Pernahkah ibumu bertanya terus menerus tentang hari-harimu. Dimana ia seolah begitu kepo menanyaimu tanpa bosan. Bertanya-tanya ini itu, ia pun tak merasa lelah bertanya. Walau sering kali justru kita ogah-ogahan menjawabnya. Aku rasa setiap dari kita sering mengalaminya. Kita sering ditanya ibu kita tentang kehidupan kita. Begitulah seorang ibu, sosok yang melahirkan kita itu selalu ingin mengetahui apa yang tengah dialami oleh anaknya.

“Sayang, hari ini di sekolah bagaimana?”

“Sayang, apakah menyenangkan hari ini di sekolahan?”

Mungkin kalimat-kalimat itu sering terdengar kala kita baru saja pulang sekolah. Ibu kita dengan antusias menanyakan hal itu pada kita. Ah namun kadang acap kali kita mengacuhkannya, bahkan kita justru memilih bergegas tidur mengunci kamar karena merasa lelah telah seharian di sekolah. Atau mengacuhkannya sambil rebahan di depan televisi, tak menjawab dengan seksama pertanyaan ibu kita.

“Ya biasa saja kok Ma, seperti biasanya.” Itulah jawaban kita.

Kita pun tak merasa bersalah dengan beliau. Hal itu karena Ibu kita tak memperlihatkan raut muka sedih, atau gestur tubuh yang menunjukan dia kecewa pada kita. Ibu kita justru asyik menyiapkan makan siang buat kita.

Advertisement

Saat kita telah kuliah, ibu kita pun tak berhenti bertanya-tanya. Justru semakin terasa sering ia menanyai hal-hal yang sebelumnya tak pernah ditanyakan. Entah itu tentang tugas-tugas, sahabat atau tentang bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa. Kita pun masih menjawabnya dengan nada datar. Saat tiba waktunya kita terlihat bahagia tersenyum-senyum sendiri sambil memegang hp yang kita punya.

Entah karena kita sedang bercanda dengan seorang sahabat, digombalin oleh gebetan baru atau sedang chating dengan seorang yang sangat kita kagumi. Sang ibu pun penasaran, dia pun bertanya-tanya mengapa anaknya sebahagia itu. Bukannya menjawab, eh kita malah semakin asyik memainkan jari-jari kita di layar hp. Padahal sang ibu, ingin sekali mengetahui tentang apa sih yang membuat anak tercintanya itu tersenyum seperti itu.

Waktu berikutnya saat kita terlihat murung dikamar atau wajah kita terlihat merenung bersedih seperti merasakan beban dan masalah hidup yang berat. Ibu kita pun tak lelah bertanya-tanya kepada kita.

“Nak, kenapa engkau murung? Apakah sedang ada masalah? Adakah yang bisa ibu dengar?”.

Sebagian dari kita mungkin akan bercerita kepada sang ibu. Ya, saat kita merasa mengalami kepahitan hidup, kita baru mendekat kepadanya. Berharap sang ibu bisa menolong kita dengan semua yang dia miliki, bisa menolong kita dengan segala pengalamannya. Sang ibu pun dengan senang hati mendengarnya.

Sebagian dari kita yang lain alih-alih mau menjawab dengan panjang lebar, justru kita merasa butuh kesendirian. Kita seolah merasa tak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk ibu kita sendiri. Mungkin saat itu ibu kita menjadi orang yang paling khawatir di dunia ini akan keadaan kita. Saat ia melihat anaknya merenung ataupun bersedih, dan dia hanya bisa menatapnya dari kejauhan karena kita yang tak ingin didekati.

Namun ibu kita bukan orang yang pantang menyerah membahagiakan kita, ia pun mencari tahu lewat teman-teman kita, sahabat-sahabat kita. Atau sang ibu pun dengan antusias melihat kehiudupan kita di dunia maya. Melihat status-status terakhir yang kita tulis di media sosial, membaca dengan seksama komentar-komentar kita dengan para teman. Namun sayangnya tak sedikit dari kita yang justru menyembunyikan akun media sosial kita dari sang ibu.

Ibu kita memang sering bertanya, dari kita kecil hingga kita sudah memberikan cucu padanya pun sang ibu dengan senang hati menanyai kita. Mungkin sang ibu akan selalu rindu dengan masa kecil kita. Saat kita dengan antusias menceritakan apapun yang kita alami. Kita bercerita di pangkuannya tentang kejadian-kejadian sekecil apapun yang kita alami. Dengan mengelus kepala kita dengan penuh rasa sayang. Sang ibu mendengarkan cerita kita yang sepele sekalipun.

Saat kita menceritakan bagaimana kita tadi terjatuh kala didorong teman kita si A. Bercerita bahwa kaki kita lelah karena kejar-kejaran dengan si B. Bercerita tentang bahwa tadi melihat seekor kucing yang bersembunyi di kolong meja. Atau menceritakan mainan-mainan kita walaupun kita mengulangi cerita itu berkali-kali. Pastilah ibu kita merindukan masa-masa seperti itu.

Mengingat itu semua, ah rasanya kita sebagai anak memang banyak melakukan kesalahan padanya. Pada ibu kita yang sering kali tak kita hiraukan pertanyaan-pertanyaanya. Ya mungkin dari sekarang kita bisa lebih terbuka dengannya, mau menjawab pertanyaan beliau dengan penuh senyum. Walau tak lagi harus minta dipangku oleh beliau, karena kita tentu sudah terlalu berat untuk berada dipangkuannya. Hehehe.

Kita sepatutnya percaya, dibalik semua pertanyaan dari ibu kita. Selalu terselip harapan dan doa dari beliau, doa harapan yang meminta kepada Allah untuk memberikan kebahagiaan dan kemudahan bagi kita. Karena perlu kita ketahui,

“Dibalik semua keajaiban-keajaiban membahagiakan yang seolah mustahil terjadi dalam hidup kita, saat itu pulalah doa ibu kita sebenarnya sedang dikabulkan oleh Allah SWT”