"Hay kamu, mungkin kini kamu sudah bisa akrab dengan keluarga wanita yang sekarang denganmu. Dan mungkin keluargamu kini sudah akrab pula dengan wanita itu atau bahkan mama sudah masak bersama dengan wanitamu."

Setahun sudah kita tak lagi bertukar kabar atau bahkan saling menyapa. Dan aku rasa kini kau sudah bisa bercanda tawa dengan keluarga wanitamu. ya.. aku kenal betul dengan dirimu, kamu adalah pria yang dengan mudah akrab dengan orang lain. Tidak sulit buat kamu untuk akrab dengan keluarga wanita itu, karena ingatkah kamu dulu ketika pertama kali aku kenalkan dengan keluargaku?. Saat pulang sekolah dulu dengan suasana hujan deras aku membawamu untuk berkenalan dengan keluargaku yang hampir semua ada. Saat itu kau terlihat gugup dan sempat takut, tapi semua berjalan baik sampai akhirnya keluargaku percaya padamu.

Dan saat pertama kali kamu meminta ijin kepada keluargaku untuk mengajakku berkenalan dengan keluargamu, saat itu menjadi saat paling mendebarkan dalam hidupku di umur yang terbilang masih remaja. Hari itu pertama kalinya aku datang kerumahmu dan berkenalan dengan keluarga besarmu. Betapa sangat takut dan bahagaianya aku, kamu memperkenalkanku dengan semua anggota keluarga besarmu, dari mulai nenek, pakde, bukde sampai kepada sepupumu.

Awalnya aku merasa gugup dan takut kalau kehadiranku tidak menyenangkan, tapi sebisa mungkin aku coba untuk bisa memberikan yang terbaik dan menjadi diriku apa adanya saja. Kedua orang tuamu sangat welcome dengan kehadiranku disana, mereka menanyakan aku tentang keluarga dan kuliahku. Untuk pertemuan selanjutnya aku sudah tak merasa canggu lagi dengan orang tuamu dan adikmu. Bahkan saat hari – hari besar, aku dan mamah (aku memanggil sebutan yang sama denganmu ketika memanggil ibumu) memasak bersama untuk selanjutnya di hidangkan dan disantap bersama.

Hubungan kita yang bertahun – tahun membuat aku dan kamu dekat dengan keluarga. Tidak dapat di pungkirin, kamu pun selalu terlibat dalam setiap acara keluargaku. Dan jika ada masalah dengan kita (saat masih bersama) tak jarang kaluarga kita menanyakannya. Dan saat terakhir sebelum aku temui kebenaran bahwa ada wanita lain disampingmu saat bersamaku. Aku masih melewatkan malam bersama mamah untuk masak persiapan acara dikantor. Dan saat aku menyadari bahwa itu adalah saat terakhir kalinya aku memasak dengan mamah, hatiku sakit dan tak dapat menahan lagi airmata ini.

Advertisement

Sekarang saat semua sudah terlepas, saat aku sudah bisa berjalan dengan baik setelah kebenaran itu terungkap. Keluargamu masih saja menghubunginku, hanya bertukar kabar lewat pesan singkat saja masih dilakukan mamah dan adikmu. Jujur awalnya aku tak sanggup kalau harus tetap berhubungan dengan keluargamu, tapi aku tidak bisa. Karena aku mengenal keluargamu dengan baik dan aku tak punya masalah dengan keluargamu. Jadi setiap kali keluargamu menghubungiku selalu aku balas seperti biasa ketika dulu kita bersama.

Dari mulai menanyakan kabarku sampai menanyakan kabar keluargaku, masih dengan baik dilakukan keluargamu. Yang membuatku sakit adalah "Ketika kamu memutuskan tali silahturahmi denganku dan keluargaku, maka saat itu malah dengan baik keluargamu dengan aku menjalin silahturahmi walau hanya dalam pesan singkat."

Keluargamu mungkin sudah bisa menerima wanita itu dengan baik seperti mereka menerimaku dengan baik. Sering aku menangis ketika harus bercanda lewat pesan singkat dengan adikmu. Yang sebenarnya bisa aku lakukan dulu tanpa harus dengan pesan singkat. Atau ketika mamah yang meneleponku dengan suara yang khas dan bilang "Mamah masak sayur soup, tapi ngga ada yang makan. Kamu uda makan?"

yaa… itulah yang bikin aku sedih kadang dan rasanya tak ingin lagi untuk melanjutkan silahturahmi ini. Cuman bukankah kita sebagai manusia harus menjaga silahturahmi dengan baik. Dan kali ini rasanya aku sudah tak lagi bisa nahan rasa rindu ini. Aku rindu dengan kehangatan keluargamu yang aku rasa bertahun-tahun bersama, jadi ijinkan aku untuk tetap jaga silahturahmi ini.

Untuk Mamah dan Papah, terima kasih kalian masih berkabar denganku sampai hari ini. Meski kita tak lagi bertatapmuka atau aku berkunjung ke rumah kaliaan. Tapi aku merasa hangatnya kalian masih sama, seperti saat aku masih sering bertemu kalian.

Semoga dengan saling berkabarnya kita, tidak membuatku sulit melangkah. Doakan aku tetap bisa selalu menjaga hati dan bersilahturahmi sebagai anak yang pernah dekat dengan kalian. Meski bukan sebagai calon menantu kalian, tapi silahturahmi ini tetap terjalin.

Untuk mamah, semoga wanita yang kini bersama dengan anakmu bisa selalu menjadi teman ngombrol dan teman masak. Jangan lagi bandingkan wanita itu denganku mah, karena aku dan dia jelas berbeda. Terima kasih untuk setiap nasehat selama aku dengan sangat mudah untuk datang ke rumah. Aku akan ingat selalu setiap resep masakan yang mamah ajarkan kepadaku.

"Untuk Keluarga Dia yang masih berkabar denganku, semoga tali silahturahmi ini tetap terjalin. Terima Kasih karena sudah menerimaku dengan hangat."

"Mungkin Kamu memilih untuk tidak lagi menjalin silahturahmi dengan keluargaku, karena kamu menjaga wanita mu. Tapi kinipun aku berbijaksana ketika harus tetap menjaga silahturahmi dengan keluargamu, tapi juga tetap menjalin dengan hangat hubungan ku dengan keluarga lelaki ku kelak."