Saya tercenang hari itu, ketika duduk di sebuah bangku ruang seminar. Itu kalimat seorang psikolog handal Kota Semarang. Oh? Begitu ya? Lalu saya jadi paham soal kriteria pasangan, soal usia yang terus berjalan, dan kesemuanya itu tentu saja dibungkus dengan harapan terbaik untuk menemukan pasangan hidup paling tepat.

Kenapa paling tepat? Karena menjadi raja dan ratu itu cuma sehari! Kalau kamu tidak sungguh-sungguh soal memilih pasangan, gimana hari-harimu di masa depan dong? Saya percaya, memilih pasangan itu bukan soal gampang. Banyak hal yang harus dilalui, dan kesemuanya itu menunjukkan siapa dan bagaimana kualitas dirimu sendiri.

Begini deh, selalu tekankan ke dalam dirimu sendiri bahwa siapapun pasanganmu kelak, dialah cermin dari dirimu sendiri. Jadi, kalau hari ini kamu belum menyiapkan diri menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik, jangan harap kamu melihat seseorang yang hebat ketika kamu berkaca.

Ya kan? Tidak mungkin kamu bercermin dan bermimpi melihat rambutmu rapi kalau menyisirnya saja kamu enggan. Like this! Jangan bermimpi bersanding dengan pangeran kalau kamu tidak memaksa dirimu sendiri menjadi putrinya. Putri harus berkilau, setuju?

Omong-omong soal bercermin, kamulah yang paling kenal dirimu dan mimpimu sendiri. Sore ini, ketika akan pergi menemui keluarga besar, bagaimana harapanmu terhadap dirimu sendiri? Kamu ingin tampil cantik kan? Ketika memikirkan itu, kamu pasti mulai membayangkan soal rambutmu, pakaianmu, sampai aksesoris yang nangkring di tubuhmu.

Advertisement

Kamu seharusnya sudah punya gambaran yang utuh tentang tubuhmu sendiri, lalu berkaca dan menemui dirimu sesuai dengan bayanganmu itu. Tentu saja, kamu jelas tahu kalau harapan tanpa tindakan nyata itu sia-sia. Harapan yang baik tentu selalu dibarengi dengan usaha yang tepat kan?

Nah, persis! Seperti itu juga berkaca soal jodoh. Kamu harus tahu ingin bertemu dengan sosok seperti apa di masa depan, sama persis seperti ketika kamu berkaca dan menginginkan tampil sesuai harapanmu sendiri. Kalau saya ingin melihat rambut saya rapi, saya harus tahu dong apa yang harus saya lakukan sebelumnya? Menyisirnya dengan baik dan mengusahakan merapikan rambut kan intinya?

Yes! Ketika bermimpi bersanding dengan jodoh yang punya pendidikan tinggi dan wawasan yang luas, konyol rasanya bila hari ini saya membiarkan skripsi terbengkalai dan membuang-buang waktu untuk mengambil program S2. Saya harus berlari secepat saya bisa—mengejar dosen dan wisuda minimal tepat waktu, lalu segera melanjutkan S2. Tidak mungkin kan kita berharap bersanding dengan seseorang yang memiliki pendidikan tinggi, padahal kita sendiri ogah-ogahan merampungkan gelar sarjana?

Omong-omong soal hal itu, kita biasanya menyebut harapan tentang pasangan hidup sebagai kriteria. Right? Kriteria setiap orang berbeda, apalagi menyangkut soal pasangan hidup. Saya menginginkan pasangan hidup yang sabar dan berpendidikan tinggi, tapi yang lain lebih memprioritaskan jodoh yang mapan dan tampan. Oh ya, tidak ada kriteria yang salah.

Mana ada kriteria yang salah? Bicara soal kriteria, tentu saja tidak ada patokan paling tepat soal jodoh terbaik. Takaran jodoh terbaik buat saya mungkin saja berbeda dengan ukuran jodoh terbaik untuk si A. Kita tidak bisa menyebutkan ‘pasangan hidup baik’ saja, karena baik itu terlalu luas, dan di dalam ‘baik’ itu sendiri masih terpampang banyak kriteria spesifik lainnya. Ada kriteria wajah yang rupawan, mapan, berpendidikan tinggi, atau bahkan merk mobil bisa jadi menjadi kriteria seseorang.

