“Hai, apa kabar?”

Ingin aku menyapa dan mengobrol untuk beberapa lama, tapi tampaknya aku terlalu pengecut untuk melakukannya. Kamu adalah bagian masalalu yang ingin kumaafkan dan kulupakan, tapi semakin lama aku mencoba melupakan, semakin deras kenangan itu datang. Dan sayangnya, jejakmu masih tertinggal disini, bahkan setelah ribuan manusia silih berganti dan ribuan perhatian datang. Aku merana ketika kutahu matahari masih saja terasa hangat dan terlukis manis di peraduannya, namun hatiku terbenam dalam ufuknya. Serasa aku terhianati oleh matahari yang tetap bisa sehangat itu ketika banyak yang melukai dan mencaci. Aku kalah telak.

“Apa kau sudah bahagia?”

Terkadang sulit kuakui aku masih dalam keadaan buruk dan terpuruk setelah keputusan berat itu. Tapi melihatmu baik-baik saja membuatku semakin harus berpura-pura dan menebalkan topeng kuda. Aku sudah mencoba berlari, namun langkah kaki kecilku terlalu pendek hingga kenangan itu masih mampu bersinggah hingga membuatku pasrah. Aku hanya bulir air dalam lautan kenangan, aku terkoyak dan terombang-ambing arus perasaan. Harusnya aku melawan, atau setidaknya meronta dan mengucapkan tolong agar siapapun mau membawaku dari jurang ini, tapi semakin aku tenggelam semakin aku menikmati kenangan yang ingin kuhapuskan. Bodoh memang, tapi sayangnya pesonanmu (masih) mampu menarikku dalam memori itu.

“Sudikah kau berteman lagi?”

Advertisement

Berteman adalah hal yang seharusnya kita lakukan dari awal, bukan menjadi pasangan dan akhirnya saling terluka. Mungkin persahabatan adalah jawaban atas semuanya, tapi sayangnya kala itu kita terlalu egois hingga memaksa keadaan dan menimbulkan perasaan. Kita berawal dengan baik-baik, dan harusnya berakhir pun dengan cara yang sama. Ya, mungkin egoisku memaksa untuk menyalahkanmu atas perpisahan kita, tapi ini bukan hanya salahmu, ini salah kita yang mencoba berjudi dengan waktu.

“Maafkan aku dan Terimakasih”

Permintaan maaf adalah satu-satunya ucapan yang mampu kukatakan atas semua hal yang telah kita perjuangkan. Kita harus berhenti lebih awal dan merubah lagi semua rencana yang ternyata terlalu rapuh untuk kita bersikukuh. Tapi mungkin Tuhan telah merencanakan semua dengan sempurna walau kita bukanlah Rama-Sinta.

Tetaplah kuat dan berbahagia. Aku pun akan melakukan hal yang sama.

Dari aku yang pernah berjuang bersamamu