Ada yang membuatku sulit tidur tepat waktu. Ada yang menyebabkanku menganggap bahwa makan bukanlah urusan yang penting. Aku hanya ingin menatap langit-langit kamar lebih lama. Melukis dengan gerakan mata apapun tentang kita.

Aku tersenyum sendiri ketika bayangan matamu muncul sekelebat. Teramat indah. Bulu mata lentik penuh ketulusan. Sayangnya, aku bisa saja tiba-tiba menangis. Dadaku sesak, membuat ngilu seluruh tubuhku. Jika yang terbesit adalah kekecewaan yang pernah kau ciptakan untukku. Kekecewaan yang dibentuk oleh seseoraang yang kupercaya tidak mungkin sampai hati melakukannya. Ah! Bagaimanapun aku tidak bisa mencederai sosokmu dalam benakku. Bagiku, kamu selalu terbaik.

Apapun itu, aku percaya bahwa hidup adalah lorong pergantian. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Berkali-kali, hingga akhirnya akan ada seseorang yang menetap. Entahlah, aku tidak tau apakah kamu yang akan menetap atau bukan. Tapi sejauh ini, kamu yang kubutuhkan untuk tetap di sini.

Adalah ketulusan dan keikhlasan yang ingin terus kulatih dalam hidupku. Untuk menghadapi segala kemungkinan mengenai kamu. Karena kehilanganmu, aku yakin akan begitu menyakitkan. Karena kepergianmu, aku yakin akan begitu merapuhkan. Juga ketidakpedulianmu, aku sangat yakin, akan begitu mengombang-ambingkan.

Kumohon, jika suatu hari nanti aku tidak berdaya, jangan kau tertawakan. Sesungguhnya ketidakberdayaanku bersebab tumpukan rindu yang tak pernah kau jamu. Jika suatu hari nanti aku menangis hingga lemah, jangan kau syukurkan. Sejatinya kelemahanku adalah balas dendam atas kepura-puraanku menjadi tangguh ketika kau lukai dulu.

Advertisement

Hingga langit kamarku berubah menjadi gelap. Beralih menjadi kita yang samar-samar dalam mimpi.

Kau, tetap jadilah yang paling baik sampai kapanpun. Jadilah ketidaksempurnaan yang menyempurnakan hidup orang-orang di sekitarmu. Aku, entahlah sedang di mana saat itu.