Saat ini tidak sedikit orang yang menganggap bahwa hidup sendiri tanpa pasangan atau yang dikenal istilah jomblo itu menyedihkan, patut untuk dikasihani, tidak laku, dsb. Status lajang atau jomblo kerap menjadi perbincangan. Apalagi kalau yang menyandang status lajang atau jomblo tersebut dianggap sudah cukup dewasa untuk menikah.

Sebenarnya status lajang atau jomblo itu sendiri bukanlah hal yang memalukan, menyedihkan, dsb. Mungkin sebagian orang memang merasa demikian dengan status tersebut, namun banyak pula orang yang justru merasa nyaman dengan status lajang atau jomblo. Sebelum memasuki tahun 2013, menyandang status lajang atau jomblo dianggap biasa, apalagi kalau orang yang menyandang status itu sukses karirnya, mapan, serta berparas cantik atau tampan. Mereka justeru dianggap hebat dan citranya baik karena lebih fokus pada kesuksesan daripada cinta yang terkadang menyesatkan. Namun setelah memasuki tahun 2013, orang-orang seperti ini yang menyandang status lajang justeru sering kali diejek. Banyak dari kerabat serta keluarganya menanyakan alasan mereka mengapa dengan keadaannya yang nyaris sempurna justeru masih menyandang status lajang atu jomblo.

"Udah ganteng, mapan, kok masih jomblo? Inget umur Bro! Si A aja yang pas-pasan aja udah laku."

"Padahal cantik, tajir, karirnya oke, kok masih belum nikah? Mesti kebanyakan milih nih"

"Doi cantik banget ya, mobilnya keren, dosen pula, tapi kok belum nikah ya?"

Advertisement

Kalimat-kalimat tersebut tentu tidak asing lagi didengar. Banyak hal yang membuat citra lajang atau jomblo di tahun 2013 sampai saat ini menjadi begitu menyedihkan, di antaranya adalah dengan beredarnya meme, tayangan komedi yang membahas tentang kesengsaraan seorang lajang atau jomblo, dll. Hal-hal tersebut sah-sah saja, toh semua itu hanya hiburan yang memang sangat menghibur. Hanya tinggal bagaimana cara masyarakat menanggapinya, karena sebagian masyarakat yang baper (bawa perasaan) biasanya ikut terhanyut, terbawa suasana, dan mendramatisir status lajang atau jomblo.

Bagi mereka para lajang atau jomblo usia nikah yang dulunya nyaman-nyaman saja dengan statusnya, sekarang mulai gelisah dengan pertanyaan kapan nikah, cibiran orang lain tentang statusnya, dsb. Maka dari itu, bagi kamu yang sudah memiliki pasangan bahkan sudah menikah, STOP NYINYIRIN JOMBLO! Boleh saja menanyakan kapan menikah, namun jangan menerornya. Bagi sebagian besar jomblo yang sudah cukup umur untuk menikah, pertanyaan kapan nikah itu ibarat teror yang menakutkan. Ada sebagian dari mereka (para jomblo) yang menjadi malas menghadiri reuni, kumpul keluarga, dan perkumpulan lainnya karena pertanyaan kapan nikah itu. Terkadang para lajang atau jomblo usia nikah tersebut sebenarnya sudah ingin menikah, hanya saja mereka diharuskan untuk tetap melajang atau menjomblo dikarenakan beberapa hal. Alasan mereka masih menjomblo mungkin karena masih trauma akan masa lalu, belum menemukan pasangan yang dirasa klik atau cocok, belum mapan secara finansial, masih ingin fokus meniti karir, ingin fokus mengenyam pendidikan, belum ada yang melamar (bagi perempuan), selalu ditolak (bagi laki-laki), tidak ingin pacaran dan mau bertaaruf saja, dll. Semua itu yang jelas adalah takdir. Pernikahan sama halnya dengan kematian, hal itu merupakan takdir Tuhan yang masih menjadi misteri sebelum seseorang itu mengalaminya. Makanya guys, jangan nyinyirin jomblo, karena nyinyirin jomblo sama dengan kalian nyinyirin takdir Tuhan.

