Mungkin, saat kita masih bersama dia, kita merasakan bahwa dialah sumber kebahagiaan kita, dia segalanya, cuma dia yang bisa mengisi hari-hari kita. Tapi, kita lupa bahwa ada sahabat, bahkan keluarga yang jauh sebelumnya sudah mengisi hari-hari kita. Iya, mungkin itu yang namanya dimabuk cinta. Ah, cinta. Mengapa harus ada dia kalau keluarga dan sahabat saja sudah cukup membuat kita bahagia, pasti itu yang terfikir di benak kita kalau dia menyakiti kita, meninggalkan kita atau mengkhianati kita.

Sadarkah kita? Saat kita sudah terlalu asyik bersama dia, seakan-akan kita lupa oleh segalanya. Persahabatan, atau keluargapun bisa saja kita lupakan. Hasilnya? Banyak sekali memori indah yang kita ciptakan bersama dia. Syukur-syukur kalau kita memang benar berjodoh, kita bisa menceritakan kepada anak-anak kita nanti, menceritakan masa-masa indah saat kita masih berpacaran. Kalau dia bukan jodoh kita? Yang ada kita sendiri yang merasakan kesedihan, susah move on, atau bisa-bisa kita jadi depresi karena terlalu banyak kenangan indah. Benar gak sih?

Seakan-akan, langkah kaki kita selalu mengikuti kemana dia pergi. Susah melupakan itu sudah pasti, bayangan-bayangan kenangan indah selalu menghantui, terbawa arus oleh kesedihan yang kita buat sendiri. Akhirnya? Kita sendiri yang kerepotan menghilangkan rasa sakit hati.

Lalu, siapa yang peduli saat kita sedang dalam keterpurukan? Jelas keluarga dan sahabat. Kita tidak sendiri, mungkin tanpa kita sadari, masih banyak orang-orang terkasih yang selalu mensupport kita. Matahari tidak akan terbenam selamanya tanpa dia, anggap saja dia hanyalah tamu yang menumpang untuk singgah sebentar, lalu dia kembali pergi melanjutkan petualangannya. Toh dari kejadian itu kita bisa mengambil hikmah, mungkin Tuhan ingin tau sekuat apa kita bisa menghadapi cobaan, dan yang terpenting bahwa tanpa adanya dia, dunia ini masih terus berputar, matahari tetap terus bersinar, dan tidak mengakhiri kebahagiaan kita. Dunia kita bukan hanya dia saja.

Suatu saat, sahabatku pernah bilang padaku "Lo jangan terlalu serius lah sama dia, gw tau dia itu gak seserius yang lo kira'' dan aku cuma bisa jawab "tau apa sih lo tentang gw ama dia, gw ama dia yang jalanin kok lo yang ribet" alhasil, kita dan sahabat akhirnya bertengkar, merasa bahwa dia sok tau. Tanpa kita fikir, bahwa ada maksud baik di balik omongannya itu. Atau mungkin ibu yang mengingatkan " Nak, jaga diri baik-baik. Ibu takut dia hanya mempermainkan kamu" dan kita pasti bakal berfikir kalau ibu jahat banget, enggak ngerti perasaan kita, atau bahkan sampai berfikir kalau ibu itu seperti enggak pernah ngerasa muda aja. Percayalah, omongan ibu itu doa. Enggak ada salahnya kita mempertimbangkan omongan mereka, toh mereka enggak akan menjerumuskan kita.

Advertisement

Kalau pada akhinrya dia benar-benar meninggalkan kita, kita tidak perlu merasa terlalu terpuruk dan merasa dia segalanya. Selagi masih muda, pergunakan waktu mudamu sebaik-baiknya. Lakukan banyak hal yang berguna, membahagiakan ibu ayah, menghabiskan waktu bersama sahabat pastinya dengan kegiatan yang positif, lakukan hobi-hobi yang selama ini kita gemari. Lakukan hal-hal positif dan bermanfaat bagi banyak orang. Berkah untuk semuanya.

Karena, ketika kita merasakan kehilangan arah dan tujuan saat tiba-tiba dia meninggalkan kita, percayalah, masih banyak orang yang jauh lebih berarti dan peduli kepada kita. Sekali lagi, dunia kita belum berahir tanpa dia.