Selain untuk liburan, saat SD aku dan kakakku memang terbiasa membawa lapor ke Jogja untuk diperlihatkan ke kakekku. Itu adalah salah satu cara menyombongkan diriku kepada kakek, heheee. Biasanya aku berlari kecil menghampiri kakek sambil membawa buku bersampul merah hati itu. Maklum saja, aku termasuk siswa pintar saat SD, jadi aku bisa menyombongkannya pada kakek.

Namun entah kenapa saat kelas 3 nilaiku jelek. Biasanya aku mendapat rengking 2 atau 3 namun saat itu aku mendapat rengking 10, hahaha. Aku langsung berfikir keras bagaimana caranya agar kakek tidak tau hal ini. Namun rutinitas keluargaku saat liburan sekolah untuk berlibur dan bertemu kakek di Jogja tidak bisa ku cegah, akhirnya aku memutuskan untuk tidak membawa laporku ke Jogja.

Benar saja, sesampainya di Jogja kakek langsung menanyakan laporku. "Mana lapornya? Aku jawab saja lupa bawa kek. Lalu kakek pun tersenyum sambil mengeluarkan buku bersampul merah milikku dari belakang tubuhnya. "Ini punya siapa?" ujarnya. Akupun tersenyum sambil kebingungan, pasalnya lapor itu sengaja tidak aku masukkan ke tasku saat packing barang kemarin. Lalu kenapa ada di tangan kakek sekarang. Dengan fikiran yang polos khas anak kelas 3 yang bodoh, aku berprasangka kalau laporku memiliki kaki dan berjalan sendiri menemui kakek di Jogja untuk mempermalukanku, hiks. Walupun kakek sudah tau hasil laporku dan juga mengetahui aku berbuhong padanya prihal lapor tadi, dia tidak memarahiku. Lalu dia menjelaskan kalau ibuku yang memberikan lapor itu kepadanya.

Mbah kakakungku adalah kakek yang baik kepada cucu-cucunya dan semua orang. Mbah Brahim Salman dulu seorang Rukun Warga di Desanya. Semua warga kenal dengannya, dan aku menjadi cucu yang terkenal juga di desa kakekku. hehehe. Kakekku orangnya dermawan dan humble, rumah kakek sering dijadikan basecamp para warga untuk berkumpul membicarakan kegiatan desa atau sekedar berbincang ngalor ngidul. Dari profesinya sebagai RW dan sifatnya itulah ia memiliki banyak teman. Saking banyaknya teman, hampir setiap saat ia menerima undangan pernikahan dari warga desanya atau desa tetangga yang kenal dengannya.

Namun kata ibuku, dulu kakek merupakan orang tidak berada, sampai akhirnya membeli kado untuk acara pernikahan saja tidak mampu. Karena kakek memaksa untuk datang keacara itu, nenek lah yang kena "getahnya". Saat itu, nenek disuru membungkus dua sabun mandi untuk hadiah pernikahan, hahahahaha. Jadilah kakek membawa bungkusan kado berisikan sabun ke pernikahan anak rekannya.

Advertisement

Oia selain sebagai RW, ia juga berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Setiap aku kerumahnya, aku selalu melihat serangkaian peralatan reparasi jam berukuran kecil tertata tidak rapih di etalase kaca. Setiap berlibur ke Jogja, selain untuk memamerkan lapor aku juga sering membawa jam tanganku yang rusak untuk diperbaiki kakek. Aku ingat saat itu jamku rusak karena talinya putus. Aku minta kakekku untuk memasangkan tali sederhana agar bisa digunakan lagi. Namun kakek malah memasangkan tali dengan per yang dapat membesar atau mengecil tanpa lubang pengait seperti tali jam pada umumnya. Namun tali itu malah lebih sering menjepit kulit tanganku.

Kini kakek sudah tiada, aku tidak bisa memintanya untuk membetulkan jam tanganku yang rusak atau sekedar memamerkan prestasiku di sekolah lagi.