Gumuk pasir merupakan satu dari sekian banyak anugerah bagi masyarakat Indonesia. Sudah seharusnya kita menjaga agar keberadaannya tetap lestari.

Gumuk Pasir merupakan salah satu jenis ekosistem pantai yang jarang dibicarakan dibandinglan dengan lainnya. Gumuk pasir merupakan akumulasi pasir lepas berbentuk bukit – bukit (gundukan) yang teratur, dari angin yang bertiup searah dan terus menerus pada suatu daerah. Parangtritis menyajikan bentukan ekosistem.

Gumuk Pasir merupakan fenomena alam berupa bukit-bukit pasir yang seperti dibentuk oleh gerakan angin. Istilah kata “Gumuk” berasal dari bahasa Jawa yang berarti tumpukan atau portrudes dari permukaan yang datar. Sesuai dengan proses pembentukannya atau morphogenetically, Gumuk Pasir Pantai Parangtritis tidak dapat mengesampingkan keberadaan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Sungai Opak, Sungai Progo dan Pantai Parangtritis itu sendiri.

Ekosistem gumuk pasir dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah dan kemerusan pasir yang diendapkan, ombak yang memindahkan pasir dari laut ke darat, intensitas cahaya matahari yang mengeringkan pasir di pantai, besar dan kemerusan arah angin yang memindahkan butir pasir, tebik penghambar gerak angin dan sebaran pantai, vegetasi dan budaya masyarakat. Gumuk Pasir Parangtritis merupakan lingkungan hidup yang mempunyai kondisi abiotik yang presifik, yaitu fluktuasi suhu sing dan malam ekstrim, struktur gumuk yang tidak punya lapisan tanah yang subur, adanya angin yang kencang. Hal ini memberikan ragam flora (vegetasi pantai yang beradaptasi di gumuk pasir tersebut.

Keberadaan gumuk pasir pantai parangtritis menarik untuk dikaji lebih lanjut , mengingat gumuk pasir yang membentuk bentang lahan yang unik dan serupa padang pasir mini . selain itu gumuk pasir pantai parang tritis terutama gumuk pasir pasif mempunyai potensi untuk menjadi lahan pertanian. Hal tersebut merupakan potensi untuk dijadikan agrowisata sekaligus ekowisata yang menarik dan unik. Potensi gumuk pasir tersebut sebaiknya dilindungi untuk melindungi kelestarian sekitar pantai , apalagi gumuk pasir tersebut merupakan fenomena geologi pantai yang proses pembentukannya membutuhkan waktu yang relative lama.

Advertisement

Wilayah selatan DI Yogyakarta merupakan bentangan pantai sepanjang lebih dari 70 km, meliputi wilayah Kabupaten Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Lahan pasir pantai merupakan lahan marginal dan belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut Sudihardjo (2000), berdasarkan kriteria CSR/FAO 1983 kesesuaian aktual lahan pasir Pantai Selatan DIY termasuk kelas tidak sesuai atau sesuai marginal untuk komoditas tanaman pangan dan sayuran. Karena karakteristik lahan pasir pantai adalah kandungan pasir melebihi 95%, struktur tanah kurang baik, konsistensi lepas, kurang kuat menahan air, permeabilitas dan drainase sangat cepat, serta miskin hara. Pemberian bahan organik atau pupuk kandang, dan perbaikan sifat tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah, terutama agregat, yang pada nantinya akan meningkatkan kelembapan tanah. Apalagi kawasannya yang terbuka dengan angin laut yang memiliki kandungan garam dan lembab.

Namun beberapa penelitian telah membuktikan potensi lahan pasir pantai Selatan di Yogyakarta beserta beberapa alternatif perlakuan yang dapat diterapkan untuk mendukung keberhasilan budidaya tanaman di lahan tersebut. Sudah banyak yang membuktikan menanam tumbuhan seperti cabai merah, bawang merah, semangka, tomat dan selada, dan hasilnya pun cukup menjanjikan. Program Pengembangan Areal Tanam (PAT) Kabupaten Bantul, yang bertujuan untuk mengembangkan kawasan pertanian di lahan pasir pantai selatan, disambut antusias oleh petani. Kawasan pertanian tersebut diharapkan dapat mendukung wisata pantai.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah kami lakukan. Salah satu potensi yang dimiliki oleh gumuk pasir di Pantai Parangtritis di bidang pertanian adalah dapat menanam tumbuhan yang berupa jambu mete dan Kelapa banyak pada daerah perbatasan dengan pemukiman sebelah utara, juga beberapa di bagian gumuk yang pasif bekas petak-petak pemukiman. Tanaman yang ditanam untuk melindungi dari pergerakan pasir adalah akasia yang membentang diperbatasan utara bersebelahan dengan sawah masyarakat, sedangkan untuk melindungi daerah pemukiman banyak digunakan gliriside dan jambu mente.

