“Isi perpres untuk menguatkan pendidikan karakter. Yang mengakomodasikan beberapa kegiatan yang sekarang sudah ada di lapangan. Jadi sama sekali tidak untuk mematikan kegiatan-kegiatan yang ada.” Ungkap Sekjen Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Didik Sunardi (Kompas.com).


Full Day School mencanangkan adanya penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan-kegiatan di sekolah.  Menurut pemerintah bahwa Full Day School adalah solusi untuk menguatkan karakter dengan melangsungkannya di sekolah serta dikembangkan melalui pengajaran maupun pelatihan di sekolah. Oleh karena itu, Full Day School sangat diperlukan.

Presiden Joko Widodo menyatakan perpres Full Day School tidak diharuskan untuk dilaksanakan oleh setiap sekolah. Mengingat karena tidak semua sekolah memiliki sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan Full Day School tersebut.

Namun masalah tidak hanya terlepas dari siap atau tidak siapnya sekolah melaksanakan Full Day School. Disisi lain pendidikan juga berjalan di lingkungan masyarakat yang membantu penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik. Inilah menjadi sebab masalah Full Day School menjadi panjang dan masih muncul penolakan-penolakan dikalangan masyarakat dan peserta didik itu sendiri.

Di kalangan warga nahdihyin menolak Full Day School dengan alasan akan ada dikesampingkannya pendidikan Sekolah Keagamaan (Madrasah Diniyah). Yang selama ini ikut dalam memperkuat pendidikan karakter di Indonesia. Selain itu Full Day School juga terlalu memforsirkan anak untuk belajar seharian di sekolah.

Advertisement

Tarik undur Full Day School perlu ditangani dengan bijak dan menjaga kondisifnya situasi pembelajaran baik di instansi sekolah maupun Madrasah Diniyah. Full Day School tidak dapat dilaksanakan baik itu bagi sekolah yang sudah siap maupun yang tidak siap. Maksudnya adalah tidak bisa dilaksanakan baik itu sebagian sekolah yang melaksanakan maupun semua sekolah yang ada di Indonesia jika dilihat dari sudut pandang Madrasah Diniyah dan pendidikan lain yang sedang berjalan di sekolah. Madrasah Diniyah akan terganggu aktivitas belajarnya karena ada sekolah yang melaksanakan Full Day School.

 

Dapat dimisalkan sekolah A melaksanakan Full Day School dan Sekolah B tidak melaksanakan Full Day Scholl. Sekolah A dan Sekolah B sama-sama memilki peserta didik dari kalangan pesantren. Jadi peserta didik yang sekolah di sekolah A yang melaksanakan Full Day School secara otomatis tidak dapat mengikuti pendidikan di Madrasah Diniyah dengan baik.


Oleh karena itu, Full Day School lebih baik tidak di laksanakan karena ini akan mengganggu pendidikan peserta didik di lingkungan pendidikan lainnya baik itu di Madrasah Diniyah maupun di tempat pendidikan lainnya. Madrasah Diniyah sangat mendukung adanya pendidikan karakter terutama karakter yang menguatkan kuatnya bangsa Indonesia. Seperti toleransi, pengabdian ke masyarakat, serta penguatan dalam karakter keagamaan. Selain itu pendidikan yang berjalan dimasyarakat dan keluarga juga sangat diperlukan oleh peserta didik agar anak dapat dipantau dengan baik oleh kedua orangtuanya.

Menurut Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan di Indonesia dengan teori tripusat pendidikan yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiga pusat pendidikan ini harus berjalan dengan baik dan maksimal dan juga berkesinambungan jika ingin memperkuat pendidikan karakter. Karena pendidikan karakter tidak hanya didapat dari dalam sekolah saja tapi diperlukan dari semua tempat pendidikan.

Pemerintah tentu tidak bisa bersikeras memaksakan konsep Full Day School untuk dilaksanakan. Terlebih Full Day School adalah konsep baru yang belum diterima oleh sebagian besar masyarat. Saat-saat ini juga aksi penolakan Full Day School sudah merembet ke daerah-daerah.