Ikhlas. Sebuah kata, sebuah perbuatan namun sulit dilakukan oleh manusia. Begitupun dengan aku. Yang masih belum mengikhlaskan kepergianmu.

Aku dan kamu yang dulu adalah 'kita' kebersamaan yang masih aku rindukan. Padahal aku sudah mencoba untuk melupakan dan melanjutkan hidupku saat kamu memilih untuk mengakhiri hubungan kita. Namun bila rasa rindu datang, kuatnya hatiku seketika runtuh bersama dengan datangnya bayangmu dalam pikiranku.
Bayangmu yang dulu adalah nyata. Bersama-sama denganku menuliskan sebuah cerita cinta. Namun karna kesibukanmu yang membuat kita semakin lama semakin sulit untuk berkomunikasi dan bertemu serta keegoisanku yang selalu meminta perhatian darimu, membuatmu lelah dan memilih untuk pergi. Padahal aku masih bisa bertahan jika kita saling membicarakan.

Aku sudah memaafkanmu. Namun aku belum bisa mengikhlaskan saat hari itu kau lebih memilih untuk pergi dan berhenti memperjuangkan 'kita'. Padahal yang aku rasa 'kita' masih bisa diperjuangkan.
Aku kecewa, rasanya seperti apa yang sudah kita lalui begitu saja hilang dipikiranmu. Semua yang aku korbankan untukmu waktu, usaha, kesetiaan, cinta, sayang, seperti tak ada artinya selama ini. Inikah yang kamu mau? Inikah yang membuatmu bahagia? Membuatku tertawa lalu membuatku menangis. Datang sebentar lalu pergi.

Karna semua pasti berubah, mau tidak mau. Semua pasti berpisah, ingin tidak ingin. Semua pasti berakhir, siap tidak siap. Dan ketika itu terjadi, air mata pun tak akan merubah apapun.

Kunikmati kekecewaan yang saat ini datang padaku. Dan kubiarkan waktu dan usahaku agar segera mengikhlaskan kamu yang memilih untuk pergi~