Itu soal kriteria. Apa dong kriteriamu? Mari deh kita belajar soal kriteria. Sesuai pegangan yang saya yakini, tidak ada kriteria yang salah. Namun begitu, saya lebih suka membaginya menjadi dua hal, kriteria yang paten dan kriteria non paten. Lucu ya namanya? Kedua kriteria itu berbeda, karena kriteria paten hanya boleh diisi dengan hal-hal yang tidak boleh digoyang karena alasan apapun, sedangkan kriteria non paten boleh dimasuki dengan kriteria-kriteria lain yang masih bisa dilanggar.

Begini. Saya memimpikan punya pasangan hidup yang sabar dan berpendidikan tinggi. Buat saya, itu harus, wajib, kudu. Bagaimana untuk kriteria non paten dong? Oke deh, saya sedikit acuh kok untuk merk mobil, derajat ketampanan, sampai jenis pekerjaan. Yang penting buat saya adalah dia berkarakter sabar dan berpendidikan tinggi.

Paham kan soal kriteria? Ada hal-hal yang memang harus diprioritaskan, dan yang lain boleh sedikit diabaikan. Mengenai prioritas, jangan sampai menurunkan prioritas walau sudah dikejar umur! Nah, ini masalah klasik tapi selalu hot untuk dibahas hingga hari ini kan?

Ketika semua orang sudah mulai satu suara bertanya soal pasangan hidup dan umur kita sudah kejar tayang, jangan sekali-sekali menurunkan kriteria paten kalian ya! Karena saya percaya, kriteria paten selalu bicara tentang prioritas. Kalau prioritas saja sudah dilanggar, jangan-jangan bakal ada penyesalan nantinya. Kalimat-kalimat ‘Duh, salah pilih pasangan deh’ sudah wajib dihindari.

Suatu saat nanti, ketika bertemu teman lama yang kini sukses dan naik turun mobil seharga setengah miliar, saya tidak akan mengomel di belakang karena pasangan hanya bisa membeli mobil yang harganya tak sampai setengah dari harga mobilnya.

Namun tentu saja saya merasa dunia kiamat ketika menyadari jodoh yang sudah saya pilih sendiri ternyata punya kecerdasan emosi yang buruk, mudah meledak-ledak ketika ada masalah kecil saja. Dan muak setengah mati ketika pasangan tidak sanggup mengatasi masalah hidup hanya karena bekal pendidikannya kurang. Begitu. Kriteria-kriteria utama akan menjadi sorotan paling tajam ketika seseorang memulai kehidupannya.

Seperti yang sudah-sudah, kalau saya saja sudah abai sejak awal soal merk mobil, sulit rasanya mengomel hari ini ketika melirik ke arah mobil lain. Itulah bedanya paten dan non paten. Label itu benar kan? Paten selalu kaku dan sulit tergeser. Tapi tidak adil rasanya bila kita tak punya selingan kriteria lain yang boleh dilanggar. So, isi saja daftar kriteria non patenmu dengan hal-hal yang tidak terlalu penting, bukan menjadi sorotan utamamu, dan mudah digeser. Fleksibel kan?

Akhirnya, jodoh bukan cuma soal mencari teman hidup. Karena teman cuma menemani, tapi  pasangan hidup mendampingi dari awal membuka hari hingga kita melepas lelah di tempat tidur. Salah memilih jurusan kuliah saja rasanya tamat, apalagi hidup bersama jodoh yang jelas-jelas tidak sesuai dengan kriteria paten kita. Ingat ya, hanya yang paten saja! Boleh kok mengabaikan hal-hal yang tidak paten, asal kita tetap cermat terhadap hal-hal paling utama yang menjadi prioritas kita! Jangan mengabaikan prioritas, sekalipun sudah dikejar usia! Karena apa? Sepasang jodoh akan bertumbuh dan menua bersama, menghabiskan masa-masa dewasa awal hingga lansia bersama!