang salah. Tak ada yang perlu dirisaukan.

Setahun hubungan kami berjalan mulus bagaikan mobil yang berjalan diaspal, membuat kami lengah dengan cobaan yang selanjutnya datang. Aku tak pernah menyangka kehidupanku akan berubah 180 derajat sejak hari itu.

Semenjak berhubungan bersama Luka, aku tahu bahwa dia sangat menyayangi diriku. Itu terlihat dari seberapa protektif dirinya terhadapku, bagaimana dia mengantarku pulang setiap harinya, kemudian mengecek kegiatan sehari-hariku ketika tanpanya, mengecek timeline twitter-ku untuk mengetahui apa yang aku pikirkan dan rasakan hari itu. Aku tidak pernah menganggap Luka posesif saat itu.

Hari itu, handphone-ku berbunyi menandakan ada satu pesan masuk di BBM. Pesan dari teman SMA-ku. Seorang pria, yang kukenal selama 5 tahun terakhir.

"Hi, Ash! Apa kabar lo? Ketemuan, yuk!" sebaris kalimat yang kemudian menjadi bencana tak terduga.

Luka yang sedang memegang hp-ku saat itu, tiba-tiba melemparkannya ke arahku yang sedang duduk di meja komputer di kamar kosannya. Aku sedang mengerjakan tugas mata kuliah dari dosenku, dan harus dikumpulkan sejam lagi.

Aku tersentak kaget, tidak menyangka akan menerima perilaku seperti itu dari Luka. "Kenapa, sih? Kok lempar-lempar?" tanyaku heran.

"Baca sendiri!" teriaknya penuh emosi. Aku menjadi heran dan membuka handphone-ku, melihat tidak ada apapun dilayar, karena Luka sudah membuka notifikasi BBM tersebut.

"Kamu selingkuh ya, Ash! Kamu main-main dibelakang aku! Kamu bohongin aku! Dasar pelacur!!" teriaknya penuh makian. Rasa kaget dan sedih menyergap diriku yang menerima ucapan menyakitkan dari Luka. Belum habis rasa kaget, sedih dan sakit hatiku karena kata-katanya, tiba-tiba aku merasakan sebuah tamparan dipipiku. Rasa panah dan pedih menjalar dipermukaan kulitku.

Hari itu, aku menemukan dirimu yang baru. Luka yang tidak kukenali hadir dalam tubuh Luka yang biasanya. Gamang rasanya, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya air mata yang terus saja mengalir tanpa kusadari. Belum selesai dengan tamparan tadi, Luka menarik rambutku. Menengadahkan wajahku yang tertunduk, memaksa untuk menatapnya dan mengumpat dengan bebas.

Rasanya seperti diinjak dengan sepatu besi, sakit sampai ke ulu hati. Selain menangis, aku tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Luka mendiamkanku yang terduduk sambil menangis, matanya dipenuhi amarah. Tak ada cinta yang biasanya. Hari itu, aku ketakutan dengan pacarku sendiri. Entah bagaimana, hubungan kami kembali harmonis setelah aku berkali-kali meminta pengampunan. Pengampunan, bukan permintaan maaf.

Hari-hariku dan Luka kembali indah, tapi arus gelombang hubungan kami bukan sekali itu saja. Kejadian kembali terjadi saat kami berjalan dikeramaian mahasiswa kampus pindah gedung disela mata kuliah. Tanpa disengaja, seorang pria menubruk bahuku. Luka yang berjalan dibelakangku, tanpa kusadari berubah emosinya. Ditariknya tanganku, dengan terpaksa aku menyejajari langkah kaki Luka yang cepat. Begitu sampai di depan gedung kampus, dihempaskannya tanganku dan dengan suara mendesis dia mengumpatkan kata pelacur kepadaku.

Ditengah keramaian, di tengah hari terik dalam diam aku menangis dalam hati mendengar umpatan itu dilontarkan oleh pacar yang kusayangi. Kejadian-kejadian serupa kerap terjadi hampir setiap hari. Luka menjadi sebuah luka dalam hari-hariku, dan kian melukai hatiku dengan perilakunya.

Bukan hanya makian saja yang kuterima, beberapa kejadian bahkan membuatku nyaris mati ditangan pacarku. Luka memukuliku seperti bantalan tinju yang biasa digunakan sparing petinju, ditendangnya perutku, dijambaknya rambutku yang dulu selalu dipujinya indah, diancamnya aku dengan pisau.

Seluruh kontak antaraku dan temanku diputus oleh Luka. Tidak ada lagi aku yang berkumpul bersama teman-temanku, aku dicabut dari dunia sosialku. Media sosialku diawasi 24 jam penuh oleh Luka. Jika aku menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan sedihku, maka esok hari adalah petaka bagiku. Luka akan menyidangku dan menghakimiku dengan berbagai cara.