Jambu mente dan kelapa selain berfungsi untuk melindungi dari pergerakan pasir juga berfungsi sebagai tumbuhan yang dapat membantu dan meningkatkan ekonomi masyarakat yang ada disekitar pantai sehingga gumuk pasir atau gundukan pasir yang terdapat disekitar pantai tidak dibiarkan begitu saja.

Selama ini keuntungan gumuk pasir hanya diketahui dapat membantu ekonomi atau dapat meningkatkan pendapatan masyarakat , selain itu ada juga keuntungannya yaitu biaya sewa lahan yang murah, pengolahan dan penyiangan lahan murah, sinar matahari melimpah, dapat digunakan sepanjang tahun karena sistem irigasi dapat diatur, dan hama atau penyakit relatif rendah. Tanaman-tanaman yang dapat dibudidayakan di lahan pasir pantai yaitu padi, jagung, melon, jeruk nipis, rosela, kelengkeng, kelapa sawit, bawang merah, kurma, dan sawo. Sebelum membuka lahan pertanian, harus ditanam dulu tanaman-tanaman wind breaker atau wind barrier agar angin laut yang membawa uap air yang mengandung garam tidak sepenuhya mengenai tanaman budidaya. Sebagai wind breaker hidup atau permanen dapat digunakan cemara laut, akar wangi, dan kleresidae. Dan untuk Wind Breaker sederhanan dapat menggunakan pelepah kelapa. Pertanian di lahan pantai sebaiknya menggunakan sistem polikultur dimana satu petak lahan ditanami beberapa varietas tanaman. Sistem ini baik untuk pertanian lahan pasir karena dapat mengurangi resiko kegagalan dan hasilnya dapat dipanen secara kontinyu.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, ternyata gumuk pasir di Pantai Parangtritis memiliki potensi wisata yang baik, karena dengan adanya gumuk pasir hitam yang unik, tidak hanya potensi wisata, gumuk pasir yang ada di Pantai Parangtritis juga cukup baik untuk digunakan sebagai lahan pertanian dan sebagai pelindung sempa air laut di wilayah Pantai Parangtritis.

Dampak dari hasil pemaanfaatan gumuk pasir di Pantai Parangtritis, kecamatan Kretek, kabupaten Bantul, yaitu dijadikan lahan pertanian misalnya ditanami tumbuhan jambu mente dengan ditanami jambu mente masyarakat disekitar dapat menikmati hasil dari tumbuhan tersebut dengan cara menjual tumbuhan jambu mente atau membuat makanan yang bahan pokoknya terbuat dari jambu mete sehingga masyarakat dapat menikmati hasilnya, tidak hanya jambu mete gumuk-gumuk pasir yang ada di Pantai Parangtritis juga dapat ditanami sayur-sayuran, tetapi sebelumya harus memiliki wind breaker atau wind barrier.

Pemanfaatan kawasan tersebut harus dapat diatur sedemikian rupa, seperti Pantai Parangtritis bagian timur meliputi Pantai Depok dan Pantai Parangkusumo dijadikan obyek wisata pantai saja, dan bagian barat Pantai Parangtritis meliputi Pantai Samas, Pantai Pandansari dan Pantai Kwaru dijadikan sebagai obyek wisata pantai dan pertanian. sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat sekitar Pantai Parangtritis. Tidak hanya itu ekosistem pantaipun akan terjaga oleh sempaan ombak air laut (aberasi).

Gumuk pasir itu adalah kekayaan alam. Hanya saja masyarakat belum bisa menggali secara arif manfaat dari keberadaan gumuk pasir ini. Gumuk pasir merupakan satu dari sekian banyak anugerah bagi masyarakat Indonesia. Sudah seharusnya kita menjaga agar keberadaannya tetap lestari. Bukan gumuk pasir saja melainkan juga setiap titik di lingkungan kita, karena kita hidup di alam. Alam akan memberikan apa yang kita berikan pada alam. Ketika kita melestarikan alam maka alam akan memberikan kehidupan yang baik bagi kita.