Pernah ada waktu yang hilang sebab bertahun-tahun lamanya berbagi cerita bersama merpati. Cerita tentang indah mimpi di hari tua, bersama merpati. Iya, merpati. Merpati putih yang anggun nan cantik. Namun, cerita pada waktu yang telah lama tersebut kini harus terkubur bersama mimpi yang merpati pernah ucapkan kala itu.

***

"Apa yang Tuhan rencanakan untuk laki-laki kecil ini."

Itu bukan sebuah pertanyaan maupun pernyataannya kepada Sang Tuhan. Ia hanya berselancar pada diksi semua rencana Tuhan yang akan indah pada waktunya, dan berharap agar Tuhan selalu memberikan senyum-Nya di setiap perjalanan yang ia lalui. Sebab, tiada yang indah di dunia ini selain senyum Tuhan.

Izinkan aku untuk sedikit bercerita: karena ia hanya ingin menceritakan apa yang ingin ia keluarkan dan ia rasakan. Seperti halnya sebuah tangisan, keluar begitu saja walau ia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya. Ia hanya ingin bercerita pada kalian tentang pengalamannya akan kesunyian, kesedihan, harapan dan juga…..

Advertisement

Aku bertanya kepadanya, perihal makna yang terkandung dari titik-titik di atas, namun ia bersikeras tidak mau menjawabnya. Dan karenanya, yang aku tahu ia bagaikan laba-laba penenun, yang menyulam imajinasinya dengan realitas kehidupan.

Saat ia telah kehabisan serat benangnya yang terakhir, maka ia menenun dengan ukiran air matanya, ketika air matanya pun telah mengering, maka ia berusaha merajutnya kembali dengan lembaran serabut vena tubuhnya yang di mana benang-benang tersebut tidak pernah habis walau ia telah memakainya berjuta-juta kaki jauhnya.

Ketika aku bertanya kepadanya perihal benang ajaib itu, ia hanya menjawab sederhana: "pikiran dan kehendak bebas. Serta cintanya pada seorang wanita yang telah lima tahun lamanya ia kenal".

Hari ini aku sadar, bahwa air mataku sangat teramat berharga, senyumku sangat teramat berarti. Jika aku masih menyesali kepergiannya karena ia memilih untuk meninggalkan aku demi laki-laki lain, sama halnya aku telah menyia-nyiakan air mata dan senyuman yang teramat berharga dan berarti ini.

***

Terasa ringan rasanya, setelah seharian aku berbagi cerita bersama sahabatku (panggil saja Esteh). Ia yang selalu setia menemaniku saat aku tengah resah dan gundah karena cintaku pada seorang wanita yang tlah lima tahun lamanya ku kenal.

Kenyataan bahwa wanita yang telah lima tahun lamanya itu ku kenal dan ku cintai lebih memilih meninggalkanku demi lelaki lain adalah bentuk dari sebuah siksa dalam hati dan kenangan cinta kita bagaikan cerita anjing-anjing yang nakal dan lucu. Dia membuktikan bahwa karenanya aku mampu menangis menderu serta bertingkah konyol beberapa hari ini.

Apa yang ku pikirkan tentang cinta hari ini adalah apa yang paling ku benci dalam hidup. Sebab yang ku tahu dan rasakan hari ini adalah bahwa cinta itu bualan belaka. Tak ada cinta di dunia ini, sebab cinta tak selalu bercerita tentang keindahan mimpi-mimpi di hari tua nanti, sebab cinta adalah rasa sakit karena sebuah pengkhianatan.

***

Merelakannya pergi adalah keputusan yang bijak saat ini. Mengikhlaskan kenangan ini berlalu adalah tindakan yang dewasa saat ini. Berlalu, meninggalkan waktu. Langkah yang ku jalani tanpanya adalah bentuk kesepakatan antara hati dan Tuhan. Cinta kita, cinta yang pernah kita bangun kini harus berakhir. Sebulan lamanya aku menangis menderu berharap kau kembali dalam pelukan ini. Tapi, kau tak tahu hal itu. Sebab, yang kau tahu hari ini adalah dia yang telah membuatmu bahagia melampaui batas jurang kebahagiaanmu bersamaku. Kau tak pernah mengerti, mengapa aku sampai seperti ini. Apa kau tahu tentang isi hatiku? Tiap malam ku menangis menderu.

Ah, sudahlah.. Aku hanya akan gila dan tenggelam semakin dalan pada lautan mimpi jika terus–menerus berharap ia akan kembali. Tapi!! Kenangan itu sungguh menjadi hantu dalam hidupku. Mengapa tidak? Aku bukan pesulap yang bisa sekejap mata menghilangkan kelinci di dalam topi. Bapa, ibu serta saudara-saudaraku telah tahu bahwa aku dan dia adalah kita.

Dulu, di tengah hiruk-piruk kebahagiaan iparku yang tengah melakukan pernikahan, ku kenalkanlah dia kepada keluarga. Yaa Tuhan.. Semua cerita itu kini tengah berselancar penuh irama di pikiranku. Dan apalagi kenangan perjuangan beberapa bulan yang lalu. Menjadi seorang demonstran berdua, menentang kebijakan pemeringah yang memunggungi rakyatnya.

Dan kini, teori cinta hanyalah sebuah teori. Teori tentang bagaimana cara move on pun hanya menjadi nyanyian belaka. Akhirnya ku pun tahu betapa sulitnya meninggalkan rasa cinta ini, tentunya! Meninggalkannya mulai detik ini agar tak ada lagi cinta untuknya di keesokan hari.

Tiga hari yang lalu adalah Valentine's Day yang menjadi begitu menakutkan ketika kenangan itu datang menjadi bayang-bayang. Begitu mudah ia melupakan lima tahun lamanya hubungan kita dan hal yang paling menyakitkan adalah belum ada satu minggu perpisahan itu, dia telah mendapatkan yang baru.

“Sedetik, dua menit, tiga jam, empat hari, lima minggu pun telah berlalu. Tapi. . . Masih ada sisa-sisa ketidakrelaan hati untuk melepasmu. Entahlah!! Apa yang tengah Tuhan rencanakan untuk bocah biasa ini, mungkin Tuhan tak merestui sebab bocah ini adalah bocah biasa, bapa ibunya tak punya banyak harta, ia bukan bocah yang pandai baca kitab kuning. Jangankan punya status alumni pondok pesantren, belajar di pondok pesantren saja ia tak pernah." Begitulah kata pikiranku.

Aku sadar, dan mengerti siapa aku ini. Dan akhirnya, merelakan serta mengikhlaskannya adalah hal terbaik yang harus kulakukan saat ini. Biarlah cinta ini menjadi buah kenikmatan yang Tuhan beri, dan biarlah kenangan itu berselancar dialam pikiran, sebab aku yakin jika suatu saat pastilah ada yang bisa memberi menggantikan dan menemani langkah ini untuk mencipta kenangan baru yang akan mengganti kenangan lama. Sebab "perMATA telah hilang".