Tidak ada lagi perasaan dicintai dan disayangi oleh Luka. Setiap aku bertemu Luka, aku tidak merasa bahagia. Tapi aku masih bertahan dengannya. Masih merasa bahwa sebagian kejadian ini adalah kesalahanku. Salahku yang merubah Luka menjadi seperti monster. Aku merasa berkewajiban untuk mengembalikannya seperti Luka yang dulu.

Aku terlalu naif dengan merasa bahwa aku bisa merubah Luka kembali menjadi yang seperti dulu. Berbekalkan harapanku akan dicintai dan disayangi lagi oleh Luka, aku melakukan semua hal yang dilarangnya dan memberikan semua yang menyenangkan untuknya. Tanpa kusadari, bahwa rasa sayangku dan cintaku untuk Luka sudah lama mati setelah beberapa kekerasan yang kuterima dari Luka selama ini.

Hubungan kami terlihat kembali normal, sampai suatu waktu Luka kembali memukuliku dikarenakan teman kecilku (yang kebetulan seorang pria) melihat chat kami dan menyadarkanku bahwa aku adalah korban kekerasan dari pacarku sendiri. Suatu sore di bulan Ramadhan, aku menghadiri reuni SD-ku. Aku memutuskan untuk menginformasikan Luka bahwa aku akan menghadiri reuni tersebut karena sudah lama sekali kami tidak bertemu. Luka melarang, dengan alasan dia tidak bisa menemaniku hari itu. Aku menyatakan bahwa aku tidak keberatan untuk pergi sendiri, dan karena itu adalah reuni akan tidak nyaman rasanya jika aku membawa pasangan sedangkan temanku yang lain tidak membawa pasangan.

Luka muntab. Dimakinya aku lewat chat. Isi percakapan kami hanya berisikan kata makian dari Luka dan permohonan maaf dariku. Di reuni itu, aku tidak menikmati acara yang ada. Aku sibuk menenangkan Luka yang marah. Hingga teman kecilku mengambil handphone ku, dan membaca pesan yang Luka kirimkan.

"Yang kirim ini siapa?" tanyanya kepaku, sambil menunjukan layar handphoneku yang menunjukan isi makian Luka kepadaku.

"Balikin sini, Yan!" aku meminta handphoneku, tanpa mengindahkan pertanyaannya.

"Kita harus ngobrol deh, kayaknya" kata teman kecilku tersebut, sambil menarikku ke sudut ruangan. Dimintanya aku bercerita mengenai Luka dari awal sampai akhir dalam versi dipercepat. Aku tak punya pilihan, hati kecilku ternyata selama ini meminta pertolongan. Teman kecilku, Ryan, hadir dalam momen itu sebagai orang yang hatiku percaya untuk memberikan pertolongan pertama.

Ryan selalu menggeleng-gelengkan kepalanya disaat aku menceritakan kekerasan demi kekerasan yang dilakukan Luka kepadaku. "Putusin!" katanya mantap.

"Elo korban kekerasan, Ash. Kita bisa laporin dia ke polisi, kalo lo mau. Lo bakalan gue lindungin, gue bakalan cerita sama anak-anak buat jagain lo juga, kalo lo mau. Cowok lo sakit jiwa! Dia over-posesif," begitu katanya. Dalam hati kecilku, aku tahu bahwa pacarku melakukan kekerasan kepadaku. Rasa sayangnya menyakitiku.

Aku naif selama ini, dengan merasa bahwa aku bisa 'menyembuhkan'-nya. Nyatanya, aku hanyalah korban kekerasan fisik dan verbal dari pacarku sendiri. Seminggu setelah kejadian itu, aku memikirkan bagaimana aku mengakhiri hubunganku dengannya. Bagaimana aku memberikan penjelasan atas apa yang telah dilakukannya kepadaku dan bagaimana Luka telah menyakitiku.

Di momen yang telah kupersiapkan, setelah kami nonton film bersama. Aku menyatakan perasaanku yang telah lama pudar, rasa sakit hati yang kupendam, juga keinginanku untuk mengakhir hubungan ini. Luka yang saat itu sedang menyetir mobil, tiba-tiba menempeleng kepalaku, menghantamkan kepalaku ke kaca, memakiku dengan lantang. Aku takut bukan main, diruangan sesempit itu, di dalam mobil dan aku jauh dari rumah, Luka bisa melakukan apa saja terhadap diriku.

Ketakutanku membuat diriku secara refleks mendekap handphoneku, dan mendial nomor orang yang kuhapal untuk meminta pertolongan. Luka ternyata mengetahui perbuatanku dan semakin tinggi emosinya. Diambilnya handphoneku, dipukulkannya ke kepalaku berkali-kali. Aku semakin menjauhkan diriku dari Luka, namun ruang sempit di mobil membatasi gerakku. Aku tersudut tak bisa kemana-mana. Luka tertawa seperti orang gila.

