[22:35]

Selamat siang, malamku. Sebelum aku tidur, izinkanlah aku memikirkan tentang senyummu. Oh indah sekali, bukan? Ah, manalah dikau tahu jika indahnya dirimu layak disandingkan dengan kekagumanku akan sempurnanya nirwana. Selalu, setiap kali ku katakan itu padamu, engkau hanyalah tersipu. Malu, katamu, lalu pipi bulatmu itu terangkat dan menghadirkan rona-rona merah yang paling kusuka.

Kekasihku, andaikan engkau tahu, bahwa ketika ku tulis sebaris alinea ini hanyalah ketika engkau tengah melintas di kepalaku. Bayanganku memang sangatlah liar, aku hanya memikirkan kebahagiaan di antara engkau dan aku. Meski sudah berkali-kali kau mengatakan aku gila dengan selingan tawa ringan dari bibir manismu, tetap saja tak pernah muncul tanda jera untukku, untuk semakin mencintaimu.

Kekasihku, memang aku sudah gila.

Tawamu, membuatku gila. Tangismu, membuatku gila. Amarahmu, leluconmu, membuatku semakin gila. Apalagi, senyummu. Semakin gila lagi ketika ku tahu tentang dirimu.

Advertisement

Ah, sungguhlah aku manusia yang paling bodoh.

Kegilaanku pada dirimu membuat diriku semakin jatuh dalam lara dan semakin—semakin lagi.

Selamat siang, malamku.

Ya, malamku. Tempatku menjamu mimpi. Mimpi-mimpi yang hadir hanya ketika aku memejamkan mataku. Menikmatinya, menikmatinya, dan menikmatinya. Namun semakin aku menikmatinya, semakin gelisah pula daku. Oh, kekasihku, betapa indahnya engkau hadir dalam mimpiku malam itu. Namun, betapa kejamnya pula engkau memilih untuk sirna ketika aku kembali hidup dalam hidupku.

Oh kekasihku, aku gila. Aku semakin gila.

Kekasihku, kegilaanku pada dirimu semakin membawaku jatuh dalam lara dan semakin—semakin lagi.