Semua setuju kalau rokok adalah kebiasaan buruk yang dapat mengancam diri sendiri dan orang lain. Bahkan perokok pun mengetahui hal ini. Namun kenapa mereka masih tidak bisa move on dari barang enak namun mematikan itu? Mereka pasti memiliki alasan tersendiri.

Bahkan ada dari mereka yang sebenarnya ingin move on, tapi masih sering gagal. Mungkin ketika para perokok mengalami kejadian dahsyat lah, yang bisa menghentikan mereka untuk mengkonsumsi barang tidak baik itu.

Rasa cinta datangnya tanpa diduga. Sekalipun sebelumnya kita telah memiliki segudang syarat yang kita buat sendiri. Misalnya,

Pacar harus tinggi sekian cm, harus punya hobi fotografi, dan paling penting bukan perokok.

Semua syarat itu akan kalah sama yang namanya cinta tanpa alasan. Pokoknya cinta aja. Mau doi memenuhi syarat atau enggak, kita akan tetep cinta. Kalau ditanya, kenapa bisa suka? Jawabannya enggak tahu. Pokonya suka aja! Mau banyak pertentangan dari pihak-pihak luar mah, tetep go ahead aja! Ini kan cinta kami!

Advertisement

Karena kita sudah mencintainya, yang artinya menerima semua kekurangannya dan siap untuk menjadi orang yang memperbaiki pasangan kita. Bukankah bersama artinya siap membawa kebaikan untuk satu sama lain?

Kalau cowok kita perokok gimana? Si doi belum bisa berhenti dari barang tidak baik itu. Tugas kita adalah tetap mencintainya. Toh kita sudah memilihnya dan mencintainya tanpa alasan. Sambil membantunya move on dari barang tidak baik itu. Tapi bukan dengan paksaan, melainkan karena disadari atau tidak memaksakan sesuatu akan menghasilkan sesuatu yang tidak maksimal.

Sukses dan tidaknya hubungan kita dan doi, bukan dilihat dari berhasil tidaknya doi berhenti merokok. Selama doi tahu kapan dan di mana saja harus merokok, itu sudah baik. Setidaknya ketika bersama kita dan keluarga kita, doi sudah berusaha untuk tidak mengkonsumsi barang tidak baik itu. Kita yang mencintai dia tanpa alasan, pasti akan makin sayang dan bangga melihat usahanya.

Rokok memiliki sifat adiktif dan bisa menimbulkan kegalauan akut ketika tidak mengkonsumsinya. Maka ketika seseorang bisa menahan kecanduan tersebut demi orang yang berarti, bukankah itu usaha yang baik dan patut untuk diapresiasi? Maka dari itu, perokok pun berhak mendapatkan cinta sepenuh hati.

Memiliki pasangan seorang perokok bukanlah hal yang salah. Justru akan menambah pengalaman kita dalam kesabaran. Ya, mencintai harus dengan sabar. Mencintai tanpa alasan adalah cinta yang sesungguhnya. Kita akan termotivasi untuk lebih memperhatikan pasangan kita. Mulai dari sering mengingatkan tentang makanan-makanan yang baik untuk dikonsumsi perokok dan olahraga-olahraga yang baik untuk perokok.

Ini seperti menjadi kekasih sekaligus personal trainer untuk pasangan kita. Seru, bukan? Kita berperan sebagai pacar, sekaligus sebagai konsultan gizi.

Seseorang yang merokok bukan berarti dia tidak mencintai dirinya sendiri. Sebenarnya mereka tahu kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatannya, namun belum mampu terlepas dari jeratan rokok. Di sinilah tugas kita sebagai kekasih yang siap mendampinginya keluar dari jeratan mematikan itu.

Membantunya keluar dari kebiasaan mematikan tersebut tentunya bukan dengan paksaan. Tapi dengan kesabaran dan kasih sayang, layaknya seorang guru yang membantu siswanya dari mengenal huruf sampai pandai membaca. Kesetiaan dan kesabaran kitalah yang nantinya akan membuatnya luluh dan sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan buruknya tersebut.

Yang paling fatal adalah ketika perokok mendapati dirinya terkena penyakit mematikan. Kanker paru, misalnya. Saat itu juga, mereka mau tidak mau harus berhenti merokok kalau masih ingin menikmati indahnya dunia. Bagaimana kalau itu terjadi pada pasangan kita? Pasti kita akan sangat terpukul dan sedih mengetahui hal tersebut. Walau penyakit itu hanya menyerang penderita saja, sebagai orang yang menyayanginya, penyakit itu secara tidak langsung akan menyerang psikis kita.

Tugas kita adalah tetap bersamanya. Jangan sampai meninggalkannya sekalipun. Doi meminta untuk kita pergi darinya, kita harus tetap mendampingi serangkaian pengobatan yang akan dia jalani. Di sini, cinta kita sesungguhnya diuji karena cinta setulus hati adalah bersamanya baik suka dan duka.

Saat doi sakit pun, kita harus membuktikan cinta kita. Kehadiran kita sangat membantu doi secara psikis, walaupun pastinya doi enggak bakal menunjukkan kelemahannya dengan meminta selalu ditenemani. Malah bisa jadi doi melarang kita untuk mendampingi pengobatannya.

Udah lah! Kamu pergi aja, jangan temuin aku lagi!

Tapi percayalah! Sejujurnya dia ingin kita selalu bersamanya. Sekalipun harapan kesembuhannya sedikit sekali, dia ingin selalu bersama orang-orang yang disayangi sampai kesembuhan atau kematian yang akan mendatanginya lebih dahulu.

Mendampingi dengan sabar dan selalu mendoakan yang terbaik adalah satu-satunya ketulusan yang dapat kita lakukan. Bukankah ketika dia sehat, kita begitu mencintainya? Makan ketika dia sakit pun, kita seharusnya memiliki perasaan yang tetap sama: tidak berubah sedikit pun atau seharusnya perasaan kita akan lebih besar. Kita sebagai makhluk Tuhan harus tetap ikhlas menerima semua cobaan yang diberikan Tuhan pada kita.

Dan hal terbaik ketika masalah seperti itu menyapa dalam hubungan cinta kita adalah dengan ikhlas sambil memohon yang terbaik menurut versi Tuhan kita. Sekalipun ketika Tuhan mengambil orang yang kita cintai karena sakit yang diakibatkan oleh rokok, kita harus tetap tabah dan ikhlas. Karena artinya Tuhan sangat mencintai orang yang kita cintai. Tuhan ingin menyembuhkan dia dari semua sakit yang dialami di dunia.

Kita harus tetap ikhlas dan selalu mendoakannya. Bagian terakhir dari kisah cinta yang kita miliki adalah seberapa banyak doa yang dikirimkan untuk memeluk orang yang kita cintai, ketika dia sudah berada di sisi Tuhan.