Baru sebulan menikah, alhamdulillah saat itu Allah beri rizki langsung hamil anak pertama. Masih kuingat betul wajah suamiku saat pertama kali kutunjukkan hasil test pack kehamilan padanya. Wajah sumringah karena bahagia, tapi juga tak mampu sembunyikan rasa tegangnya.

"Kenapa?" Tanyaku saat itu.

"Subhanallah, belum sebulan aku belajar menjadi seorang suami, kini Allah menghendaki aku belajar sebagai seorang ayah sekaligus. Bismillah, aku akan belajar dengan baik. Tolong bantu aku ya," begitu jawabnya.

23 tahun usianya saat itu. Masih sangat muda. Usia di mana mungkin teman-temannya sedang asyik dengan dunia mudanya dan berkutat dengan segala mimpi dan hobinya. Tapi ia justru mengambil sebuah keputusan besar untuk menikah. Mengambil tanggung jawab yang tak ringan untuk menahkodai sebuah rumah tangga.

Aku melihat bagaimana ia belajar menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah di waktu yang bersamaan. Tidak sekedar belajar dari peristiwa-peristiwa kehidupan, tapi juga membaca artikel-artikel yg tak jarang aku sodorkan dan berdiskusi dengan mereka yg ia anggap mampu memberi masukan.

Advertisement

Termasuk ikut terlibat dalam training-training parenting jika memungkinkan. Bahkan tak jarang, beliau lebih terlihat fokus mengikuti sesi dan lebih lengkap catatannya di banding saya. Kalaupun tak bisa datang berdua, biasanya saya yang diminta berangkat untuk belajar, dan selalu menagih transferan ilmunya saat pulang.

Hampir 8 tahun ini gelar ayah ia sandang. Banyak hal yang aku syukuri karena Allah telah hadirkan dia sebagai ayah dari anak-anakku. Ya, karena saat memilih calon suami, sejatinya kita bukan hanya mencari pasangan hidup saja, tapi juga mencari ayah untuk anak-anak kita kelak.

Maka ketika hendak mencari pasangan hidup, pastikan kita menyalakan dua 'radar'. Radar pertama, apakah jika kita menikah dengannya, ia bisa menjadi suami sekaligus imam yang terbaik untuk kita? Radar kedua, bertanyalah pada diri kita, apakah jika kita menikah dengannya, maka ia adalah ayah yang tepat untuk anak-anak kita kelak?

Karena sekali lagi, menikah tak hanya sedang mencari pasangan hidup,tapi juga mencari calon ayah untuk anak-anak kita kelak. Teriakan anak-anak dan ekspresi bahagia saat menyambut ayahnya datang meski hanya ditinggal sebentar, menjadi gambaran bagaimana ia begitu dirindukan kehadirannya. Termasuk saat ditinggal bekerja mengisi training. Ayah berkomitmen tidak boleh lebih dari 5 hari 4 malam. Karena itu adalah ambang batas kangennya anak-anak.

Pernah waktu itu sulung kami tiba-tiba minta keluar rumah. Ternyata kemudian ia menengadahkan wajahnya ke langit dan menunggu pesawat lewat. Begitu ada yang lewat, dia berteriak, "Tungguuuu, aku ikuuut, aku mau ke ayaaaah!!!" Sampai-sampai bundanya speechless. Untung saja ayahnya sudah di bandara dan siap terbang ke Surabaya. Tepat di hari kelima.

Ayah juga pernah menolak undangan rangkaian training saat durasinya melebihi ambang. Ya, karena hidup bukan semata-mata tentang uang dan mengejar materi. Tapi bagaimana menjadikan keluarga dan semua personilnya bahagia. Apalah arti harta yang menumpuk jika keluarga tak bahagia. Apalah arti bekerja untuk keluarga jika nyatanya anak-anak yatim sebelum waktunya tanpa kehadiran ayah di samping mereka.

Main boneka, main kuda-kudaan, membacakan buku, dan sebagainya, tak gagap ia lakukan demi melihat buah hati tersenyum senang. Begitu pula dengan urusan agama. Sampai sekarang si kakak sering sekali lari ke ayahnya, memeluk, mencium sambil bilang "I love you so much, ayah". Tak jarang pula si adek tiba-tiba sudah terlelap dalam pelukan ayahnya. Melihat pemandangan seperti ini, bunda mana yang tidak terharu…

Apalagi saat membaca kembali hasil wawancara si ayah yang tampil di salah satu koran nasional tahun lalu. Rubrik parenting halaman For Her hari itu mengupas tema yang unik sekaligus menarik. "Mempercayakan si kecil kepada ayah di rumah : Saatnya bertualang bareng daddy". Terharu banget baca ulasan artikelnya. Padahal cerita-cerita di sana hanyalah secuil dari apa yang sudah dilakukannya selama ini.

