Dear diriku di masa depan.

Apa kau merindukanku? Semoga kau dalam keadaan sehat disana.

10 tahun berlalu,seperti apa dirimu sekarang?

Seperti apa diriku ?

Disini aku masih menjadi pelajar yang tak tau ke mana hidupku akan berjalan. Kira-kira sudah jadi apa kau sekarang? Berhasilkah pendidikanmu? Ada banyak sekali hal yang ingin kuketahui tentang dirimu sampai aku bingung harus memulai darimana. Baiklah mungkin aku akan mulai dengan wanita di depanku ini. Berhasilkah kau bahagiakan dia? Saat ini ia sedang tertidur lelap dihadapanku, mengabaikan sejenak dunia yang terus menguras tenaganya.Harusnya disana kau sudah berhasil membelikan semua makanan kesukaanya,membiarkan ia beristirahat dengan tenang dirumahmu atau sekedar membiarkannya menikmati secangkir kopi di balkon rumah kita, maksudku rumahmu atau akan jadi rumahku kelak nantinya.

Advertisement

Harapan terbesarku adalah mengukir senyum diwajahmu, Bu.

Siapa dia?Kulihat disebelahmu duduk seorang pria tampan.Hmm,aku mengenalinya.Apa itu dia?Menyenangkan sekali melihat dia begitu hangat seperti itu.Apa yang telah terjadi?Bagaimana bisa?Setauhuku dia adalah pria dingin yang hatinya tak tersentuh.Saat ini dia sangat senang membuatku menangis.Kau tau?Dia menjadi sangat menyebalkan akhir-akhir ini,aku melihatnya berjalan bersama seorang gadis kemari sore.Aku cemburu.Bisa kau memarahinya?Karena untuk saat ini aku belum punya hak untuk marah.Apa yang harus kulakukan karena cemburuku ini tak berhenti berkobar?Bahkan aku cemburu dengan jaket yang ia kenakan,aku cemburu karena aku tak bisa memeluknya seperti itu,bahkan menyentuhnya aku tak sanggup.Dia selalu berhasil membuatku meneteskan air mata sekaligus tertawa sendiri. Aku gila? Tidak. Aku jatuh cinta. Bagaimana bisa dia ada disana? Kau berhutang banyak penjelasan padaku.

Apa bedanya menjadi gila dan jatuh cinta?

Lihat itu! Siapa yang bermain di ayunan itu? Sekilas mirip denganmu tetapi tatapanya dingin seperti pria disebelahmu. Dia menggemaskan. Lucu sekali dia, boleh aku menculiknya kesini? Kurasa dia akan sama cerewetnya sepertimu,atau mungkin pendiam seperti ayahnya. Ah, tidak jangan sampai dia menjadi "Pria Es" seperti ayahnya karena nanti pasti akan ada wanita yang tersiksa karena diamnya itu,seperti aku tersiksa karena pria itu. Huh, dia benar-benar berhasil membuatku gila, maksudku tergila-gila padanya. Aku harap kau bisa menjaganya dengan baik, jika tidak aku takkan memaafkanmu.

Memaafkan? Kau pasti tau aku payah dalam hal ini. Bagaimana hatimu? Sudahkah kau memaafkan masa lalumu? Ya. Kau tau,"si brengsek itu". Maksudku, Papa. Dia berkhianat dan menyebabkan aku menderita saat ini, sudahkah kau memaafkanya? Jujur aku belum bisa untuk itu, tapi kuharap kau bisa, karena jika kau tak memaafkaan masa lalumu kau akan terus menyakiti orang yang kau cintai saat ini. Kau pantas bahagia, sanggup atau tak sanggup aku tak mau tau kau harus sanggup. Ini perintah mama. Kau tak boleh mengecewakanya. Dan tentang mereka yg dulu aku sebut sahabat aku tak tau harus bagaimana. Aku kembali terluka karena terlalu mencintai. Aku lelah, cinta tak pernah berpihak padaku. Sebenarnya aku enggan membahasnya, entah mengapa kecewaku terlalu besar. Memaafkan atau melupakan? Kau yang lebih dewasa dan aku menyerahkan perkara ini padamu.

Memaafkan menyembuhkan luka dihatimu.

Ada banyak hal lagi yang ingin kutanyakan padamu,tapi bila terus bertanya aku takkan dapat menjalani hidupku,biarlah sisa tanya ini dijawab oleh sang waktu. Kurasa ocehanku terlalu panjang, mengingat impianmu sudah banyak yang terwujud aku ingin kau mengabulkan keinginanku ini. Aku harap kau bukanlah wanita karir yang gila harta dan kedudukan supaya kau bisa mengabulkan ini. Aku ingin agar kau di sana berdoa untukku yang sedang memperjuangkan apa yang digariskan Tuhan untukku. Aku ingin bila kau punya harta, kau harus mengingat kesusahanku saat ini dan membantu orang yang keadaanya seperti aku yang sekarang ini. Aku ingin kau terus menjadi anak yang taat pada orang tua dan taat padaNya. Aku ingin kau bisa menjadi seperti mama, menjadi ibu dan istri yang baik dan mampu tegar dalam situasi apapun. Dan yang terakhir aku ingin kau bisa menerima keadaan apapun yang terjadi disana walaupun keadaanmu disana tidak sebahagia yang aku tulis disini.

Dariku masa lalu yang tak seharusnya diceritakan kembali