Cinta itu indah saat mempersatukan perbedaan, mulai dari sifat, pemikiran, suku, kebudayaan, ras, negara, tapi tidak dengan agama. Ini masalah prinsip, keyakinan dan pilihan sih sebenarnya. Negara pun membebaskan warga negaranya untuk beribadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing kan? Semua orang berhak memilih agama yang ingin dianut, tapi harus konsisten dengan pilihan itu.

Cinta beda agama itu awalnya indah, di mana dua orang menyebut Tuhan dengan sebutan yang berbeda, menyembah dan beribadah kepada Tuhan dengan cara yang berbeda, saling menghargai dan mendukung saat beribadah, bahkan nggak jarang saling mengantar ke tempat ibadah masing-masing. Semua dilakukan atas nama cinta. Cinta kepada manusia yang kadang mengalahkan cinta kepada Tuhan.

Saat perjalanan hubungan mulai menginjak tahunan, hubungan itu bukan lagi milik dua orang. Di mana sebelah pihak butuh Imam untuk salat sedangkan sebelah pihak lain butuh pendamping gereja. Di mana orang tua sebelah pihak mengajak untuk yasinan dan berlebaran di rumah, sedangkan orang tua sebelah pihak lain mengajak untuk merayakan natal dan paskah bersama.

Hubungan ini mulai memasuki fase ribet, lelah untuk bertahan tetapi terlalu cinta untuk melepaskan. Dalam hidup banyak hal yang sulit untuk dipilih termasuk cinta dan keyakinan, tapi hidup harus memilih satu yang pasti. Tak bisa terus ada dalam dua pilihan. Hidup juga harus ada tujuan seperti saat memulai suatu hubungan pastinya ada harapan untuk akhir dari hubungan itu. Cinta beda agama punya akhir yang belum tau mau kemana dan bagaimana. Ada yang berhasil menjadi keluarga namun lebih banyak yang berkeluarga masing-masing. Bukankah lebih indah saat dua orang pergi beribadah ke tempat yang sama untuk menyembah dengan cara yang sama dengan panggilan Tuhan yang sama juga?

Semua kembali lagi kepada pilihan, tapi jangan melupakan prinsip dan keyakinan.