Sungguh perasaan yang membuncah ini sangatlah menggangu. Cinta yang belum siap mendapatkan tempat yang mulia telah memenuhi pikiranku. Rasa sakit atas sebuah pengharapan semu telah menghantamku. Kuatkanlah diri, bersabarlah hati, tak perlu merisaukannya, karena dia akan datang tepat pada waktunya. Karena Tuhan penulis skenario terbaik dalam hidupmu, keromantisan-Nya akan segera membuatmu terpesona.

Tak adakah jawaban yang lebih mudah untuk aku terima?

Berulang kali aku bertanya, berulang kali aku mencari tau, bagaimana ini? harus bagaimanakah aku? Semua ini meracuni pikiranku, jeritan ini hanya memanggil namanya dan mata ini hanya ingin selalu menatapnya. Saat aku jauh darinya aku merasa risau dan selalu ingin tau bagaimanakah kabarnya? Aku tau ini tak baik, aku tau ini tak seharusnya terus ku jadikan sebuah kerisauan. Tapi adakah jawaban yang lebih mudah untuk aku terima? Adakah yang menjawab segala tanyaku tentang perasaan ini?. Sungguh, aku tak menerima jawaban itu, aku merasa ini tak adil dan ini memberatkan hatiku. Tapi ternyata ini lah jawaban dari segala jawaban. Aku terlalu terperdaya atas perasaan ini dan aku telah menutup pandanganku dan lupa pada Yang Menciptakan Cinta. Sadarlah wahai diri, tak ada yang lebih layak bagi dua orang yang saling mencintai kecuali pernikahan. Terimalah ketentuan itu!.

Sejujurnya, aku tak ingin terjerumus, sekaligus kehilangan

Jatuh cinta, perasaan itu sesungguhnya adalah fitrah. Kita dapat mengatakan bahwa setiap orang itu pastilah jatuh cinta. Perasaan yang sangat menggebu, sampai membuatku bingung untuk mengelola perasaan cinta ini menjadi cinta yang sederhana. Sejujurnya, aku tak ingin terjerumus ke dalam lubang hitam yang terlihat penuh dengan sejuta keindahan di dalamnya. Itu hanyalah fatamorgana, setelah kau memasukinya sulit untukmu mencari penerang untuk keluar dari dalamnya.

Advertisement

Kuatlah wahai diri, tetaplah dalam garis yang telah kau buat, jangan sesekali kau mencoba melewati pembatas itu, sia-sialah sudah usahamu kelak. Namun disisi lain aku juga tak ingin kehilangannya, aku takut tak dapat memiliknya, aku merasa khawatir penantianku akan sia-sia, seolah aku tak pernah percaya akan takdir indah yang telah Tuhan siapkan untuku. Bangunlah, jangan buang waktu, masih banyak orang yang jauh lebih penting untuk kau fikirkan kebahagiaannya, yaitu keluargamu.

Mencintai bukan perkara mudah

Akan ku kutip sebuah kalimat dari sebuah buku yang ku baca, kalimat yang akan selalu aku ingat.

Mencintai itu, bukan Cuma rasa suka atau ketertarikan. Bukan pula hanya sebuah kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan yang besar. Ketika diri ini memutuskan untuk mencintai seseorang dengan kata lain diri ini telah memutuskannya untuk secara sungguh-sungguh memperhatikan, menjaga, merawat dan menumbuhkan orang tersebut.”

Mungkin dari kutipan itu kalian telah mengerti bahwa mencintai bukan perkara yang mudah. Sekarang tanyakanlah pada diri kita masing-masing. Siapkah? Sudah mampukah? Jika belum, lebih baik persiapkanlah dulu, masih ada waktu bukan untuk itu?. Untuk diriku, aku rasa kau belum siap untuk itu, ku mohon jangan terburu-buru, kuatlah untuk menahan perasaan itu, sibukkanlah dirimu dengan segala kegiatan yang membuatmu akan siap untuk bersungguh-sungguh mencintai seseorang yang akan menjadi takdirmu kelak. Indahkanlah hidupmu untuk dirimu dan orang yang nyata tulus menyayangimu.

Pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan

Kita pernah berjalan beriringan. Kita pernah merajut impian bersamaan. Dua bola mata ini pernah beradu tatap dan menimbulkan degupan yang seirama. Kau bagiku seperti hujan yang turun tanpa kompromi, seperti gerimis yang turun tanpa suara. Kau masuk tanpa mengetuk. Tak sadarkah kau telah membuatku tak berdaya? Aku tak dapat melakukan apa-apa selain menunggu dirimu melakukan sesuatu. Karena kepastian haruslah segera. Aku sadar bahwa kau tak mampu memisahkan cinta dan keragu-raguan.

Namun maafkanlah aku, aku tak dapat berbuat banyak untuk meyakinkanmu. Hanya satu pertanyaanku, akankah kau akan pergi tanpa permisi?. Jika jarak memanglah baik, jika keterpisahan memanglah pasti. Aku mohon ucapkanlah sepatah dua patah kata untuk menutup kebersamaan kita. Setelah itu sibukku dan sibukmu mungkin akan membantu menghapus jejak yang telah tercipta. Karena jika takdirku adalah kamu, sejauh apapun kamu berlari menghindariku, kamu akan tetap berlari kearahku.

Dan adakah lautan sesal yang membuncah disana?

Tanyakan pada dirimu, adakah lautan sesal yang membuncah dalam hati serta fikiranmu?. Apakah kau menyesali pertemuan ini? Apakah kau menyesali kedekatan yang pernah terjadi? Apakah kau menyesal telah menganalku di muka bumi ini? Apakah kau menyesalinya?

Mungkin di akhir kisah ini, aku telah meninggalkan cerita yang pilu. Mungkin akan ada impian yang redup di sana atau harapan yang tiba-tiba pupus. Namun cinta adalah perlawanan. Dan anggaplah bahwa surga itu ada dibawah naungan pedang. Maka perjuangan dan pengorabanan adalah salah satu keniscayaan untuk kita menggapai jannah. Semoga takdir masih berpihak pada kita. Datanglah jika kau telah siap dan masih mau membuka lembarannya. Atau mungkin kau akan tetap menutupnya rapat? Itu urusanmu. Mari, akan aku tunjukkan dimana jalan kita akan memulai langkah kaki yang tak lagi seirama. Dan kutetap akan mendoakanmu selalu bahagia.