Begitu banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu, begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu dan begitu banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Tapi semuanya tidak ada satu pun yang bisa kita lakukan, tidak ada yang bisa kusampaikan, entah kenapa setiap melihatmu mulutku tidak bisa berkata-kata. Aku begitu menyesal yang memilih menguburnya didalam hatiku dalam-dalam. Bahkan aku tidak sempat untuk menanyakan pertanyaan sederhana ini, “Ayah apakah kamu menyanyagiku?”

Mungkin waktu itu aku terlalu muda untuk mengerti. Tidak! Aku yang terlalu bodoh untuk mengerti. Tidak bisa melakukan apa yang ingin dilakukan, tidak bisa berkata-kata apa yang ingin disampaikan, bahkan bertanya pun tidak. Sekarang aku sedikit mengerti akan dirimu. Apakah aku terlalu egois untuk menanyakannya lagi? Aku ingin menangih utang darimu yang belum sempat terjawabkan. “Ayah apakah kamu menyayangiku?”

Meskipun kamu tidak bisa memberikan jawabannya lagi, tapi aku percaya bahwa kamu pun menyayangiku sama seperti aku menyayangimu. Maafkan aku yang waktu itu menaruh dendam padamu, aku tidak tahu bahwa kamu melakukannya untuk kebaikanku. Ya, kamu mengajariku bagaimana tentang hidup ini. Waktu itu kamu memang terlihat kejam dan pemarah. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu akan selalu memarahiku. Bahkan kamu sering membuatku iri dengan orang lain. Kamu lebih perhatian kepada yang lain daripada denganku. Kamu pun sungguh jauh berbeda dengan ibu yang begitu perhatian padaku. Tapi bukan berarti kamu selalu kejam padaku. Tidak. Ada kalanya juga kamu berubah menjadi sosok yang lembut dan perhatian sehingga aku merasa terlindungi.

Aku seorang anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seorang ayah. Aku juga ingin seperti anak lain yang setiap harinya selalu diantarkan kesekolah. Tapi kamu memang berbeda dengan ayah pada umumnya. Tidak sekalipun kamu melakukannya. Sifatmu yang begitu membuatku membencimu.

Aku tidak tahu kenapa kamu mempunyai sifat seperti itu. Apakah itu keturunan atau memang kamu sengaja melakukannya. Kamu hanya terus menyuruhku belajar, belajar dan terus belajar. Hanya sedikit waktu yang aku luangkan untuk bermain bersama teman-temanku. Kamu tahu betapa sangat irinya aku waktu itu dengan mereka. Aku merasa terasing karenamu. Bahkan kamu tidak segan untuk melarangku bermain dengan teman-temanku. Kamu memang sangat membatasi pergaulan hidupku.

Advertisement

Tapi setelah kepergianmu, kini aku menyadarinya. Ya aku memang bodoh tidak mengerti apa keinginamu. Sekarang aku benar-benar mengerti kamu melakukannya pasti ada tujuannya. Kamu yang kejam dan pemarah mengajariku untuk mengerti hidup yang keras dan bisa menjadi anak yang lebih baik. Kamu menjadikanku sosok yang kuat. Sikapmu yang dingin mengingatkanku akan kenangan-kenangan kita waktu itu.

Begitu banyak kenangan buruk saat bersamamu, tapi kenangan buruk itu menjadikan kenangan yang indah. Aku memang menyesalinya, tapi percuma sudah terlambat. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Bahkan Tidak ada sepatah katapun yang tersampaikan dari mulutku untukmu. Ayah, aku hanya ingin mengatakan kata maaf dan terima kasih.

Maaf untuk segala perbuatan dan perkataanku selama ini. Aku tidak tau jika itu menyakitimu. Juga terima kasih untuk semua pengorbanan yang kamu lakukan untukku. Terima kasih atas pelajaran hidup yang kamu ajarkan padaku. Itu menjadikan modal hidupku saat ini. Ayah, jangan khawatir. Sekarang kamu bisa bernafas lega, karena aku telah tumbuh dewasa dengan baik. Aku sudah bisa menjaga diri dan keluarga kita. Aku berjanji akan selalu membuat mereka tersenyum.

Waktu itu memang singkat, tapi aku sangat bersyukur karena setidaknya kita bisa bersama menghabiskan waktu singkat itu. Bisa mengenalmu bahkan menjadi ayah bagiku, itu adalah suatu kehormatan bagiku. Aku tahu kamu tidak menunjukkannya padaku, tapi aku percaya kamu menyanyangiku lebih dari apapun di dunia ini. Aku tidak akan mengingat kenanngan buruk itu. Akau akan mengingatmu sosok ayah yang baik dan tangguh. Sosok yang menjadi penyelamatku. Meskipun kita tidak di dunia yang sama tapi aku akan selalu mengenangmu di dalam hatiku selamanya, Ayah.