Aku tak tahu sampai kapan hubungan ini akan terus berlanjut. Apakah serupa dengan harapan yang pernah kita letakkan di beranda mimpi. Saat itu semua seolah akan baik-baik saja. Tak ada pihak ketiga yang berusaha menggugurkan segalanya. Tak ada hujan yang berupaya mempercepat kelam. Tapi apa, sikapmu yang ramah lebih dini membuat semua tersudahi. Rasanya ingin marah tapi namamu terlalu indah untuk kulukai. Aku takut, lidahku salah tempuh. Tak ingin ada sesal yang terajut dalam kalbu.

Andai kamu tahu, sikapmu yang terlalu ramah kerap membuat aku lemah.

Apakah boleh bila aku sejenak mundur ke belakang, bersama ketidakpahaman yang masih menggumpal. Menikmati senja yang sahaja di bawah langit merah saga. Menikmati setiap desir angin yang membelai tanpa permisi. Aku butuh waktu untuk menerapi keadaan. Aku ingin bersahabat dengan kehilangan yang pernah kuciptakan sendiri. Dengan kecewa yang kerap kutumbuhkan tanpa sepengetahuanmu.

Bahagia rasanya jika setiap detik aku sanggup menikmati setiap masalah yang menyapa. Aku ingin seperti dahulu, mencintaimu sewajarnya. Tanpa ada sesak, tanpa ada cemburu yang memburu.

Jika waktu tidak keberatan, aku ingin seperti ini. Menikmati apa yang kusanggup tanpa mengenal beban di depan sana.

Advertisement

Esok, setelah pelangi terbalik terbit lagi di halaman wajahku. Aku ingin berteriak pada pohon tempat kubersandar. Pada daun gugur yang sempat menghibur saat kau memilih acuh. Memelukmu dari balik kelambu doa. Lalu mendoakan agar hubungan ini tetap bersemayam meski terhalang jarak dan rindu.

Pada akhirnya aku sadar, prasangka hanya akan membawaku pada sesal.

Tak ingin terlalu mengakrabi prasangka, sebab karenanya aku terperosok ke dalam lembah hitam. Bahkan membuatku jauh dari dekapanNya. Aku percaya, Tuhan menyukai hambaNya yang sabar. Berpasrah dalam hal apa pun dengan hati lapang. Bukankah setiap masalah yang timbul ada keikutsertaan dari sang Maha Agung. Tersenyumlah!