"Kamu bakalan aku bawa muter-muter, Ash. Aku bunuh terus aku buang di tol!" begitu katamu sambil tertawa. Airmata mengalir deras dikedua pipiku. Luka, kamu membuat luka semakin dalam dihatiku.

Kamu membawaku menjauh dari rumahku selama 2 jam, dan membiarkanku menangis dalam ketakutan. Luka mengarahkan mobil ke arah rumahku, begitu sampai depan rumah, aku dikeluarkan dari mobil dengan didorong dan kamu menyatakan bahwa kamu tidak melepaskanku.

Aku masuk ke dalam rumah setengah berlari sambil menangis, orangtuaku menanyakan apa yang terjadi. Aku ketakutan setengah mati atas ancamanmu. Kuceritakan kejadian hari itu kepada kedua orangtuaku, terpaksa. Aku meminta perlindungan dari Papa dan Mama. Mereka sedih dan marah luar biasa.

Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Luka. Begitu tekadku dalam hati malam itu. Tak berhenti sampai situ, kamu menerorku. Mengancam membunuhku, menculik adikku, dan menghabisi keluargaku. Aku berusaha tegar. Tak kusangka, kamu setega dan segila itu. Orangtua Luka menangis ketika aku menceritakan soal yang terjadi antara aku dan Luka. Mereka tak percaya apabila anaknya berbuat seperti itu. Tapi kamu sendiri yang membuktikannya, secara tak langsung, dengan segala perilaku dan sikapmu.

Aku terus hidup dalam ketakutan, selama 3 bulan semenjak aku memutuskan untuk mengkhiri hubunganku dengan Luka. Ancaman demi ancamanmu akhirnya berkurang dan mereda dengan sendirinya. Kehidupanku mulai berjalan normal walau tertatih-tatih. Aku mengobati luka yang ada dalam diriku akibat hubunganku dengan Luka. Aku menghabisi waktuku dengan melakukan semua hobi yang sempat dilarang oleh Luka.

******

2 tahun sudah berlalu, semenjak kandasnya hubunganku dengan Luka saat itu. Kini aku duduk disebuah coffee shop di sebuah mall, mengenang memori yang ada antara aku dan Luka di masa lalu. Satu tahun pertama, aku masih menangisi hubunganku dengan Luka, bertanya-tanya kepada diriku sendiri mengenai apa yang salah pada diriku hingga memicu Luka menyakitiku. Menyesali setiap waktu yang kuhabiskan dengan Luka. Menyesali telah mengizinkan Luka menemani hidupku, menghabiskan waktu mudaku.

Tapi di momen ini, ketika temanku bercerita hal yang serupa dengan yang kualami bersama Luka, aku bersyukur bahwa aku dapat membantu temanku dari ketidasadarannya atas kenaifannya ingin merubah seseorang menjadi seperti apa yang diharapkannya. Aku bisa menceritakan pengalamanku kepada forum-forum yang concern terhadap wanita-wanita yang menjadi kekerasan dari pasangannya, dan bagaimana aku memutuskan langkah untuk berani mengakhiri hubungan tersebut.

Aku bersyukur Luka mengajariku pelajaran yang paling berharga dalam hidup, yaitu bersabar, berserah diri pada Tuhan dan memaafkan. Dengan pengalaman bersama Luka, aku menyemangati wanita-wanita yang selalu merasa bahwa dirinyalah penyebab pasangannya melakukan tindakan seperti Luka.

Tidak melulu hal-hal yang bersinggungan langsung yang menjadi penyebab terjadinya sebuah fenomena atau kejadian. Kadang, hal-hal yang berkecamuk dimasa lalu atau tidak langsung, memicu suatu kejadian. Setiap kejadian pasti ada alasannya, tapi belum tentu kejadian yang terbaru yang menjadi pemicunya. Kadang kejadian lampau, baru akan memicu tidakan selanjutnya beberapa puluh tahun ke depan. We never knows.

Tapi untuk mengatasi masa lalu yang buruk, seperti kejadianku dengan Luka, tidak dengan cara dihindari atau dilupakan. Seberapa keraspun kita berusaha melupakan, kita hanya akan membuatnya semakin kuat diingatan. Caranya hanya dengan menerima masa lalu tersebut dan memafkan semua kejadian yang terjadi.

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar kabar mengenai Luka dari teman-teman kampusku yang tidak sengaja bertemu dengannya. Aku senang bahwa dia sudah bisa hidup dengan baik, tanpaku. Maka, aku juga harus hidup lebih baik lagi, agar suatu hari aku bertemu dengan Luka, aku bisa tersenyum sambil berjabat tangan dengannya dan bertanya,

"Apa kabar, Luka?".