Lebih dari setahun lalu ditemani segelas susu hangat, rintik hujan yang seolah mendendangkan elegi dan tugas akhir yang menumpuk di sudut meja, aku menangis tergugu.

Bukan semata karena lelahnya tugas akhir yang seolah tiada habisnya, atau penolakan dosen pembimbing kala itu. Omelan dosen pembimbing dan ancaman tak bisa mengikuti ujian akhir, pula nyatanya tak seberat harus tahu bahwa kamu tak lagi bisa ku rengkuh. Ya, sore itu akhirnya aku tahu bahwa sekuat apapun aku mencintaimu, aku harus sudah berhenti mengharapkanmu.

***

Sebuah album foto pernikahan yang manis menjelma menjadi ribuan shuriken yang tak henti menghujam hatiku. Foto milikmu, bersama keluarga dan orang-orang terkasihmu, dan satu orang lagi yang ku tahu bukan bagian dari keluargamu tapi ikut menjadi satu dari banyak orang yang ada dalam kerumumunan di depan penting itu. Gadis manis itu duduk menjadi salah satu pemeran utama dalam foto yang tertangkap kemera dalam suasana haru.

Gadis itu duduk di tempat yang begitu ku inginkan sejak dulu. Di sampingmu, di depan penghulu. Tempat yang seringkali ku sebut agar menjadi tempatku melabuhkan semua impian tentang hidup bersamamu. Nyatanya, doaku mulai harus ku hentikan sejak saat itu. Ah, rasanya sungguh pilu kala itu.

Advertisement

Rasanya ingin sekali menangis meraung menyalahkan alam yang tak mampu menyampaikan doaku pada Tuhan hingga akhirnya tak dikabulkan. Tapi aku cukup paham, itu tak akan mengubah kenyataan bahwa bukan aku gadis yang kemudian kau bawa ke depan pelaminan. Bukan aku yang menjadi pelabuhan terakhirmu. Bukan aku yang kau jadikan ibu dari anak-anakmu. Bukan pula aku yang akhirnya jadi pemenang antara waktu dan rindu sejak bertahun-tahun lalu.

Bukan, bukan aku.

Pada perihnya perasaan yang tak bisa lagi ku tahan, aku kemudian hanya menangis dalam diam. Melihat kilas balik hidup yang ternyata begitu berliku hingga kadang hampir memerosokkanku dalam jurang kekecewaan.

Dan pernikahanmu, adalah satu dari jalanan paling curam yang mau tak mau harus ku lewati. Ya, bertahun-tahun menunggu, nyatanya aku harus berakhir dengan menangis tergugu pada kenyataan bahwa aku bukan wanita pilihanmu.

Di sebuah kedai susu, ditemani setumpuk tugas revisi yang ditolak melulu, serta kenangan yang seolah terus mengolok-olok nasibku. Sebuah pertanyaan besar kemudian menghantam kepalaku, jadi, sia-siakah semua doa dan kebaikan yang ku lakukan?

Terbersit penyelasan yang semakin lama semakin membuncah menjadi sebuah kekecewaan yang dalam pada takdir dan alam; yang mepertemukan kau dan aku; tanpa berakhir menjadi kita.

Kadang, ada pula rasa marah yang datang tanpa lelah mengoyak hatiku hingga berdarah. Jika sudah begitu, perasaan kerdil kerap kali datang menghampiri dan mengolok diri. Mengajakku untuk semakin mundur, berkutat dengan kesedihan. Menyeretku pada dogma menyedihkan bahwa aku tak pernah diinginkan. Tidak pernah diharapkan menjadi bagian dari masa depan seseorang. Ya, dulu aku pernah begitu akrab dengan kubangan kekecewaan yang dalam.

Aku digerogoti kebencian pada kehidupan. Pada nasib yang ku kira sudah paling malang. Bagaimana tidak, aku jatuh cinta berkali-kali, dan sakit lebih banyak lagi. Apalagi yang bisa kulakukan di sini selain meyumpahi takdir yang di mataku saat itu terlihat begitu keji?

***

Berpuluh-puluh hari kemudian, sejak hari itu, aku melihat dunia ini berbeda. Warnanya tak lagi sama.

Aku tak melihat biru kala teduh atau jingga kala senja. Yang ku lihat hanya abu-abu.

Aku bahkan tak melihat aku dalam diriku. Semuanya menjadi kabur, antara benar dan salah semuanya menjadi lebur. Semuanya seolah-olah berpendar di mataku. Tak ku temukan kepastian yang kucari ke sana-ke mari. Dan pada akhirnya, ketidakjelasan yang membuatku gamang.