Suatu hari ada seorang Ibu bertanya, "Jeng kapan anaknya ulang tahun?" Ibu tersebut menanyakan hal itu pada perempuan yang belum punya anak. Inilah gambaran orang yang menanyakan kapan nikah pada seseorang berstatus lajang atau jomblo. Ngerti kan maksudnya. Namanya juga lajang, ya jelas belum punya kekasih atau calon pasangan, punya saja belum, kok sudah ditanya kapan. Otomatis pertanyaan itu membuat mereka bingung. Terkadang orang-orang berstatus lajang atau jomblo sebenarnya sudah memiliki rencana kapan akan menikah. Mereka bingung dengan pertanyaan kapan nikah karena belum memiliki kekasih atau calon pasangan.

Menyuruh orang berstatus lajang atau jomblo untuk menikah itu ibarat pemerintah yang menggalakkan program wajib jalan kaki tanpa menyediakan jalur pedestrian. Artinya itu sama saja dengan memunculkan masalah tanpa memberikan solusi. Maka dari itu, bantu keluarga atau teman kalian dengan mencarikannya pasangan atau mengenalkannya pada seseorang sebelum menyuruhnya untuk menikah. Toh kalau memang sudah waktunya mereka akan menikah tanpa disuruh.

Pria usia nikah dengan status lajang atau jomblo biasanya lebih santai dengan pertanyaan kapan nikah, karena dalam proses menuju pernikahan prialah yang mendahului atau melamar. Oleh karena itu pria terutama yang sudah memiliki pekerjaan tetap biasanya lebih tenang menyikapi status lajang dan cibiran orang lain tentang statusnya. Bagi mereka kalau memang sudah saatnya dan menemukan yang sekiranya cocok, mereka akan melamarnya. Ibarat dalam permainan sepak bola, pria berperan sebagai penyerang yang bisa menyerang atau melamar kapan saja mereka merasa siap.

"Gue sih cowok, jadi santai, tinggal nyari ceweknya aja yang mau."

Yana, 24

Berbeda dengan pria, wanita yang sudah cukup dewasa untuk menikah biasanya sedikit cemas dengan status lajang dan pertanyaan kapan menikah. Apalagi mereka yang usianya sudah menginjak 26, 27, 29, atau lebih dari itu. Ibarat dalam permainan sepak bola, wanita berperan sebagai penjaga gawang yang hanya menunggu bola, namun dalam hal penantian jodoh tentu wanita tetap berusaha dengan caranya masing-masing. Memang saat ini perempuan mendahului dalam arti mengajak berkomitmen, mengajak laki-laki untuk menjalin hubungan, dan mengajak menikah duluan bukanlah hal yang dianggap aneh atau memalukan, tetapi budaya ketimuran yang masih kental membuat sebagian besar wanita Indonesia merasa malu apabila melakukannya. Makanya guys jangan deh nyinyirin perempuan lajang atau jomblo, lebih baik mendoakan.

"Saya sih mau aja nikah, semua udah saya punya, S2 hampir kelar, rumah ada, mobil ada, kerjaan ada, tinggal suami yang belum punya. Yah tinggal usaha sambil menunggu ada yang ngelamar aja deh, doain ya."

(sensor) 25+++++

Intinya adalah menyandang status lajang itu biasa saja, sama halnya dengan manusia yang belum dicabut nyawanya. Tuhan belum mencabut nyawa seseorang ataupun belum mempertemukan seseorang dengan jodonhya itu karena memang belum saatnya. Buat kalian yang bersatatus lajang atau jomblo mapan, dewasa, nan bersahaja, berterima kasihlah pada Tuhan karena Ia masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, menkmati apa yang tidak bisa lagi dinikmati apabila sudah menikah, dsb. Bahagia tidaknya seseorang bukan tergantung statusnya, tetapi tergantung bagaimana caranya menyikapi hidup.