Ada yang berbeda dari timbulnya fajar di Bulan Ramadhan. Pagi yang biasanya hanya aku habiskan dengan subuh di dalam rumah, kini aku terpanggil mendatangi masjid untuk berjama'ah. Meskipun cuaca masih terasa begitu dingin, aku tetap menikmati saat-saat itu. Mulai dari melangkahkan kaki keluar rumah, lalu saat aku jumpai puluhan umat muslim jalan berbondong-bondong sambil berselempang sajadah. Meneduhkan sekali, pesona dari air wudhu yang membasahi wajah.

Seusai subuh berjamaah, tilawah al-qur'an tak lupa disenandungkan. Sedangkan di luar masjid, sudah penuh dengan keramaian. Sorak-sorai anak-anak begitu gembira berlarian. Alih-alih pulang ke rumah dan melanjutkan tidur, mereka malah beriringan menuju taman. Tak jarang dari mereka yang nakal menyalakan petasan, sebagain lainnya hanya merasa senang karena bebas berkeliaran. Sementara aku sibuk menikmati pancaran matahari yang mulai timbul kepermukaan. Sampai akhirnya matahari tak malu lagi menampakan diri, aku pulang untuk bergegas kerja.

Hanya pada saat Ramadhan, aku menyukai senja dalam carut-marut jalanan ibu kota. Terjebak macet pada saat jam pulang kerja memang sudah merupakan hal yang biasa. Ditambah lagi saat bulan ramadhan, kemacetan akan meningkat 2 kali lipat dari biasanya. Hal ini dikarenakan banyaknya penjual takjil ataupun makanan berat yang berdagang di pinggir jalan. Bukannya kesal, aku justru malah menikmati pemandangan yang ada.

Mungkin hal tersebut terjadi karena aku melihat begitu banyak kebaikan terjadi di senja ramadhan. Ada mereka-mereka yang mempersiapkan takjil gratis dan membagikannya kepada kami, pengendara yang sedang berjuang menembus kemacetan. Ada juga pejalan yang sengaja berhenti untuk sekedar berbagi makanan dengan mereka yang kesusahan. Hingga tiba saat adzan maghrib berkumandang, jalan yang semula padat perlahan berkurang. Karena sebagian besar pengendara memutuskan meminggirkan kendaraannya sejenak. Dengan tujuan membatalkan puasanya dan juga shalat maghrib berjama'ah.

Ada rasa bahagia, ketika kulihat senyum sumringah para penjual dagangan. Menghitung omset berkalilipat kala ramadhan. Sungguh ramadhan pembawa rezeki dan keberkahan. Tak kalah hangat, senyum yang sama aku dapatkan dari mereka yang berhenti membeli dagangan. Mereka saling sapa, berkumpul berbuka puasa bersama tanpa sengaja, sama-sama berbahagia, dan berdoa hal yang sama "Ya Allah atas rahmatmu kami berpuasa dan atas rezekimu kami berbuka, Alhamdulillah". Itulah mengapa aku menikmati suasana senja di Bulan Ramadhan.

Advertisement

Dipangkuan sunrise dan sunset ramadhan, ku rebahkan tubuhku yang mabuk oleh pesonanya. Aku persembahkan sebongkah doa dan pujian keindahan untuk bulan suci yang tak akan pernah ada gantinya. Aku banggakan setiap keramahan dan kebersamaan yang tidak perlu diragukan ketulusannya. Dengan penuh rasa syukur, aku rasakan betul kesejukan dan limpah ruah keberkahannya.

Hanya di ramadhan, bulan dimana semua insan benar-benar terlihat dan terasa sama-rata. Tidak ada sedikitpun strata dan hirarki keduniawian yang berlaku untuk diperhitungkan. Entah si miskin atau si kaya, si perfect atau si buruk rupa, semua sama. Sama-sama berjuang menahan lapar, haus, nafsu dan amarah. Sama-sama berlomba-lomba berbuat kebaikan. Bersama-sama memupuk ibadah dan menanam pahala. Sungguh teramat banyak pelajaran ramadhan yang sebentar lagi akan kita rindukan.

Ramadhan akan segera berakhir. Rasa sunrise dan sunset sudah tidak akan lagi sama. Tapi semoga saja, kebaikan dan keberkahan ramadhan tidak akan pernah tersingkir. Semoga selalu melekat disetiap kita cinta untuk berbagi dan mengindahkan sesama. Semoga setiap amal dan ibadah kita selama satu bulan penuh, diterima oleh Allah. Semoga setiap kita diizinkan untuk kembali menemui ramadhan di tahun berikutnya. Aamiin Allahumma aamiin.