***

Lalu, aku mulai sibuk mencari jawab atas kegamangan yang begitu mendera. Aku berjalan, berlari, hingga lelah tak mampu lagi sekedar berdiri. Aku tak bisa lagi ke sana-ke mari. Aku kelelahan. Yang aku bisa hanya menatap bayanganku dari lensa mata orang-orang yang kerap kali datang.

Mereka yang tetap menatapku, Sayang. Memberikan sejuta harapan yang ku kira sudah hilang. Lalu kemudian aku sadar, aku mencari sesuatu pada yang salah. Aku ternyata masih memeluk kecewa yang begitu kental, hingga mengubah warna dunia melalui selaput mataku.

Melelahkan hati dan ragaku hingga aku tak mampu melihat hal baik lain yang Tuhan berikan. Aku terlalu sibuk pada lukaku dan lupa bahwa ada banyak sekali cinta yang besar di sekelilingku. Ada banyak sekali asa yang tergambar di setiap lensa mata orang-orang yang memandangku penuh cinta. Ah, tiba-tiba aku ingin menatap mata mereka lebih lama. Atau bahkan selama-lamanya jika aku bisa.

Dengan energi terakhir yang tersisa, ku lepas perlahan kecewa yang selalu menempel di dada. Yang menjadikan duniaku pekat. Yang membuatku tak mampu jernih dalam melihat.

Dan semuanya berjalan sangat cepat.

Seketika setelah kulepas kecewa, rasanya mudah sekali untuk kembali tertawa. Hidup ini nyatanya masih memiliki banyak sisi ceria. Sekali lagi, Tuhan Maha Baik. Sakit dan kecewa yang sempat menggenang di hatiku berlarut-larut, nyatanya sekarang sudah surut. Ah ya, aku hanya butuh lebih sering bersujud dan melihat bahwa masih banyak sekali cinta di sekelilingku yang tak pernah surut. Iya, hanya itu saja sudah cukup.

Kemudian aku sampai pula pada sebuah pertanyaan baru, “Bukankah hidup itu tentang menjadikan kesedihan sebagai salah satu kekuatan kita untuk bertahan? “

Dan hari ini, aku tahu pasti bahwa aku bahagia. Aku bahagia pernah melalui pekatnya hari pernikahanmu dengan cintaku yang kala itu masih menggunung. Perihnya mencinta sendiri dalam sepi. Dan manisnya senyummu hari itu. Meski bukan aku yang kau pilih, meski bukan aku alasanmu tersenyum. Semua kesedihan itu mengumpul dan bermetamorfosis menjadi keuatan besar untuk hidupku.

Aku tahu, rencana Tuhan jauh lebih indah. Dan kelak pun berkahnya tak akan pernah kita sanggah. Tak ada hati yang salah dalam mencintai. Pun hatiku.

Jika kau dan aku tak berakhir menjadi kita, itu bukan tentang aku yang tak pantas untukmu atau kau yang tak baik untukku. Ini tentang tulang rusuk yang tak akan pernah bisa dipasangkan jika memang tak untuk bersama. Begitu pula kau dan aku.

Hari ini pula, ku yakini satu hal yang dulu luput dari pemahamanku satu tahun lalu: esok ataupun lusa, akan ada dia yang datang ke hadapanku sambil menawarkan banyak rasa yang ku tahu pasti merujuk pada cinta. Mengikrarkan janji suci di depan penghulu, sama dengan yang kau lakukan pada wanitamu.

Menjadikanku sempurna dengan panggilan ibu dari anak-anak yang lucu.

Dia, yang pula kelak jadi imamku sampai sepuh. Yang memiliki hati lebih luas untuk cintaku yang tak terbatas. Yang memiliki tangan lebih besar untuk menguatkan dan menjadikanku lebih tegar.

Iya, sebentar lagi tiba saatnya.

Sekarang, biarkan aku dan dia sama-sama sibuk dalam doa untuk membuat semuanya terwujud dengan segera. Biarkan aku dan dia sibuk dalam persiapan pertemuan yang Tuhan janjikan. Biarkan kami memangkas jarak temu dengan kesiapan kami berdua. Jika saatnya sudah benar-benar tiba, ku pastikan aku dan dia adalah dua hati yang bertemu karena siap untuk bahagia. Yang siap bersama meski jalan hidup kadang tak mudah.

Dan dia memang akan segera datang, secepat segelas susu di kedai habis dalam tegukan. Secepat senja mengantar matahari pulang ke peraduan.