Hmm… yang paling menyakitkan dari kepergianmu sebenarnya bukan karena saat kamu tidak lagi disampingku saat besok aku membuka mata, tapi karena kepergianmu sama sekali tidak meninggalkan sepatah pun kata perpisahan… tidak pernah ada alasan kenapa kamu ingin hengkang dari cerita yang sudah cukup panjang kita tuliskan selama ini.

Sudah terlalu banyak kalimat aku tuliskan, seperti air mataku yang sudah kering untuk menangisimu, Lalu apalagi yang harus kutulis di sini?

Sebegitu bekukah hatimu seperti batu?

Aku memang terlalu bodoh mencintaimu dan kamu terlalu pandai menghancurkanku. Membawa setiap angan jauh terbang ke atas lalu melemparkannya begitu saja ke dasar tanah. Aku mungkin konyol, tapi bagiku tindakanmu juga sangat tidak lucu.

Cinta bukan soal mengemis, bukan soal berat sebelah, dan bukan soal berjuang sendirian

Advertisement

Apa kamu masih terlena di atas angin, karena aku terlalu menginginkanmu, mendewa-dewa kan mu seperti seolah tidak ada orang lain di bumi ini?

Banyak kata yang ingin aku ungkap, tapi rasanya percuma saja, toh selamanya aku akan mendayung perahuku sendiri. Boleh saja, kau anggap ini sekedar tulisan murahan bagimu, sebuah roman picisan yang kau lihat sebelah mata. Silahkan saja, kamu boleh melemparnya atau membuangnya.

Lelahku berjuang dan bertahan, kamu tak pernah tahu, mungkin juga tak mau tahu.

Sekali lagi, kamu boleh meledekku, karena mungkin sudah ku ucap kesekian kali. Aku memang masih berjuang merelakanmu. Kamu punya hak untuk meremehkan perjuanganku untuk merelakanmu tapi aku juga punya hak untuk menjaga hatiku agar tidak terus terluka karenamu. Karena pada hakikatnya, setiap manusia punya hak untuk bahagia dengan jalan yang dipilihnya sendiri.

Cinta bukan hal konyol yang bisa membuat hati tergores hingga kesekian kali …