Semakin melting saat kutemui ada bait-bait dalam tulisan itu : "setelah hari itu berakhir, dia pun menyadari bahwa menjadi bapak rumah tangga tanpa gadget untuk buah hati butuh perjuangan ekstra. Kini dia menegaskan semakin menghormati istrinya". Sukses bikin terharu..

Bertambah syukur saat anak-anak pun semakin dekat dengan ayahnya. Ya, karena beberapa kali menyimak tema2 parenting baik dalam seminar maupun membaca artikel-artikel lepas, bahwa peran ayah bisa dikatakan lebih strategis dari peran ibu dalam membangun karakter buah hati. Ayah bukan sekedar mesin ATM! Jika ibu adalah madrasah/sekolah pertama bagi buah hati, maka ayahlah kepala sekolahnya. Bukan penjaga sekolah yang bertugas membetulkan genting yang rusak atau pompa air yang rewel.

Ayah adalah kepala sekolah dalam institusi bernama keluarga. Bahkan dalam Al quran, secara keseluruhan terdapat 17 dialog tentang pengasuhan yang tersebar dalam 9 surat. 14 dialog ayah dan anak, 2 dialog ibu dan anak, serta 1 dialog guru dan murid. Hal ini seolah kembali menegaskan, bahwa pengasuhan buah hati adalah tanggung jawab bersama dan sosok ayah memiliki peran yang sangat sangat strategis dan krusial di dalamnya.

Ah jadi keinget bulan April kemarin saat saya diminta suami ikut training 3 hari di Salatiga. Training bagaimana menjadi fasilitator untuk proses homeschooling anak-anak yang kami terapkan di rumah. Tidak cukup 3 hari meninggalkan anak-anak untuk sementara, ternyata si ayah memberi tawaran extra me time 1 hari di Solo agar saya bisa jalan-jalan dan rehat sejenak dari urusan rumah dan anak-anak.

Dua krucil hanya bersama ayahnya di rumah, tanpa asisten rumah tangga, tanpa ada saudara yang menemani. Bahkan si ayah rela menolak tawaran training selama 4 hari demi menemani 2 krucil dan berpetualang bersama. Padahal jika dihitung, rupiah yang tidak jadi masuk dari tawaran training ini bahkan lebih besar dari investasi training 3 hari yg saya ikuti berikut akomodasi dan transaksinya. Karena sekali lagi, hidup tidak semata-mata tentang rupiah.

"Ketika memercayakan si kecil bersama ayah di rumah, hal ini bukanlah menjadi sebuah beban. Tapi justru menjadi moment berharga untuk lebih dekat dengan buah hati. Ini mindset yg harus dibangun. It's priceless", kata suami saya. Yang penting saat anak-anak mau dititipkan, apalagi tidak ada orang lain yang bantu handle, kita sebagai istri sudah memastikan semua baik-baik saja. Ibarat mau 'perang' kita sudah siapkan alat tempur dan strateginya. Makanannya, susunya, mainannya bahkan sampai plan ABC jika si kecil rewel sudah kita breakdown dengan baik kepada sang ayah. Selebihnya, enjoy your time daddy.

Ndhuk…
Memang ayah tak pernah mengandungmu, tapi darahnya mengalir dalam darahmu.
Memang ayah tak melahirkanmu, tapi suaranyalah yang pertama mengumandangkan Kalimat Tauhid di pendengaranmu.
Memang ayah tak pernah menyusuimu, tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu..


Terima kasih ayah telah berjuang untuk kami. Semoga Allah nilai sebagai ibadah yg memperberat timbangan kebaikan di yaumil hisab. Semoga tiap keringat berbuah surga. Tolong bawa kami bersamamu sampai di Jannah-Nya..
Proud of you ayah juara!

*Tulisan ini saya persembahkan untuk ayah dari anak-anak saya : ayah Adri Suyanto dan seluruh (calon) ayah di Indonesia. Selamat Hari Ayah Internasional 20 Juni 2016 🙂