Bahkan sinar mentari akan terbenam ketika ia menyadari bahwa keberadaannya sudah cukup untuk menerangi bumi. Karena ia sadar bahwa keberadaannya memeiliki keterbatasan, dan akan hadir kembali disaat yang tepat, saat fajar nanti. Hari ini, di pinggir Pantai Sei Taiwan, di Pulau Sebatik.. aku menatap mentari terbenam itu.. langkah kaki ku tak bosan mengitari pantai yang mulai surut. Namun ada sebuah perasaan yang ku rindukan. Ya, tentang persahabatan kita. Melihat gelombang ombak, terbawa angin laut. Mengingatkanku tentang arus persahabatan kita. Memori itu kembali terbayang.. memori masa sekolah kita nan seru dan menantang. Canda tawa kita bersama. Kelakuan usil kita, hingga belajar kelompok bersama. Dahulu kita punya mimpi yang banyak tentang masa depan. Mimpi masa kecil dengan angan-angan semau hati kita. Waktu berlalu, kita makin dewasa dan kita menyadari.. bahwa waktu membuat kita harus berpisah.

Terkadang berpisah adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita menghargai rindu.

Berpisah untuk melakukan lompatan-lompatan kecil untuk mencapai tangga keinginan. Puncak cita-cita. Namun aku yakin, jarak yang jauh bukan penghalang bagi rasa persahabatan kita yang terus terjalin. Ada rindu yang dirasa, namun kita masih menatap langit yang sama. Biarlah doa menjadi pelampiasan rindu kita, sahabat.

Dari Sahabatmu,

Di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara

Advertisement

Perbatasan Indonesia-Malaysia.